Shahed Drone SeriesKlik di Atas

Gagal Meledak di Situs Nuklir, Iran Lakukan Reverse Engineering pada Bom Penetrator GBU-57 MOP

Dunia intelijen pertahanan global dikejutkan dengan laporan media lokal Iran yang menyebutkan bahwa Teheran telah mengamankan setidaknya 15 amunisi berat milik Amerika Serikat yang gagal meledak (unexploded ordnance). Di antara deretan amunisi tersebut, aset yang paling menjadi sorotan adalah bom penghancur bunker raksasa, GBU-57 Massive Ordnance Penetrator (MOP), yang ditemukan dalam kondisi utuh setelah upaya serangan terhadap fasilitas rudal dan nuklir bawah tanah Iran.

Baca juga: AS Serang Fasilitas Nuklir Iran, Luncurkan 12 Bom Penetrator GBU-57 MOP dari Enam Pembom Stealth B-2 Spirit

Saat ini, ke-15 amunisi tersebut dilaporkan telah dikirim ke “unit teknis dan penelitian” khusus untuk menjalani proses reverse engineering. Langkah ini dipandang sebagai ancaman strategis bagi Washington, karena jika Iran berhasil menguasai teknologi GBU-57, mereka berpotensi menjadikannya komoditas barter dengan Rusia dan Cina untuk mendapatkan teknologi militer tingkat tinggi lainnya.

Secara spesifik, GBU-57 atau MOP adalah “monster” dalam jajaran bom konvensional Angkatan Udara AS (USAF). Memiliki bobot mencapai 13.600 kilogram (30.000 pon), bom ini didesain khusus untuk menghancurkan fasilitas militer yang dibangun jauh di kedalaman tanah dan diperkuat dengan lapisan beton bertulang.

Dibandingkan dengan pendahulunya seperti GBU-28, GBU-57 memiliki ukuran yang jauh lebih besar dan hanya bisa dibawa oleh pembom strategis seperti B-2 Spirit atau B-21 Raider. Keunggulan utamanya terletak pada kombinasi bobot dan hulu ledak yang sangat efisien, di mana bom ini mampu menembus lapisan beton setebal 60 meter (200 kaki) atau tanah sedalam puluhan meter sebelum meledakkan hulu ledak seberat 2.400 kilogram di dalamnya, menciptakan efek gempa lokal yang menghancurkan struktur bunker paling dalam sekalipun.

Selain kemampuan penetrasinya yang mengerikan, GBU-57 dilengkapi dengan sistem pemandu presisi berbasis GPS yang memungkinkannya menghantam titik yang sama secara berulang untuk efek “bor” yang lebih dalam.

Namun, jatuhnya unit yang utuh ke tangan Iran memberikan akses langsung bagi insinyur Teheran untuk mempelajari material casing baja khusus yang digunakan untuk menahan tekanan saat penetrasi, serta mekanisme fuze (pematik) canggih yang mampu membedakan antara lapisan tanah dan ruang kosong di dalam bunker.

Selain Bom Penetrator GBU-57, AS Juga Serang Iran Dengan 30 Rudal Jelajah Tomahawk Block IV dari Kapal Selam

Pengetahuan tentang mekanisme sensor dan pemandu GPS bom ini juga dapat digunakan oleh Iran untuk mengembangkan sistem pengacau (jamming) yang lebih efektif guna melindungi situs-situs strategis mereka dari serangan serupa di masa depan.

Bagi Teheran, penguasaan teknologi GBU-57 bukan hanya soal memperkuat pertahanan domestik, tetapi juga posisi tawar dalam peta geopolitik. Dengan membedah komponen elektronik dan komposisi kimia bahan peledak di dalamnya, Iran dapat meningkatkan kapabilitas industri rudal dalam negeri mereka atau membagikan temuan tersebut kepada sekutu strategis seperti Rusia dan Cina yang juga berkepentingan dalam menandingi dominasi persenjataan udara AS.

Jatuhnya bom pamungkas “pembobol bunker” ini ke tangan lawan menandai babak baru dalam perlombaan teknologi senjata, di mana kegagalan teknis di medan tempur berubah menjadi peluang emas bagi lawan untuk meniadakan keunggulan teknologi Barat. (Gilang Perdana)

Pentagon Ketar-ketir, Sistem AI Cina Klaim Berhasil Intersepsi Sinyal B-2 Spirit Saat Operasi Serang Iran

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *