Analisis Laboratorium Ukraina: Rudal Balistik KN-23 dan KN-24 Korea Utara Gunakan Teknologi Berusia 50 Tahun

Perang di Ukraina menyingkap tabir rahasia di balik alutsista tertutup milik Korea Utara. Berdasarkan studi laboratorium terbaru yang dirilis oleh Kementerian Pertahanan Ukraina terhadap puing-puing rudal balistik berbahan bakar padat KN-23 dan KN-24, ditemukan fakta bahwa meskipun rudal tersebut mampu mencapai target, teknologi produksinya dianggap tertinggal hingga 50 tahun.
Para ilmuwan militer Kyiv mencatat bahwa kualitas penyolderan pada sirkuit rudal tersebut menggunakan metode usang yang sudah ditinggalkan dalam industri militer modern. Meski begitu, penggunaan metode “kuno” ini justru menjadi solusi bagi Korea Utara untuk tetap memproduksi senjata di tengah sanksi internasional yang mencekik.
Secara teknis, laporan tersebut menyoroti perbedaan signifikan antara rudal Korea Utara dengan mitranya dari Rusia, Iskander-M. Meskipun KN-23 (Hwasong-11A) dan KN-24 (Hwasong-11B) sering dianggap sebagai kembaran Iskander, analisis Ukraina menunjukkan bahwa Pyongyang sebenarnya melakukan “modifikasi mandiri” dari cetak biru awal Iskander.
Salah satu temuan krusial adalah efisiensi bahan bakar yang rendah, yang memaksa Korea Utara merancang mesin 50 persen lebih besar untuk bisa mencapai jarak jangkau yang sama dengan rudal Rusia. Selain itu, untuk mengatasi panas ekstrem saat terbang (re-entry), Pyongyang menggunakan material grafit pada bagian ujung rudal—sebuah solusi murah namun efektif dibandingkan material komposit modern.
Spesifikasi Misterius, Korea Utara Tampilkan ‘Copy-an’ M142 HIMARS dalam Parade Militer di Pyongyang
Aspek lain yang menarik adalah ketergantungan Pyongyang pada komponen sipil global. Unit kontrol pada rudal KN-23 dan KN-24 ditemukan mengandung cip dan komponen elektronik komersial dari merek-merek terkemuka asal Cina, Jepang, Swiss, Inggris, hingga Amerika Serikat. Intelijen militer Ukraina (GUR) meyakini bahwa penggunaan barang-barang off-the-shelf ini adalah taktik cerdik untuk mengakali sanksi global.
Namun, penggunaan komponen non-militer ini dibayar mahal dengan tingkat keandalan yang rendah; otoritas Ukraina melaporkan bahwa setidaknya setengah dari rudal KN-23 yang ditembakkan ke arah Kharkiv meledak di udara sebelum mencapai target karena masalah akurasi dan kegagalan sistem.
Hingga awal 2025, Korea Utara diperkirakan telah mengirimkan sedikitnya 148 rudal balistik ke Rusia. Bagi militer Ukraina, identifikasi rudal ini dilakukan melalui pencocokan skema dari Korea Selatan serta foto-foto pabrik di Pyongyang, termasuk pengenalan diameter rangka spesifik yang hanya digunakan oleh Korea Utara.
Fenomena ini memberikan pelajaran bagi pengamat alutsista global bahwa di balik teknologi yang dianggap “kuno” dan tidak akurat, kuantitas masif dan keterlibatan langsung dalam medan tempur memberikan data operasional yang sangat berharga bagi Pyongyang untuk menyempurnakan generasi rudal mereka selanjutnya. (Gilang Perdana)
Korea Utara Uji Peluncuran Rudal Balistik Jarak Pendek Hwasong-11D – Versi ‘Kecil’ dari Rudal KN-23


