Mengenal TULGAR: Helm Pintar Canggih Aselsan untuk Pilot Jet Tempur Stealth KAAN

Ekosistem jet tempur generasi kelima Turki kini semakin lengkap dengan hadirnya teknologi pendukung yang tak kalah canggih dari pesawatnya sendiri. Setelah sukses dengan penerbangan perdana jet tempur stealth KAAN, Aselsan secara resmi memperkenalkan TULGAR, sistem tampilan terpasang di helm (Helmet-Mounted Display/HMD) yang dirancang untuk menjadi “mata kedua” bagi para pilot tempur masa depan.
Baca juga: Chengdu J-10CE Pakistan Dilengkapi Helm Augmented Reality (AR) Generasi Terbaru
Kehadiran TULGAR menandai tonggak sejarah baru dalam kemandirian industri pertahanan Turki, menempatkan mereka dalam jajaran elit negara pengembang teknologi avionic tingkat tinggi.
Sejarah pengembangan TULGAR dimulai dari kebutuhan mendesak Turki untuk memiliki sistem HMD yang terintegrasi sepenuhnya dengan misi sistem nasional jet KAAN dan pesawat latih tempur Hurjet.
Aselsan memulai riset intensif dengan melibatkan para insinyur optik dan sistem digital terbaiknya untuk menciptakan helm yang mampu memberikan kesadaran situasional 360 derajat. Setelah melewati fase pengembangan laboratorium yang ketat, TULGAR menjalani berbagai uji coba integrasi darat dan simulasi penerbangan tingkat lanjut.

Saat ini, sistem tersebut tengah memasuki fase uji terbang operasional guna memastikan stabilitas visual saat pilot melakukan manuver pada kecepatan tinggi dan gaya gravitasi (G-force) ekstrem.
Secara spesifikasi dan kemampuan, TULGAR adalah mahakarya teknologi optoelektronik. Helm ini menggunakan layar proyeksi beresolusi tinggi yang menampilkan data penerbangan, target, dan informasi radar langsung pada kaca pelindung (visor) di depan mata pilot.

Fitur unggulannya meliputi teknologi low-latency yang memastikan tidak ada jeda antara pergerakan kepala pilot dengan gambar yang ditampilkan. Selain itu, TULGAR dilengkapi dengan sensor pelacakan kepala yang sangat presisi, sistem penglihatan malam digital terintegrasi, dan kemampuan untuk menampilkan gambar dari kamera inframerah pesawat secara overlay. Hal ini memungkinkan pilot untuk “melihat menembus” badan pesawat, sebuah fitur kritikal bagi jet tempur generasi kelima dalam pertempuran jarak dekat maupun jauh.
Salah satu hal yang membedakan TULGAR dengan helm pintar buatan Amerika Serikat (seperti helm F-35 Gen III) dan Eropa (seperti Striker II milik Eurofighter) adalah pendekatan pada ergonomi dan integrasi lokalnya. Helm pintar AS dikenal sangat canggih namun memiliki tantangan pada bobot dan biaya pemeliharaan yang sangat tinggi.
Helmet Integrated Imaging System TULGAR, developed by ASELSAN, will be used in the National Combat Aircraft KAAN and ÖZGÜR F-16 Block 30 warplanes. pic.twitter.com/wP5zxv8Hv7
— AM Raad (@Raad_Pak) May 4, 2023
TULGAR dirancang dengan material komposit ringan untuk meminimalkan beban pada leher pilot saat bermanuver berat, tanpa mengorbankan perlindungan balistik. Selain itu, berbeda dengan helm buatan luar negeri yang seringkali memiliki batasan akses perangkat lunak (black box), TULGAR memiliki arsitektur terbuka yang memungkinkan Turki melakukan pembaruan algoritma penargetan secara mandiri sesuai dengan ancaman terbaru di kawasan.
Keunggulan lain yang mencolok adalah integrasi sistem Active Noise Cancellation dan audio 3D yang sangat canggih. Jika helm Eropa masih sering mengandalkan perangkat tambahan untuk penglihatan malam, TULGAR sudah menyatukan sensor tersebut ke dalam struktur helm, sehingga profilnya lebih ramping dan aerodinamis.
Pilot F-16 TNI AU Dilengkapi JHMCS (Joint Helmet Mounted Cueing System), Ini Kecanggihannya!
Hingga saat ini, Aselsan belum merilis angka berat gramasi yang sangat spesifik untuk TULGAR karena statusnya yang masih dalam pengembangan akhir dan pengujian terbang. Namun, berdasarkan standar teknologi HMD generasi kelima yang sekelas dengannya, estimasi Berat diperkirakan berada di kisaran 1,8 kg hingga 2,1 kg.
Aselsan berfokus agar TULGAR memiliki berat di bawah 2,2 kg. Sebagai perbandingan, helm F-35 buatan AS memiliki berat sekitar 2,1 kg, dan itu dianggap sebagai ambang batas maksimal agar pilot tidak mengalami cedera leher permanen saat melakukan manuver pada gravitasi tinggi (9G).
Dengan kemandirian teknologi ini, Turki tidak hanya berhasil melengkapi jet tempur KAAN dengan “indera” yang mematikan, tetapi juga membuktikan bahwa mereka mampu bersaing di level tertinggi teknologi dirgantara global, menantang dominasi produsen HMD tradisional dari Barat. (Bayu Pamungkas)
Presiden Prabowo Terima Helm Pilot Tempur Rafale, Jika Itu Scorpion HMD, Ini Kecanggihannya!


