Rudal Mini Anti Drone SADM: Jerman Kucurkan 490 Juta Euro untuk Integrasi ke Skyranger 30

Setelah diperkenalkan pada Pameran Dirgantara Internasional (ILA) 2024 di Berlin, kini pengembangan rudal anti drone yang disebut Small Anti Drone Missile (SADM) telah memasuki babak baru, setelah pada 8 November 2025, Parlemen Jerman (Bundestag) memberikan persetujuan untuk proyek SADM dengan estimasi anggaran sekitar €490 juta (US$565 juta).
Keputusan pendanaan ini menggarisbawahi urgensi Jerman dalam mempercepat modernisasi pertahanan udaranya setelah menyaksikan efektivitas drone kecil di medan perang (terutama di Ukraina).
Proyek SADM merupakan respons langsung Jerman terhadap pelajaran yang dipetik dari konflik global, khususnya peran destruktif drone kecil yang murah dan mudah diproduksi (micro/small UAS). Jerman menyadari menggunakan rudal pertahanan udara mahal (seperti Patriot atau IRIS-T) untuk menjatuhkan drone komersial berharga rendah adalah pemborosan sumber daya (economically inefficient).
Rudal SADM dikembangkan oleh MBDA Deutschland (Cabang Jerman dari konsorsium pertahanan Eropa MBDA), yang memasarkan rudal tersebut dengan nama DefendAir.

Seperti halnya sistem hanud Pantsir dari Rusia yang dibekali rudal mini khusus anti drone TKB-10-55, maka SADM akan diintegrasikan sebagai senjata tambahan pada sistem hanud SHORAD (Short Range Air Defence) canggih buatan Rheinmetall yang disebut Skyranger 30 dan akan dipasang pada sasis ranpur Boxer 8×8.
Sebagai catatan, Skyranger 30 mengandalkan senjata utama berupa kanon 30mm yang memberikan pertahanan bergerak yang efektif terhadap ancaman udara pada jarak yang lebih dekat, berkat perpaduan antara daya tembak, teknologi sensor canggih dan kelincahan.

Skyranger 30, yang dikembangkan oleh Rheinmetall Defence, adalah sistem pertahanan udara canggih yang dirancang untuk memberikan perlindungan yang mobile dan efektif terhadap berbagai ancaman udara, termasuk drone, helikopter, dan pesawat terbang rendah.
Sementara tujuan penciptaan SADM adalah menghancurkan drone Kelas 1 (UAS) yang berukuran kecil dan mikro (dengan berat hingga sekitar 150 kg) secara efektif dan cost-effective. Rudal ini dirancang untuk melengkapi Skyranger 30, yaitu kanon otomatis 30 mm, yaitu kanon yang punya jarak tembak efektif hingga sekitar 2-3 kilometer, dan berkat SADM, maka jangkauan tempur efektif Skyranger menjadi sekitar 5 hingga 6 kilometer.

Meski detail spesifiknya dirahasiakan, SADM diperkirakan punya kecepatan sub-sonik hingga trans-sonik. Rudal ini dirancang untuk kecepatan yang cukup untuk mencegat drone yang lincah tanpa perlu berbiaya mahal seperti rudal kecepatan tinggi. Sistem pemandu pun dirancang sederhana dan murah, kemungkinan menggunakan sistem panduan Laser Beam Riding atau Optik/IR berbiaya rendah.
Hulu ledak kecil dengan fragmentasi tinggi, dioptimalkan untuk menghancurkan cangkang drone yang tipis dan sensitif, bukan lapis baja.Untuk mencapai efisiensi biaya, harga per unit rudal SADM dipastikan harus jauh lebih rendah daripada harga drone target, memastikan pertukaran yang menguntungkan secara ekonomi (positive cost exchange).
Jerman Borong Sistem Hanud Rheinmetall Skyranger 30, Dipasang Pada Ranpur Boxer 8×8
Dengan membawa sekitar 9 hingga 12 rudal SADM (DefendAir) di satu menara (turret) Skyranger, ditambah dengan kanon 30mm yang berkecepatan tembak tinggi, satu unit Skyranger berpotensi dapat menghancurkan hingga 30 drone dalam satu serangan tunggal.
Jika fase pengembangan dan pengujian SADM berjalan sesuai rencana, Angkatan Darat Jerman (Bundeswehr) menargetkan agar sistem Skyranger 30 yang dilengkapi rudal SADM dapat mulai beroperasi dan dikirimkan ke unit garis depan pada akhir dekade 2020-an (sekitar tahun 2028–2030). (Gilang Perdana)
Rudal Mini Khusus Anti Drone TKB-10-55 Mulai Perkuat Sistem Hanud Pantsir Rusia
Related Posts
-
Ikuti Jejak US Navy, Kini F-15E dan EX Eagle II USAF Sanggup Gotong Rudal Jelajah Anti Kapal AGM-158C LRASM
1 Comment | Jan 9, 2025 -
Rusia Tuntaskan Pengiriman 24 Unit Sukhoi Su-35 ke Cina
16 Comments | Apr 23, 2019 -
Excalibur Army Perkenalkan “DITA” – Self Propelled Howitzer Terbaru di Kaliber 155mm
19 Comments | Jan 21, 2021 -
Inggris Resmi Pensiunkan Rudal Rapier, Selamat Datang Sky Sabre Air Defence System
13 Comments | Jan 31, 2022



“Keputusan pendanaan ini menggarisbawahi urgensi Jerman dalam mempercepat modernisasi pertahanan udaranya setelah menyaksikan efektivitas drone kecil di medan perang (terutama di Ukraina).”
Drone memang game changer atau pengubah permainan dalam perang modern abad ini, militer negara di dunia (termasuk kita) harus adaptif dan lebih fleksibel dalam menghadapinya, sudah tampak progressnya di kita dalam hal ini tetapi belum cukup pada segmen penangkalnya.
“Jerman menyadari menggunakan rudal pertahanan udara mahal (seperti Patriot atau IRIS-T) untuk menjatuhkan drone komersial berharga rendah adalah pemborosan sumber daya (economically inefficient).”
Perlu ada klasifikasi target yang harus ditindak terutama ROE harus jelas, belajar dari case Laut Merah selain Ukraina, sudah berapa banyak uang yang dibakar dari rudal pencegat yang digunakan untuk menjatuhkan drone-drone berbiaya murah? Evaluasi pula untuk militer kita nantinya 👍
“Seperti halnya sistem hanud Pantsir dari Rusia yang dibekali rudal mini khusus anti drone TKB-10-55, maka SADM akan diintegrasikan sebagai senjata tambahan pada sistem hanud SHORAD (Short Range Air Defence) canggih buatan Rheinmetall yang disebut Skyranger 30 dan akan dipasang pada sasis ranpur Boxer 8×8.”
Setelah Rusia kini Jerman, nanti kemungkinan besar Tiongkok akan memperkenalkan sista yang serupa. Apakah langsung diuji coba ke palagan Ukraina setelah proses pengintegrasiannya selesai? 🤔