Cina Konfirmasi Keunggulan J-10CE: Teka-teki Hanggar Kosong di Ambala dan Gugurnya Mitos Rafale

Tabir misteri yang menyelimuti bentrokan udara hebat di langit perbatasan Asia Selatan pada Mei 2025 akhirnya tersingkap. Melalui pernyataan resmi yang dirilis oleh China State Administration of Science, Technology and Industry for National Defence (SASTIND), Cina secara mengejutkan mengonfirmasi status “Combat Victory” bagi jet tempur andalan mereka, Chengdu J-10CE.
Dalam laporan yang kini mengguncang peta kekuatan dirgantara dunia tersebut, Beijing tidak hanya mengklaim kemenangan mutlak, tetapi juga menegaskan bahwa armada mereka pulang dengan status “Zero Loss”. Pengumuman ini seolah menjadi lonceng kematian bagi supremasi jet tempur Barat di kawasan, menyusul munculnya laporan intelijen yang menyebutkan bahwa setidaknya empat jet tempur kasta tertinggi India, Dassault Rafale, berhasil dirontokkan dalam duel maut tersebut.
Di tengah penyangkalan keras dari pihak New Delhi, para pengamat intelijen berbasis sumber terbuka (OSINT) mulai mengendus adanya anomali yang terjadi di Pangkalan Udara Ambala, rumah bagi Skuadron 17 “Golden Arrows”. Meskipun sensor ketat terhadap citra satelit sering diberlakukan di atas instalasi militer sensitif, para pakar mulai membandingkan pola operasional harian yang biasanya sangat sibuk di pangkalan tersebut.
Bukan “bangkai pesawat” yang menjadi sorotan, melainkan absennya aktivitas rutin. Berdasarkan data intelijen geospasial yang dianalisis pasca-insiden Mei 2025, terlihat pengurangan jumlah jet tempur yang terparkir di apron terbuka secara signifikan.
Pakistan Klaim Jet Tempur Chengdu J-10C Berhasil ‘Jamming’ Rafale Angkatan Udara India, Mungkinkah?
Selain itu, laporan mengenai adanya peningkatan pengiriman kargo logistik yang tidak terjadwal dari Perancis ke Ambala memicu spekulasi besar, Apakah India tengah melakukan upaya perbaikan besar-besaran atau penggantian komponen kritis secara diam-diam?
Analisis “Data-Link Kill”: Strategi di Balik Layar
Keheningan di Ambala ini memperkuat dugaan bahwa J-10CE Pakistan menggunakan taktik “Silent Kill”. Dalam skenario ini, J-10CE diduga bertindak sebagai eksekutor pasif yang menerima data target dari pesawat AWACS Karakoram Eagle. Dengan radar internal dalam posisi mati (silent mode), jet Rafale India tidak mendapatkan peringatan dini bahwa mereka sedang dikunci oleh sistem pihak ketiga.
Chengdu J-10CE Pakistan Dilengkapi Helm Augmented Reality (AR) Generasi Terbaru
Saat rudal PL-15E meluncur dengan kecepatan hipersonik, sistem Radar Warning Receiver (RWR) pada Rafale diperkirakan terlambat merespons. Hilangnya empat unit Rafale secara mendadak dalam satu fragmen pertempuran tanpa adanya klaim balasan yang valid dari pihak India menjadi alasan mengapa narasi “Hanggar Kosong” ini terus bergulir di kalangan komunitas pertahanan global.
Di era perang informasi, keheningan sebuah pangkalan militer terkadang berbicara lebih keras daripada pernyataan resmi pemerintah. (Gilang Perdana)
Chengdu J-10 Bakal ‘Bersanding’ dengan Rafale di Indonesia, Bagaimana Sikap Perancis?



terlepas awacs zdk 03 atau saab erieye yang digunakan pakistan di pertempuran udara singkat itu
logika sederhana aja : jet tempur barat yg dimiliki pakistan cuman f 16 dan mirage iii & mirage 5
sedangkan populasi terbanyak justru jet teknologi china : jf17 thunder, j10 vigorous dragon, chengdu f7 pg
logikanya gak mungkin pakistan ternak awacs saab erieye swedia dalam jumlah banyak jika yang bisa terkoneksi cuman f 16 dan mirage pakistan aja wkwk
negara lain udh punya awacs sedangkan program awacs konoha susah banget di eksekusi ,banyak makelar untuk membuat awacs basis cn 235 yg jatuhnya lebih mahal + makelar sibuk menawarkan jet tempur ke konoha mulu wkwk
jangan sampai ending nya sama kaya harimau hitam medium tank , memaksa r&d sama turki tapi harga nya lebih mahal dan dibuat hanya sedikit wkwk
BFF,
Untuk GlobalEye kita butuh minimal 3 unit dengan cost kira-kira usd 2010 juta (Perancis teken pembelian 2 unit GlobalEye dengan SAAB tahun lalu harga usd 1340 juta).
https://www.indomiliter.com/shaanxi-zdk-03-dirancang-khusus-untuk-pakistan-inilah-aewc-pendukung-jf-17-thunder-dan-chengdu-j-10c/
@Yor: Sebenarnya Pakistan memiliki kedekatan dengan Cina lebih dikarenakan keadaan dan persamaan, yaitu konflik berkepanjangan dengan India
Daat ini baik Pakistan maupun India ingin membatasi ruang gerak India
Pakistan dan Cina memiliki benefit, Pakistan dapat memiliki alusista dari Cina dan Cina mendapatkan keuntungan ekonomi dari hasil kerjasama dengan Pakistan
Hal tersebut membuat India selalu memborong alusista dari luar secara masive
Kekalahan India lebih disebabkan oleh faktor intelejen India yang payah, sehingga tidak mengetahui arsenal milik Pakistan
India kecolongan karena ternyata Pakistan memiliki PL-15 dan mengenai AWACS berita di dunia maya banyak memberitakan ZDK-03 terbang ketika konflik dengan India yang mengakibatkan beberapa pespur India rontok
Bahkan media Pakistan memberitakan salah satu pespur Pakistan rontok akibat terkena SAM dari payung udara milik Pakistan hasil memboyongnya dari Cina
Tidak semua daftar belanja tercatat di SISPRI dan terkadang juga suatu negara mendapatkannya melalui bawah tangan meskipun G to G
Hal tersebut sering dilakukan oleh negara super power yang ingin mempertahankan dominasinya di suatu negara
Seluruh armada ZDK-03 (4 unit) dilaporkan telah berhenti beroperasi sebagai pesawat peringatan dini (AEW&C) mulai awal tahun 2024. Pesawat-pesawat ini dipensiunkan setelah hanya sekitar 12 tahun bertugas karena masalah pemeliharaan dan ketidakcocokan sistem radar Tiongkok dengan jaringan pertahanan udara Pakistan yang banyak menggunakan teknologi Barat.
Pengalihan Peran (Konversi): Alih-alih dihancurkan, platform pesawat Shaanxi Y-8 yang menjadi basis ZDK-03 dilaporkan dikirim kembali ke Tiongkok untuk dikonversi menjadi platform perang elektronik (Electronic Warfare/EW) dan pengacak sinyal (jamming) jarak jauh.
Penggantian Armada: Pakistan secara aktif mengganti kapasitas yang hilang dengan menambah armada Saab 2000 Erieye dari Swedia. Hingga pertengahan 2024, Pakistan dilaporkan telah mengoperasikan total 9 unit Saab 2000 Erieye.
Untuk penggunaan AWACS Pakistan di konflik itu masih simpang siur merk apa min? Harus konfirmasi dulu? Apalagi AWACS buatan China katanya udh dipensiunkan?
Di artikel admin, merk AWACS yang digunakan Pakistan Karakoram eagle?
Karakoram Eagle (ZDK-03)
Karakoram Eagle adalah pesawat Airborne Early Warning and Control (AEW&C) milik Angkatan Udara Pakistan (PAF) yang dikembangkan oleh Tiongkok
Berdasarkan laporan bukankan ada indikasi Pakistan sudah alih fungsi AWACS buatan China nya min? katanya perform nya jelek dan Pakistan lebih pilih saab erieye swedia
Jadi yang benar yang mana min?
Bukankah AWACS buatan swedia bisa di integrasikan ke f16 Pakistan, jf17 dan j10 Pakistan?
Komentar saya sebelumnya terbukti ya min?
“10CE diduga bertindak sebagai eksekutor pasif yang menerima data target dari pesawat AWACS Karakoram Eagle. Dengan radar internal dalam posisi mati (silent mode),”
Keunggulan punya AWACS adalah situasional awareness meningkat dan jet tempur bisa lebih aman karena tidak perlu mengaktifkan radar itu meningkatkan stealth jet tempur tersebut
Selain itu jet tempur bisa tahu lebih dulu karena panduan dari data AWACS, soalnya jangkauan radar AWACS tentu lebih luas dibanding radar yang tertanam di hidung jet tempur?
Korban dari pertempuran juga udah terbukti yaitu RAFALE, kemungkinan RAFALE tidak terintegrasi dengan AWACS India dan dalam konflik itu RAFALE kemungkinan murni hanya menggunakan kemampuan nya sendiri
Sedangkan jet tempur lain di konflik itu kemungkinan sudah ter integrasi dengan AWACS bisa dilihat dari sedikit nya korban selain RAFALE 🤣
Indo masih mau borong jet tempur tanpa AWACS 🤣jadi sasaran empuk musuh donk🤣
@Tukang Ngitung : Pakistan win karena dapat memaksimalkan Saab 2000 Erieye dan ZDK-03 + rudal BVR PL-15 ditambah satelit militer
Karena doktrin militr Republik Indonesia adalah bertahan, perkiraan saya memiliki 4 unit E2D Hawkeye ataupun 4 unit Saab Globaleye sudah cukup
Lagipula pespur kita jika keluar paling jauh ke Ausie untuk bermain bersama di ajang Pitch Black
Jika membahas militer Cina, hampir dapat dipastikan semua sistem pendukungnya sudah baik
Lalu sedikit atau banyak Pakistan juga mengikuti Cina
Kemenangan pespur J-10 milik Pakistan lebih bersifat persiapan teknis yang matang dari investasi panjang Pakistan
Pakistan memiliki satelit militer, AWACS dan juga rudal BVR
Meskipun doktrin militer Indonesia bersifat bertahan, tetapi tanpa dukungan lengkap seperti satelit militer, AWACS dan juga rudal range BVR diatas kertas dapat mengurangi persentase kemenagan secara signifikan dari pespur yang TNI AU
Untuk Indonesia sangat disayangkan jika hal ini dibiarkan dalam waktu yang lama, karena dengan dukungan satelit militer, AWACS dan rudal BVR selain akan menigkatkan ratio kemenagan yang lebih tinggi, juga efesiensi untuk semua matra
China emang setrong bingitz
Presiden Trump aja udah konfirmasi 8 jet India jatuh ditembak tapi ga dirinci merek apa saja
Ya tinggal beli AWACS atau AEW&C atau semacamnya lah.
Kalo mau itu E2D Hawkeye beli langsung 8 biji. Estimasi harga sekitar usd 2,6 billion per 8 biji.