Setelah 16 Tahun Bertugas di Lebanon, 12 Unit Ranpur Amfibi BTR-80A Korps Marinir Akhirnya ‘Pulang Kampung’

Banyak yang mengira bahwa ranpur (kendaraan tempur) amfibi milik Korps Marinir ini tidak akan kembali lagi ke Indonesia, maklum penugasan ranpur APC beroda ban 8×8 ini begitu lama di wilayah operasi. Namun, ada kabar baik bagi Resimen Kavaleri 1 Marinir (Menkav 1 Mar) yang pada tanggal 10 November 2025, telah menerima kembali 12 unit BTR-80A setelah 16 tahun dioperasikan dalam mendukung misi UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon).

Baca juga: BTR-80A: Monster Amfibi Korps Marinir

Seperti dikutip dari Dispen Korps Marinir, Pasmar 1 (Jakarta). Resimen Kavaleri 1 Marinir menerima kembali 12 unit ranpur BTR-80A yang telah selesai melakasanakan Satgas Misi Perdamaian Dunia di Lebanon. Penjemputan ranpur ini dilaksanakan di Pelabuhan JICT Tanjung Priok, Jakarta Utara

BTR-80 A ini telah melaksankan tugas selama 16 tahun lamanya, dimana sebagai ranpur angkut personel, ranpur ini juga sebagai mobilitas dan sarana tempur di Satgas Perdamaian UNIFIL Lebanon dari Kontingen A sampai dengan Q. Terhitung 16 tahun lamanya BTR-80 A sudah melaksanakan tugas dan perannya dengan baik serta menjaga seluruh personel yang telah bertugas di daerah perbatasan tersebut.

Dengan kembalinya BTR-80 A, Menkav 1 Mar semakin memperkuat kemampuan tempur dan mobilitas pasukan. “Kembalinya BTR-80 A ini akan meningkatkan kesiapsiagaan kita dalam menjalankan tugas-tugas operasi, ujar Komandan Resimen Kavaleri 1 Marinir (Danmenkav 1 Mar) Letkol Marinir Agus Setiyo Budi, M.

BTR-80A secara resmi memperkuat Korps Marinir TNI AL pada 15 November 2002, jumlah yang diakuisisi tidak banyak, yakni hanya 12 unit, yang artinya seluruh armada BTR-80A tidak disisakan satu pun di Indonesia, lantaran kesemuanya dikerahkan untuk misi UNIFIL.

Sebelum reorganisasi Korps Marinir, ke-12 unit panser amfibi tersebut ditempatkan di dua resimen Kavaleri Marinir, yakni di Surabaya dan Jakarta.

BTR-80A Korps Marinir dalam warna putih PBB

BTR-80 dirancang KBP Tula dengan pabrik Arzamas Plant di Rusia. BTR-80 telah diproduksi dalam berbagai varian, produksi perdana dimulai pada tahun 1986 untuk menggantikan versi panser APC sebelumnya, yaitu BTR-60 dan BTR-70. Versi BTR-80A adalah varian ekspor, beberapa varian BTR-80 lainnya seperti BTR-80K (pusat komando lapangan), BMM (ambulans lapis baja) dan SVK (kendaraan angkut meriam kaliber 120mm).

Komponen senjata utamanya yakni kanon 2A72 (kaliber 30 mm dengan daya tembak 330 butir peluru per menit) dan senapan mesin PKT (kaliber 7,62 mm x 39 dengan untaian 2.000 butir peluru berjarak tembak 1500 meter), serta tak ketinggalan enam pelontar granat asap untuk kamuflase tempur.

BTR-80A Korps Marinir saat ditempatkan dalam misi PBB di Lebanon

Kelebihan lain BTR-80A adalah adopsi ban jenis KI-126 yang kebal ditembus peluru kaliber berat, 12,7 mm. Walau pun ban rusak parah, kabarnya tetap tidak kempes hingga 10 jam. Sebagai panser modern, awak dan pasukan dapat terlindung dari bahaya serangan senjata NBC (nuklir,biologi, kimia).

BTR-80A ditenagai mesin diesel YaMZ-238M2 240 PK, kemapuan mesin dapat memacu ranpur dengan kecepatan maksimum 80 km/jam di jalan raya dan 40 Km/jam di medan off road.

Sebagai panser amfibi, panser ini mempunyai sebuah jet air untuk melaju di perairan, secara teori kecepatan di air mencapai 9 Km/jam. Saat menerjang gelombang laut, pandangan pengemudi tak terhalang debur ombak, sebab lempeng baja persegi pemecah ombak terpasang pada bagian halugan. Dan pengemudi bisa tenang mengemudi di laut berkat adanya periskop jenis TNPO-165. (Haryo Adjie)

Ikuti Jejak BTR-80A, 18 Unit Ranpur Pandur 8×8 IFV Akan Dikirim ke Lebanon dalam Misi UNIFIL

6 Comments