Tag: PT Pindad

Prototipe Howitzer Pindad ME-105, Layakkah ‘Dibangkitkan’ Kembali?

Pertama kali diperlihatkan ke publik pada Indo Defence 2008, meriam howitzer ME-105 yang dirilis PT Pindad langsung membetot perhatian publik. Betapa tidak, inilah sosok meriam tarik pertama yang wujudnya secara nyata berhasil dibuat oleh perusahaan dalam negeri. Saat itu, Indonesia sudah berhasil memproduksi kapal patroli cepat, pesawat intai, panser sampai senapan serbu, namun ironisnya, lini persenjataan artileri seperti seolah terlupakan, terlepas dari upaya produksi munisi yang telah dilakukan oleh PT Pindad selama ini. (more…)

Tanggap Darurat Covid-19, PT Pindad Mulai Produksi Ventilator

Ilustrasi

Seolah mengikuti jejak perusahaan ternama seperti Airbus dan Israel Aerospace Industries (IAI) yang telah memproduksi ventilator atau alat bantu pernafasan, maka BUMN yang biasanya memproduksi alutsista, yaitu PT Pindad, baru-baru ini menyatakan telah sukses memproduksi ventilator dan berencana melepas ke pasar setelah melalui uji sertifikasi dan uji klinis. (more…)

Masih Gunakan Mesin Produksi Tahun Enam Puluhan, Pindad Jual Munisi 5,56mm Rp4.200 Per Butir

Meski belakangan lebih kondang namanya sebagai manufaktur panser, medium tank dan rantis lapis baja. Namun tak bisa dipungkiri, nama PT Pindad lebih dulu dikenal sebagai manufaktur senjata perorangan dan munisi. Dan bila melihat beragam operasi keamanan yang digelar TNI dan Polri, bisa dibayangkan betapa banyak munisi yang dibutuhkan, belum lagi munisi dalam jumlah yang memadai juga diperlukan dalam menunjang latihan di setiap satuan. (more…)

Pindad Rilis Varian Baru PM-3, Tampil Lebih Ergonomis dan Garang

Kilas balik ke pertengahan 2016, PT Pindad saat itu merilis Submachine Gun (SMG) PM-3. Senjata untuk pertempuran jarak dekat atau CQB (Close Quarter Battle) ini hadir dengan meneruskan ‘tradisi’ senapan serbu SS-1, setidaknya terlihat desain popor lipat dan gagang (handgrip) kentara rancangan SS-1. Dari beberapa aspek, PM-3 yang sekilas mirip Heckler & Koch MP5 terasa kurang ergonomis untuk digunakann pasukan khusus. (more…)

Di Filipina, Medium Tank Harimau dan Panser Anoa 6×6 Berganti Nama dan cat

Meski tidak identik, namun akuisisi alutsista, khususnya matra darat antara Filipina dan Indonesia ada sedikit kesamaan, yaitu dihadirkan terlebih dahulu, misalnya untuk kebutuhan defile atau perayaan hari besar, termasuk disini men-cat dengan warna standar, bahkan sampai diberi label nama bernuansa lokal. Meski tak ada jaminan pasti akan diakuisisi, tapi kebanyakan yang lolos tahapan ‘defile’ akhirnya akan diakuisi alias dibeli. (more…)

Diterjang Bird Strike, Tiga Bom BDU-33 di A-10C Thunderbold II Terlepas dari Cantelan

Bukan hanya jadi ancaman dalam dunia penerbangan sipil, bird strike juga menjadi momok tersendiri dalam dunia penerbangan militer. Setelah pada April 2017 diwartakan Sukhoi Su-30MK2 TS-3009 Skadron Udara 11 mengakami bird strike di Lanud Halim Perdanakusuma, dan diharuskan melakukan return to base, maka pada 1 April 2019 lalu, giliran jet tempur spesialis serangan permukaan A-10C Thunderbold II yang mengalami insiden akibat ‘serangan’ sekawanan burung. (more…)

EOS R400S-MK2, Lengkapi Sistem RCWS di Ranpur Pindad Komodo dan Anoa TNI AD

Ranpur Komodo 4×4 dan Anoa 6×6 sudah dikenal sebagai alutsista andalan pada tiga Batalyon Infanteri Mekanis Kodam Jaya, namun selama ini pula kelengkapan persenjataan di kedua ranpur produksi PT Pindad ini belum dapat terpenuhi secara optimal. Dan target pemenuhan unsur kesenjataan pada Komodo dan Anoa 6×6 adalah adopsi senapan mesin pada kubah yang dioperasikan lewat teknologi RCWS (Remote Control Weapon System). (more…)