Standarisasi Rudal Anti Kapal: Malaysia Perkuat Kedah, Lekiu dan Maharaja Lela Class dengan Rudal NSM

Angkatan Laut Diraja Malaysia (TLDM) kini tengah bersiap melakukan lompatan besar dalam meningkatkan daya deteren armada maritimnya melalui rencana ambisius pengadaan sistem rudal anti kapal baru yang terstandarisasi.
Baca juga: Kedah Class Offshore Patrol Vessels: Dalam Waktu Singkat Mampu Menjadi Korvet
Berdasarkan laporan yang pertama kali diangkat oleh media pertahanan lokal Air Times pada akhir Januari 2026, pemerintah Malaysia sedang memfinalisasi rencana untuk mempersenjatai enam unit korvet Kedah class dengan rudal anti-kapal generasi terbaru.
Langkah strategis ini bertujuan untuk mentransformasi kapal-kapal kelas New Generation Patrol Vessel (NGPV), yang selama ini hanya mengandalkan meriam sebagai persenjataan utama, menjadi platform tempur yang memiliki taring di permukaan laut. Penambahan total 24 rudal untuk seluruh armada Kedah class akan mengubah peta kekuatan maritim Malaysia secara signifikan, memberikan kemampuan serang presisi jarak jauh yang sebelumnya tidak dimiliki oleh skadron patroli ini.
Tidak berhenti di Kedah class, gelombang modernisasi ini juga menyentuh dua fregat andalan Malaysia Lekiu class, yakni KD Lekiu (30) dan KD Jebat (29). Kedua fregat ikonik tersebut direncanakan akan segera mengadopsi rudal Naval Strike Missile (NSM) buatan Kongsberg, Norwegia, sebagai pengganti rudal legendaris MM40 Exocet yang telah bertugas selama puluhan tahun.
Well It seems that The Royal Malaysian Navy KD Jebat 29 Frigate has installed a ramp for the NSM anti-ship missile launcher on the ship
not only Kd Jebat but Kd Lekiu are also in the process of installing the NSM Ramp launcher as well, we will update the process later pic.twitter.com/NeWwQbSKoL
— Malaysia Military Review (@JohnMYSreview) January 21, 2026
Langkah ini dipandang sebagai keputusan taktis yang sangat cerdas untuk memperpanjang usia pakai dan relevansi Lekiu class di tengah munculnya sistem pertahanan kapal lawan yang semakin canggih. Jika dibandingkan dengan Exocet lama yang menggunakan radar aktif, NSM memberikan keunggulan mutlak melalui teknologi stealth dan sistem pemandu Imaging Infrared (IIR) pasif, yang membuatnya mampu menyelinap tanpa terdeteksi oleh sensor elektronik musuh hingga saat-saat terakhir sebelum benturan.
Secara teknis, pemilihan NSM sebagai senjata standar baru membawa lompatan kapabilitas yang luar biasa bagi TLDM. Berbeda dengan rudal anti-kapal konvensional, NSM adalah rudal generasi kelima yang mampu melakukan manuver High-G ekstrem dan memiliki kecerdasan buatan untuk membedakan target di tengah lingkungan pesisir yang padat. Kemampuan ini sangat ideal untuk geografi perairan Malaysia yang dipenuhi pulau-pulau kecil.
On the 28th of January 2026.
The government has approved to the arming of all six vessels of the Kedah-class with Naval Strike Missiles (NSM). As of latest, they are awaiting the cost estimate from TLDM for the whole project. https://t.co/CStRzw2kti pic.twitter.com/dA8t9MuhnE
— Justine (@polietzz) January 29, 2026
Dengan rencana pemasangan empat peluncur pada setiap unit korvet Kedah class dan integrasi serupa pada fregat Lekiu class, TLDM sedang membangun keseragaman logistik yang efisien. Standarisasi ini memudahkan dalam hal pemeliharaan, pelatihan kru, serta distribusi suku cadang di seluruh pangkalan angkatan laut mereka.
Dua Korvet Kedah Class AL Malaysia Akan Dipasangi Rudal Anti Kapal NSM
Dengan tuntasnya integrasi ini nantinya, Malaysia diproyeksikan akan menjadi operator rudal NSM terbesar di kawasan Asia Tenggara. Dengan total armada yang mencakup enam unit Maharaja Lela class (LCS), enam unit Kedah class, dan dua unit Lekiu class, jumlah peluncur rudal NSM yang siaga di perairan Malaysia akan melampaui kepemilikan negara-negara tetangga yang juga menggunakan sistem serupa.
Posisi sebagai operator utama ini tidak hanya memberikan keunggulan militer di lapangan, tetapi juga posisi tawar strategis dalam kerja sama pertahanan regional. (Bayu Pamungkas)
KD Lekiu 30 – Flagship Kapal Perang Malaysia dalam Misi Evakuasi AirAsia QZ8501


