Rheinmetall dan MBDA Deutschland Tampilkan Small Anti Drone Missile (SADM) di Skyranger 30

Metode penghancuran drone lewat tembakan rudal masih menjadi pilihan, pasalnya rudal hanud (pertahanan udara) mampu menetralisir laju drone dari jarak jauh. Meski begitu, penggunaan rudal hanud untuk menjatuhkan drone masih menjadi simalakama, pasalnya harga rudal hanud dengan presisi tinggi tak sebanding dengan harga drone yang dijatuhkan.

Baca juga: Jerman Borong Sistem Hanud Rheinmetall Skyranger 30, Dipasang Pada Ranpur Boxer 8×8

Kondisi di atas telah menjadi polemik di antara pengambil keputusan militer, lantaran bila strategi itu terus dijalankan, maka akan membuat tekor dan anggaran pertahanan terkuras untuk meladeni sasaran berupa drone yang harganya hanya ribuan dollar, sementara untuk menjatuhkan digunakan rudal berharga ratusan ribu bahkan jutaan dollar.

Setelah Rusia yang lebih dulu merancang rudal anti drone untuk sistem hanud Pantsir S-1, kini giliran Jerman yang memperkenalkan apa yang disebut sebagai Small Anti-Drone Missile (SADM).

Pada Pameran Dirgantara Internasional (ILA) 2024 di Berlin, Rheinmetall Electronics dan MBDA Deutschland, membentuk kemitraan untuk meningkatkan sistem pertahanan bergerak jarak pendek untuk menghadapi drone. Kedua perusahaan menandatangani Letter of Intent (LOI) yang memfasilitasi integrasi Small Anti Drone Missile (SADM) MBDA ke dalam sistem hanud Skyranger 30 dari Rheinmetall yang dipasang pada sasis Boxer 8×8.

Kolaborasi ini bertujuan untuk mengatasi kesenjangan yang ada dalam kemampuan pertahanan drone dengan memanfaatkan gabungan kekuatan teknologi kedua perusahaan. SADM, yang memanfaatkan teknologi Enforcer, dirancang untuk secara tepat menargetkan dan menetralisir drone berukuran kecil hingga menengah pada jarak yang jauh.

Sebaliknya, Skyranger 30 dilengkapi dengan kanon 30mm yang memberikan pertahanan bergerak yang efektif terhadap ancaman udara pada jarak yang lebih dekat, berkat perpaduan antara daya tembak, teknologi sensor canggih dan kelincahan.

Skyranger 30, yang dikembangkan oleh Rheinmetall Defence, adalah sistem pertahanan udara canggih yang dirancang untuk memberikan perlindungan yang mobile dan efektif terhadap berbagai ancaman udara, termasuk drone, helikopter, dan pesawat terbang rendah. Skyranger 30 dilengkapi kanon otomatis 30 mm dengan laju tembakan tinggi, terintegrasi dengan teknologi sensor canggih untuk deteksi dan pelacakan target yang efisien. Diperkenalkan untuk memenuhi meningkatnya permintaan akan solusi pertahanan udara serbaguna, Skyranger 30 dapat beroperasi di lingkungan yang beragam dan menantang.

Meskipun tanggal pasti produksi dan masuknya SADM tidak dirinci, penempatannya dalam konteks militer menunjukkan bahwa senjata ini telah secara aktif diintegrasikan ke dalam operasi pertahanan dalam beberapa tahun terakhir. Skyranger 30 sangat ideal untuk pengaturan pertahanan udara permanen dan sementara, berkat kemampuan penyebarannya yang cepat dan mobilitas yang tinggi.

Sistem pengendalian tembakan dan operasi jaringannya yang canggih memungkinkannya terhubung dengan sistem pertahanan lain, sehingga meningkatkan efektivitas perlindungan kekuatan militer secara keseluruhan terhadap ancaman udara.

Rheinmetall Rilis Skyranger 30 HEL – Kombinasikan Kanon Hanud, Rudal SHORAD dan Senjata Laser

Kemitraan ini bertujuan untuk mengembangkan kerja sama jangka panjang untuk mengintegrasikan SADM ke dalam Skyranger 30 dan platform lainnya, termasuk desain, produksi, dan integrasi sistem peluncur ke berbagai sistem menara dalam arsitektur sistem digital Rheinmetall. Demonstrasi integrasi ini dipamerkan di stand MBDA di ILA, menyoroti rudal yang dipasang di turret sistem Skyranger 30.

Seperti dalam demo di ILA 2024, peluncur SADM yang terdiri dari sembilan tabung peluncur terintegrasi pada turret Skyranger 30. Sebelum adanya rancangan SADM, rudal yang ditempatkan pada turret Skyranger 30 adalah peluncur rudal hanud Mistral yang juga terintegrasi, namun hanya dengan 2-4 peluncur Mistral.

Small Anti-Drone Missile (SADM)
SADM adalah evolusi ketiga dari rudal anti tank Enforcer yang berpemandu infrared. Desain modular sistem Enforcer memungkinkan berbagai opsi pengembangan di masa depan, termasuk calon ‘keluarga’ amunisi Enforcer untuk aplikasi darat, udara, dan laut. Sistem senjata yang diluncurkan di bahu Enforcer memberikan kemampuan efek presisi rendah terhadap ancaman dari target statis dan bergerak lapis baja ringan, target di balik perlindungan, dan terhadap target jarak jauh juga di lingkungan perkotaan.

Sebagai hasil dari upaya pengembangan MBDA multinasional, Enforcer akan melengkapi kemampuan amunisi terarah ‘Wirkmittel 90’ yang diluncurkan di bahu untuk Angkatan Darat Jerman. Enforcer telah terikat kontrak dengan Jerman sejak Desember 2019. Kontrak tersebut akan memenuhi persyaratan Jerman untuk sistem senjata berpemandu presisi yang ringan, siang/malam, dengan jangkauan efektif lebih dari 1.800 meter. (Gilang Perdana)

Infanteri Jerman Punya MBDA Enforcer, Rudal ‘Anti Tank’ Ringan dengan Desain Ergonomis