Shahed Drone SeriesKlik di Atas

Bendung Drone Iran, Australia Kirim Pasokan Rudal AMRAAM dan Pesawat AEW&C Wedgetail ke UEA

Pemerintah Australia resmi mengumumkan langkah strategis untuk memperkuat pertahanan udara Uni Emirat Arab (UEA) di tengah meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah. Australia akan mengirimkan sejumlah besar pasokan rudal udara-ke-udara canggih, AIM-120 AMRAAM (Advanced Medium-Range Air-to-Air Missile), guna membantu UEA mengatasi gelombang serangan drone dan roket yang terus meluas.

Baca juga: Perkuat Taring F-35A dan Super Hornet, Australia Borong 400 Rudal AIM-120 AMRAAM Varian Tercanggih

Langkah ini diambil menyusul laporan bahwa Uni Emirat Arab telah mencegat lebih dari 1.500 proyektil, termasuk drone kamikaze keluarga Shahed, sejak awal operasi Epic Fury. Intensitas serangan yang tinggi tersebut telah menguras stok amunisi pertahanan udara milik negara Teluk tersebut secara signifikan.

Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, menegaskan bahwa bantuan militer ini bersifat defensif. Fokus utamanya adalah menjamin keselamatan warga sipil, termasuk sekitar 24.000 warga Australia yang menetap di UEA dan 115.000 lainnya di kawasan Timur Tengah.

Sebagai bagian dari paket bantuan ini, Angkatan Udara Australia (RAAF) juga mengerahkan satu unit pesawat peringatan dini dan kontrol udara (AEW&C) E-7A Wedgetail. Pesawat canggih ini akan menjalankan misi selama empat minggu untuk memantau ruang udara Teluk dan memberikan koordinasi radar bagi jet tempur UEA, seperti F-16 Block 60 dan Mirage 2000-9E, dalam melakukan intersepsi terhadap ancaman udara.

“Stasiun Radar Terbang” E-7A Wedgetail Australia Mendapatkan Upgrade Koneksi Data via Starlink

Rudal AMRAAM yang dikirimkan merupakan senjata standar blok Barat untuk pertempuran udara jarak melampaui cakrawala (Beyond Visual Range). Rudal ini menggunakan radar aktif (Active Radar Homing). Begitu dilepaskan, rudal ini memiliki kemampuan “Fire-and-Forget”, yang memungkinkan jet tempur segera bermanuver menghindar setelah menembak.

AMRAAM mampu melesat hingga kecepatan Mach 4 dengan jangkauan operasional yang sangat luas (tergantung varian), sehingga efektif untuk menjatuhkan target dari jarak aman, dan dilengkapi dengan fitur “Home-on-Jamming”, yang sangat krusial untuk melacak drone atau target yang mencoba mengacaukan sinyal radar (peperangan elektronik).

Strategi Ekonomi Perang AS: Kontrak 7 Tahun Amankan Stok Ribuan Rudal Tomahawk dan AMRAAM

Meskipun efektif secara militer, penggunaan AIM-120 AMRAAM untuk menghadapi drone murah memicu diskusi mendalam mengenai efisiensi biaya. Para analis sering menyebut situasi ini sebagai strategi “membakar uang” karena adanya ketimpangan harga yang ekstrem antara penyerang dan bertahan.

Secara kalkulasi ekonomi, biaya intersepsi dengan satu unit rudal AMRAAM memiliki nilai berkisar antara US$ 1,2 juta hingga US$ 2 juta (tergantung varian dan paket kontrak). Sementara satu unit drone Shahed-136 buatan Iran diperkirakan hanya berharga sekitar US$20.000 hingga US$50.000.

Menguak Harga Asli Shahed-136: Drone Kamikaze Iran yang Mengguncang Dunia

Bagi pihak penyerang, meluncurkan drone massal (saturation attack) adalah cara efektif untuk memaksa pihak bertahan menghabiskan stok rudal bernilai jutaan dolar hanya untuk menjatuhkan target yang sangat murah. Namun bagi UEA, biaya rudal tersebut dianggap sebagai “asuransi” yang harus dibayar untuk mencegah drone menghantam fasilitas vital yang nilainya jauh lebih besar.

Bantuan dari Australia ini memberikan napas lega bagi pertahanan udara UEA. Dengan tambahan stok AMRAAM dan dukungan intelijen dari E-7A Wedgetail, UEA dapat mempertahankan lapisan perlindungan udaranya sembari terus mengembangkan alternatif pertahanan yang lebih efisien secara biaya, seperti penggunaan kanon otomatis atau pengembangan sistem senjata energi terarah (laser) di masa depan.

Pemerintah Australia memastikan bahwa seluruh personel dan aset yang dikirimkan tidak akan terlibat dalam operasi ofensif langsung ke wilayah Iran, melainkan murni untuk stabilitas dan pengawasan di Teluk. (Gilang Perdana)

Meteor vs AMRAAM: Mana Rudal Udara-ke-Udara Terbaik untuk Rafale dan F-16 Indonesia?