Serang Pos dan Depo Amunisi Kamboja di Perbatasan, Thailand Gunakan Drone Copter dengan Mortir Kaliber 60mm

Aksi baku hancur masih berlangsung antara militer Thailand dan Kamboja di wilayah perbatasan, setelah terekspos pengerahan Main Battle Tank (MBT) dan beragam jenis artileri berat, ada strategi baru dari militer Thailand yang merilis video serangan udara menggunakan wahana drone copter untuk melepaskan amunisi secara presisi ke pos dan depo amunisi pasukan Kamboja.

Baca juga: Lakukan Serangan ke Perbatasan Kamboja, Thailand Kerahkan MBT T-84 Oplot Buatan Ukraina

Dalam video yang dirilis militer Thailand, drone copter yang tipe persisnya belum diketahui, nampak terbang dengan membawa sejumlah amunisi mortir dan melepaskan dari ketinggian rendah ke demo senjata Kamboja, yang mengakibatkan terjadinya ledakan. Drone-drone ini berhasil menyerang depo amunisi Kamboja, menargetkan posisi mortir, senjata logistik, bahkan sistem RM70 Grad dengan daya ledak signifikan.

Dalam unggahan di media sosial, jenis amunisi yang digotong oleh drone tersebut adalah jenis mortir M261 dan M472. Dan berikut paparan singkat mengenai jenis mortir yang diluncurkan oleh drone Thailand dan digunakan dalam serangan terhadap fasilitas amunisi Kamboja.

M261 adalah mortir kaliber 60 mm, jenis High‑Explosive (HE) mortar bomb, yang dikembangkan dan diproduksi oleh Weapon Production Centre Royal Thai Army di Lopburi, Thailand. Umumnya digunakan oleh sistem mortar ringan kaki atau drone bersenjata untuk serangan titik.

Jangkauan dan performa: jarak tembak sekitar beberapa ratus hingga 3–4 km tergantung platform peluncur; berat muatan HE memadai untuk menghancurkan posisi terbuka, supply depot, atau kendaraan ringan.

Sedangkan M472 adalah kaliber mortir juga di 60 mm, versi HE yang serupa dengan M261 namun kemungkinan memiliki modifikasi desain atau peningkatan daya ledak dan jangkauan. Diproduksi dalam lini produk yang sama oleh fasilitas pertahanan dalam negeri Thailand.

Metode drop bom mortir (dijatuhkan secara free-fall) lebih fleksibel daripada penggunaan mortar darat, memberikan dampak langsung dan presisi terhadap target strategis kecil hingga menengah. Fragmen HE dapat menghancurkan kendaraan ringan, peralatan amunisi, dan menyebabkan korban serius pada personel dalam radius 20–30 meter.

Korps Marinir Uji Coba Drone ‘Copter’ Bomber, Ideal untuk Misi Anti Gerilya

Melalui penggunaan drone, mortar ini bisa dijatuhkan tiba‑tiba dari atas, meningkatkan efek shock dan mengurangi reaksi pertahanan musuh.

Meski belum disebut jenisnya, mengetahui drone copter yang digunakan militer Thailand menarik untuk dicari tahu, bila melihat ciri-ciri pada video, nampak konfigurasi oktokopter (8 baling-baling), yang mana terlihat ada empat lengan utama, masing-masing dengan dua motor baling-baling, menunjukkan konfigurasi coaxial-octocopter. Ini lazim pada heavy-lift drone yang digunakan untuk membawa payload berat seperti mortar 60 mm.

Drone pertanian DJI Agras

Frame tampak besar dan kuat, dengan bagian tengah cukup kokoh, menandakan kemampuan membawa beban signifikan, dan berdasarkan visual dan pola penggunaan, drone ini mirip dengan DJI Agras T30/T40 (modifikasi), yakni drone pertanian berat yang dimodifikasi untuk militer. Atau model RAACHO, SkyHunter, atau versi lokal Thailand, dirakit menggunakan frame heavy-lift China (misal Tarrot X8 atau Jiyi).

Drone-drone jenis tersebut memiliki payload hingga 20–40 kg dan mampu menjatuhkan 2–4 mortar 60 mm dalam satu misi. Dan sebelum ini sudah banyak digunakan dalam konflik asimetris dan operasi militer modern di Ukraina, Gaza, Myanmar, dan kini Thailand. (Gilang Perdana)

Revolver 860 – Drone Quadcopter “Pembom” Mortir, Mimpi Buruk Buat Infanteri Lawan

One Comment