Shahed Drone SeriesKlik di Atas

Susul Helikopter NH-90 dan Tiger, Australia Kini Putuskan Pensiun Dini Pesawat Angkut C-27J Spartan

Setelah sebelumnya mengejutkan publik dengan keputusan pensiun dini helikopter angkut multirole NH-90 Taipan dan helikopter serang ARH Tiger karena masalah operasional, Pemerintah Australia melalui dokumen 2026 National Defence Strategy resmi mengumumkan penarikan dini seluruh armada pesawat angkut sedang C-27J Spartan milik Angkatan Udara Australia (RAAF).

Baca juga: Dikenal Sebagai Helikopter Canggih, Nasib NH-90 (MRH-90 Taipan) Justru ‘Tamat’ di Australia, Ini Sebabnya!

Keputusan ini merupakan bagian dari pengalihan anggaran sebesar AU$5 miliar dari program-program saat ini menuju kapabilitas baru yang dianggap lebih krusial. Pesawat angkut buatan Alenia (Italia) ini sedianya akan digantikan oleh armada pesawat komersial guna mendukung transportasi personel dan logistik di seluruh wilayah Pasifik. Hal ini menandai akhir perjalanan Spartan di Australia yang tergolong singkat, di mana unit perdana baru tiba pada 2015 dan unit terakhir dari total 10 pesanan baru diterima pada 2018.

Masalah keberlangsungan operasional atau sustainment menjadi duri dalam daging bagi armada Spartan Australia. Sejak diperkenalkan, pesawat ini dilaporkan menderita tingkat kesiapan (availability rates) yang buruk akibat kendala rantai pasok dan biaya perawatan yang membengkak.

Situasi tersebut memaksa Australian Defence Force (ADF) pada tahun 2021 untuk mengubah fokus peran Spartan hanya untuk misi kemanusiaan dan penanggulangan bencana (HADR), alih-alih mendukung penyebaran operasi tempur di luar negeri seperti yang direncanakan saat awal pengadaan.

C-27J Spartan – Pesawat Angkut Taktis Lapis Kedua RAAF, Pernah Jadi Incaran TNI AU

Sebagai pesawat terkecil dalam struktur angkut RAAF—beroperasi berdampingan dengan C-130J Hercules dan C-17A Globemaster III—Spartan dianggap tidak lagi efisien untuk dipertahankan, terutama saat Australia tengah menanti kedatangan 20 unit C-130J Hercules baru dari Lockheed Martin mulai tahun 2028.

Dilihat dari sejarah pengadaannya, C-27J Spartan dipilih Australia melalui skema Foreign Military Sales (FMS) Amerika Serikat setelah berhasil menyisihkan pesaing ketatnya, Airbus C-295, yang dianggap gagal memenuhi sejumlah persyaratan kapabilitas RAAF kala itu. Meski memiliki keunggulan teknis berupa kemampuan lepas landas dan mendarat di landasan pendek (STOL) serta kesamaan mesin Rolls-Royce AE 2100-D2A dengan Super Hercules, kompleksitas logistik global sistem ini rupanya menjadi beban bagi anggaran pertahanan Australia.

Ibarat CLBK, Australia Order 40 Unit Helikopter UH-60M Black Hawk Senilai US$1,96 Miliar

Fenomena “buang alutsista” di atas mempertegas tren Australia yang lebih memilih beralih ke platform buatan Amerika Serikat yang memiliki kepastian dukungan logistik lebih mapan, serupa dengan penggantian NH-90 Taipan ke UH-60 Black Hawk.

Meski jadwal pasti penarikan tugasnya belum diumumkan, unit-unit C-27J Spartan milik RAAF yang berusia masih sangat muda ini diprediksi akan menjadi komoditas panas di pasar pesawat bekas. Mengingat performanya yang andal dalam misi taktis dan bantuan bencana, banyak angkatan udara di kawasan regional maupun global yang kemungkinan besar berminat untuk mengakuisisinya.

Namun, proses penjualan tersebut dipastikan tidak akan sederhana, karena memerlukan izin ekspor dan persetujuan transfer teknologi sensitif baik dari pihak manufaktur di Italia maupun dari Pemerintah Amerika Serikat selaku pihak yang memfasilitasi penjualan awal melalui skema FMS. (Bayu Pamungkas)

Arab Saudi Jadi Launch Customer C-27J Spartan MPA: Predator Maritim Baru Leonardo

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *