Hari ini dalam Sejarah, Frigat USS Stark Lumpuh Diserang Rudal Anti Kapal AM-39 Exocet

Bukan hanya Rusia yang punya pengalaman pahit ketika kapal perangnya disengat rudal anti kapal, jauh sebelum insiden yang menimpa kapal penjelajah rudal RTS Moskva di Laut Hitam, maka Angkatan Laut Amerika Serikat sudah punya pengalaman tak mengenakan yang menimpa frigat USS Stark di Teluk Persia.

Baca juga: Bersamaan dengan RTS Moskva, Kapal Perusak USS The Sullivans Juga ‘Tenggelam’

Persisnya, hari ini yang bertepatan dengan 17 Mei 1987, USS Stark secara tak terduga mampu dilumpuhkan oleh dua rudal anti kapal AM-39 Exocet yang dilepaskan oleh dua jet tempur Mirage F1EQ-5 milik Angkatan Udara Irak. Sebanyak 37 personel AL AS tewas dan 21 lainya mengalami luka-luka.

USS Stark adalah bagian dari Middle East Task Force yang ditugaskan untuk berpatroli di lepas pantai Arab Saudi di dekat perbatasan Iran-Irak. Pada saat itu, Komando Pusat Amerika Serikat mengidentifikasi pesawat penyerang tersebut sebagai pesawat tempur Dassault Mirage F1 Irak.

Namun, laporan kemudian menegaskan bahwa pesawat penyerang adalah pesawat jet bisnis Dassault Falcon 50 yang telah dimodifikasi dengan radar dan cantelan rudal untuk membawa dua rudal AM-39 Exocet untuk operasi anti-kapal. Sang penyerang Mirage F1EQ-5 yang dioperasikan Irak saat itu hanya mampu membawa satu unit Exocet dalam sekali terbang. Irak sebelumnya telah menggunakan jet Falcon yang dimodifikasi dengan tanda sipil untuk melakukan pengintaian fotografi rahasia di Teluk Persia untuk menghindari kecurigaan.

Berdasarkan kronologi, pusat komando di USS Stark awalnya tidak khawatir, pada pukul 22:09 Kapten Glenn R. Brindel memerintahkan seorang radioman untuk mengirim pesan yang berisi: “Pesawat tidak dikenal, ini adalah kapal perang Angkatan Laut AS di 078 (derajat) Anda sejauh dua belas mil. Minta Anda mengidentifikasi diri Anda sendiri.”

Pilot Mirage F1 Irak tidak menanggapi pesan tersebut. Lantas Kapten USS Stark memerintahkan pengiriman pesan kedua, yang tidak ada jawaban. Pada pukul 22:10 Kapten Brindel diberitahu bahwa pesawat Irak telah menargetkan kapalnya, mengunci radar kendali tembakan Cyrano-IV-nya ke USS Stark. Pesawat Irak kemudian menembakkan rudal Exocet pertama 22 mil (35 km) dari kapal, dan Exocet kedua dari 15 mil (24 km). Pilot kemudian berbelok ke kiri dan menarik diri.

Apesnya, radar pencarian (search radar), sistem ESM dan CIWS (Close In Weapon System) pada USS Stark gagal mendeteksi rudal yang masuk. Rudal Exocet pertama menghantam sisi lambung kapal. Meski gagal meledak, bahan bakar roket tersulut dan menyebabkan kebakaran besar yang dengan cepat menyebar ke seluruh pos kapal, gudang, dan pusat operasi tempur kapal.

Selang 30 detik kemudian, rudal Exocet kedua menghantam sisi port. Rudal ini meledak, meninggalkan lubang berukuran 10 kali 15 kaki (3,0 kali 4,6 meter) di sisi kiri frigat. Sistem elektronik untuk rudal hanud Stark padam dan Kapten Brindel tidak dapat memerintahkan anak buahnya untuk membalas tembakan.

Pada momen kritis, Kapten Brindel memerintahkan agar sisi kanan kapal digenangi air agar lubang di sisi lambung kapal tetap di atas air. Ini membantu mencegah Stark tenggelam. Brindel dengan cepat mengirimkan panggilan darurat setelah serangan rudal pertama. Dan itu diterima oleh USS Waddell, yang berada di daerah itu, dan USS Conyngham dengan dua pertiga awaknya bebas di Bahrain. Waddell dan Conyngham tiba untuk memberikan pengendalian kerusakan dan bantuan kepada awak USS Stark.

Super Etendard dan AM39 Exocet.

Meski babak belur dihantam dua rudal AM-39 Exocet, status USS Stark tidak tenggelam. Frigat dari Oliver Hazard Perry Class ini baru dipensiunkan pada 7 Mei 1999 dan di-scrapped pada tahun 2006.

USS Stark punya panjang panjang 138,1 meter dan lebar 13,7 meter, serta dilengkapi 13 peluncur rudal anti kapal Harpoon. Sementara untuk menghadang serangan udara dari jarak menengah, frigat ini punya rudal hanud Evolved Sea Sparrow, setidaknya ada 8 cell peluncur rudal ini yang siap menjadi perisai.

Bila sasaran udara harus dihadapi dalam jarak dekat, kedua frigat masih punya satu pucuk kanon CIWS (Close In Weapon System) Phalanx kaliber 20 mm. Sesuai standar frigat pada umumnya, pada bagian haluan disematkan meriam reaksi cepat OTO Melara kaliber 76 mm.

Sebagai perlindungan jarak dekat untuk sasaran permukaan, setidaknya kedua frigat punya enam dudukan untuk senapan mesin berat kaliber 12,7 mm. Bahkan dari hasil upgrade pada dekade 90-an, kapal perang ini dilengkapi 2 pucuk senapan mesin berat 12,7 mm dalam modul Mini Typhoons RCWS (Remote Control Weapon System).

Baca juga: Sea Skimming, Masih Jadi Momok Menakutkan dalam Serangan Rudal Anti Kapal 

Sementara sang algojo yang kondang sebagai alumni Perang Malvinas, yaitu AM-39 Exocet, punya bobot 670 kg dengan panjang 4,69 meter, diameter 350 mm, melaju dengan kecepatan subsonic, dan punya jarak jangkau sejauh 70 km. (Bayu Pamungkas)

8 Comments