F-15E Strike Eagle USAF Tampil dengan Livery F-111 ‘Aardvark’, Peringati 40 Tahun Operasi El Dorado Canyon

Ada pemandangan yang tak biasa di apron RAF Lakenheath, Inggris baru-baru ini. Wing Tempur ke-48 (48th Fighter Wing) baru saja meluncurkan satu unit jet tempur F-15E Strike Eagle yang tampil memukau dengan balutan skema kamuflase klasik ala F-111 Aardvark.
Baca juga: Hari ini, 57 Tahun Lalu, Pembom Tempur Bersayap Ayun F-111 Aardvark Terbang Perdana
Livery khusus ini dihadirkan bukan tanpa alasan; ini adalah bentuk penghormatan sekaligus peringatan menjelang 40 tahun Operasi El Dorado Canyon—serangan udara dramatis Amerika Serikat ke Libya pada tahun 1986.
Jet tempur yang mendapat kehormatan mengenakan “baju lama” ini adalah F-15E Strike Eagle dengan nomor seri 91-0311, yang dalam misi kesehariannya dikenal dengan callsign “Karma 52”. Alih-alih menggunakan warna abu-abu standar (Gunship Grey), pesawat ini kini tampil garang dengan kombinasi warna tan dan dua nada warna hijau, persis seperti pola kamuflase yang digunakan oleh armada jet tempur taktis F-111F saat diluncurkan dari pangkalan yang sama puluhan tahun silam.
Skema cat pada F-15E ini juga membawa identitas dari Skadron Tempur Taktis ke-494 (494th TFS). Selain pola warna yang ikonik, pada bagian badan pesawat juga disematkan siluet pesawat F-111 sebagai pengingat akan mesin perang yang pernah menjadi tulang punggung kekuatan udara jarak jauh AS di Eropa.
RAF Lakenheath has unveiled a special paint scheme on one of their F-15E “Strike Eagle” jets to commemorate the 40th anniversary of Operation EL DORADO CANYON back in 1986.
F-15E 91-0311 #AE17AB “Karma 52”
📷 A1C Rilynn Jacobs, US Air Force pic.twitter.com/cUykz6ML3Y
— DefenceGeek 🇬🇧 (@DefenceGeek) April 28, 2026
Namun, bagian paling menyentuh dari unit “Karma 52” ini terletak pada nose art yang dipasang secara khusus. Di sana, tertulis nama Kapten Fernando L. Ribas-Dominicci dan Kapten Paul F. Lorence. Keduanya adalah awak pesawat F-111F yang gugur dalam misi El Dorado Canyon setelah pesawat mereka tertembak jatuh di atas Teluk Sidra. Penyematan nama ini menjadi simbol bahwa jasa para penerbang tersebut tetap abadi meski jet yang mereka terbangkan telah lama dipensiunkan.
Pernah Disiapkan untuk Menyerang Jakarta, Nasib Sebagian Pembom F-111 Berakhir di Pekuburan
Operasi El Dorado Canyon: Misi Jarak Jauh yang Mustahil
Peringatan 40 tahun ini membawa kita kembali pada ingatan bulan April 1986. Saat itu, F-111F dari Wing ke-48 harus menempuh misi pengeboman yang sangat melelahkan karena harus terbang memutar melewati Selat Gibraltar lantaran tidak mendapatkan izin melintas di ruang udara Perancis dan Spanyol.
Misi tersebut menjadi salah satu serangan udara taktis terpanjang yang pernah dilakukan oleh jet tempur berbasis darat, sebuah rekor yang menunjukkan ketangguhan awak dan mesin F-111.
Dengan Kapsul Pelontar, Beginilah Cara Awak F-111C Aardvark Menyelamatkan Diri
Kini, dengan kehadiran F-15E Strike Eagle dalam balutan skema heritage tersebut, Angkatan Udara AS (USAF) seolah ingin menegaskan kesinambungan peran. Jika dulu F-111 adalah sang spesialis serangan darat dengan kecepatan supersonik di ketinggian rendah, kini peran tersebut dilanjutkan dengan sangat apik oleh F-15E Strike Eagle—yang hingga saat ini masih menjadi salah satu platform serangan udara paling mematikan di dunia.
Kemunculan F-15E dengan skema F-111 ini diprediksi akan menjadi daya tarik utama dalam berbagai ajang airshow di Eropa sepanjang tahun ini, sekaligus menjadi pengingat bagi generasi penerbang muda akan sejarah panjang dan pengorbanan yang dilakukan oleh para pendahulu mereka di RAF Lakenheath. (Bayu Pamungkas)
Menakar Plus Minus Skenario Serangan Udara F-111C Aardvark ke Jakarta


