Pasca Insiden Tabrakan, Cina Kirim Dua Kapal Riset ke Laut Filipina Barat, Salah Satunya USV yang Bisa Bawa Lusinan Drone

Ada perkembangan menarik pasca tabrakan antara kapal Penjaga Pantai Cina (China Coast Guard/CCG) 3104 dengan kapal perusak (destroyer) Angkatan Laut Cina Type 052D Guilin 164 di Laut Filipina Barat (sekitar Scarborough Shoal) pada 11 Agustus 2025. Di wilayah yang disengekatan tersebut, rupanya Cina kembali hadir, namun bukan dengan kapal perang bertonase besar, Beijing justru mengirim dua kapal riset kelautan.
Seperti dikutip South China Morning Post – scmp.com (20/8/2025), setidaknya dua kapal riset Cina telah beroperasi di sekitar Scarborough Shoal, sementara sebuah kapal Penjaga Pantai Filipina berpatroli di wilayah sengketa Laut Cina Selatan.
Menurut informasi dari Automatic Identification System yang berbasis satelit, Xiang Yang Hong 10, sebuah kapal riset kelautan yang dioperasikan oleh Kementerian Sumber Daya Alam Cina, telah beroperasi di dekat terumbu karang tersebut sejak 15 Agustus . Selain itu, ada kapal riset lain, yakni kapal riset tanpa awak (otonom) Zhu Hai Yun, bergabung dengan Xiang Yang Hong 10, sejak 18 Agustus 2025.
Hingga Selasa malam, kedua kapal masih berada di selatan beting dan berdekatan, menurut informasi satelit dari situs web pelacakan sumber terbuka vesselfinder.com.
🚨Two 🇨🇳#PRC research vessels now operating at disputed #ScarboroughShoal👀
📍Xiang Yang Hong 10 deep-sea research ship arrived 15 Aug
📍Zhu Hai Yun autonomous mothership–can deploy 50+ air, surface & subsea drones–arrived 18 AugBoth operating south of the shoal. Dual… https://t.co/pT94ujNx4L pic.twitter.com/q8bM6biByz
— Ray Powell (@GordianKnotRay) August 20, 2025
Sementara itu, kapal penjaga pantai Filipina, BRP Cape San Agustin, berpatroli di timur beting pada hari Jumat dan Sabtu, dan kembali lagi pada hari Senin. Scarborough Shoal menjadi salah satu titik panas utama dalam sengketa berkepanjangan kedua negara di Laut Cina Selatan.
Xiang Yang Hong 10
Xiang Yang Hong 10, adalah salah satu kapal yang kerap menjadi sorotan internasional karena aktivitasnya. Kapal ini seringkali beroperasi di perairan yang disengketakan dan zona ekonomi eksklusif (ZEE) negara lain.

Secara resmi, Xiang Yang Hong 10 adalah kapal penelitian ilmiah kelautan. Tujuannya adalah untuk melakukan survei dan pengumpulan data di laut dalam. Namun, aktivitasnya di wilayah yang sensitif secara geopolitik sering kali memicu kecurigaan bahwa data yang dikumpulkan memiliki tujuan ganda, termasuk aplikasi militer untuk pemetaan dasar laut dan hidrografi. Pemerintah Cina secara konsisten menyatakan bahwa kegiatan kapal ini murni untuk tujuan damai dan berkontribusi pada pengetahuan ilmiah tentang lautan.
Dibangun oleh galangan kapal Zhongou Shipbuilding di Wenzhou, Xiang Yang Hong 10 diluncurkan pada tahun 2014. Dari spesifikasi, Xiang Yang Hong 10 punya panjang 93 meter, lebar 17 meter dan berat kotor: 4.502 ton.

Sebelum ini, Xiang Yang Hong 10 juga diketahui melakukan perjalanan ke Samudera Hindia, yang memicu keprihatinan dari negara-negara seperti India dan Sri Lanka. Aktivitasnya di perairan tersebut, meskipun diklaim sebagai penelitian, dipandang sebagai upaya untuk memperluas kehadiran maritim Cina.
Zhu Hai Yun
Ini merupakan kapal permukaan tanpa awak – Unmanned Surface Vehicle (USV), yang dibangun Huangpu Wenchong Shipyard, bagian dari China State Shipbuilding Corporation di Guangzhou,.
Zhu Hai Yun adalah kapal tanpa awak bertonase besar yang disokong teknologi kecerdasan buatan artificial intelligence dengan sebagian besar komponen merupakan produksi dalam negeri.
Cina Luncurkan “Zhu Hai Yun” – Kapal Tanpa Awak Bertonase Besar yang Bisa Lepaskan Drone
Zhu Hai Yun yang diluncurkan di Zhuhai pada 18 Mei 2022, disebut dapat dikendalikan dari jarak jauh dan bernavigasi secara mandiri di perairan terbuka. Hebatnya, Zhu Hai Yun dirancang untuk membawa dan merilis lusinan drone, kapal selam tanpa awak dan kapal lain untuk melakukan penelitian laut.
Meski begitu, Zhu Hai Yun bukan kapal militer, pasalnya kapal ini dioperasikan oleh Southern Marine Science and Engineering Guangdong Laboratory, dimana kapal ini masuk dalam anggaran proyek Intelligent Mobile Ocean Stereo Observing System (IMOSOS). Cina mengklaim kapal ini dapat digunakan untuk pemantauan lingkungan laut, pencegahan dan mitigasi bencana laut, pemeliharaan ladang angin lepas pantai, dan memberikan informasi kelautan yang akurat.
Cina Operasikan Dua Kapal Induk ‘Mini’ Pembawa Drone, Inilah yang Bikin Taiwan Cemas
Dengan tonase 2.000 ton, kapal riset tanpa awak ini berperan layaknya kapal induk dengan dek yang besar. Dari dek yang luas itu, puluhan drone dapat dibawa dan dilepaskan menggunakan crane otomatis.
Zhu Hai Yun punya panjang 88,5 meter dan lebar 14 meter. Dari aspek performa, kapal tanpa awak yang sedang memasukiu tahapan sea trial ini dapat melaju dengan kecepatan maksimum 18 knots (33 km per jam) dan kecepatan jelajah 13 knots (24 km per jam). (Gilang Perdana)
Related Posts
-
Tangkal Serangan Drone, Perusahaan Vietnam Luncurkan V-EMP/S High Powered Electromagnetic Pulse Countermeasure System
2 Comments | Dec 19, 2024 -
Rusia Beberkan Bukti Baru Atas Serangan Rudal Jelajah AS dan Sekutu ke Suriah
20 Comments | May 2, 2018 -
Kapal Selam Tanpa Awak Israel ‘BlueWhale’ Ikut dalam Latihan Militer NATO di Portugal
No Comments | Oct 2, 2023 -
PT PAL Indonesia Lakukan Peletakan Lunas Unit Perdana Frigat Merah Putih (Arrowhead 140)
29 Comments | Aug 25, 2023



indonesia andai kata mau bikin beginian masih jauh sih, konsep dasar yakni usv saja itu belum bisa buat apalagi yang setingkat ini
Memang kapal penelitian gini dibuat pemetaan dasar laut, pengintaian, dll. Semua hasilnya berujung pada militer, terutama kapal penelitian untuk pemetaan rute operasi bawah laut kapal selam. Kan lucu aja penelitian di laut orang tapi negera yg diteliti ga tau hasil dari penelitiannya, akses data penelitiannya juga ga ada apa ga aneh tuh?
Model bgn di hadapi kapal2 nelayan berkecepatan tinggi, bwa torpedo ringan disembunyikan disamping, saat papasan lepaskan lalu kabur. Pasti kapok.