Rusia ‘Cegat’ Satelit Utama Eropa, NATO Siapkan Teknologi ‘Bodyguard Satellite’

Ketegangan geopolitik antara Rusia dan Barat kini tidak lagi terbatas pada aksi saling cegat jet tempur di perbatasan udara, melainkan telah meluas hingga ke sunyinya luar angkasa. Dalam sebuah fenomena yang disebut sebagai perang bayangan orbital, Moskow dilaporkan mulai melakukan manuver agresif terhadap infrastruktur strategis Eropa.
Baca juga: Perancis Gelar “Aster X,” Latihan Militer Luar Angkasa Pertama untuk Lindungi Satelit
Sepert dikutip Satnews, laporan intelijen terbaru mengungkapkan bahwa satelit-satelit kunci milik negara-negara NATO kini berada dalam pengawasan ketat dan risiko sabotase yang belum pernah terjadi sebelumnya, menandai babak baru dalam persaingan militer di luar atmosfer.
Aktor utama di balik keresahan ini adalah satelit Rusia seri Luch-2 serta unit terbaru Cosmos 2589 dan 2590. Berbeda dengan satelit komunikasi biasa, aset-aset Rusia ini bertindak sebagai “satelit pengintai” yang mampu melakukan manuver jarak dekat yang sangat berisiko.
Berdasarkan data dari firma keamanan Perancis, Aldoria, satelit Luch-2 diketahui mendekati aset geostasioner Eropa dalam jarak hanya puluhan kilometer selama berminggu-minggu. Mayor Jenderal Michael Traut dari Komando Ruang Angkasa Jerman memperingatkan bahwa aksi ini bertujuan untuk mencegat jalur komunikasi militer yang belum terenkripsi secara kuat, sekaligus memetakan titik lemah infrastruktur digital Barat.
Trio Satelit Rahasia Milik Rusia Lepaskan Objek Misterius, Bikin US Space Force Siaga
Ancaman yang dibawa oleh manuver Rusia ini jauh lebih mengerikan daripada sekadar pencurian data. Kekhawatiran terbesar NATO saat ini adalah potensi “pembajakan” fungsional, di mana Rusia diduga mampu mengirimkan perintah palsu ke pendorong satelit target untuk mengubah orbitnya secara paksa. Skenario terburuknya, satelit tersebut bisa diperintahkan untuk melakukan deorbit agar terbakar di atmosfer, atau bahkan diarahkan untuk menabrak aset berharga lainnya guna menciptakan kekacauan sampah antariksa yang permanen.
Menanggapi tantangan tersebut, NATO mulai mengadopsi doktrin pertahanan aktif melalui pengerahan teknologi Bodyguard Satellite atau satelit pengawal. Berbeda dengan satelit induk yang berukuran besar dan statis, satelit pengawal ini dirancang kecil, sangat lincah, dan bertugas sebagai “perisai hidup”.
AS Cemas, Satelit Pengintai Super Canggihnya ‘Dibuntuti’ Secara Ketat oleh Objek Misterius
Satelit-satelit pengawal ini akan melakukan patroli rutin di sekitar aset utama untuk mendeteksi objek asing yang mendekat. Jika ancaman terdeteksi, mereka dibekali kemampuan interupsi elektronik untuk memutus koneksi satelit pengintai lawan, atau dalam skenario ekstrem, melakukan intersepsi fisik guna menghalangi serangan yang diarahkan pada target utama.
Langkah ini mencerminkan pengakuan Barat bahwa luar angkasa kini menjadi wilayah kedaulatan yang harus dijaga dengan kekuatan fisik. Menteri Pertahanan Jerman, Boris Pistorius, menekankan bahwa di tengah ketergantungan masyarakat modern pada jalur GPS dan komunikasi militer, satelit telah menjadi “Tumit Achilles” yang harus dilindungi secara total.
Dengan hadirnya teknologi satelit pengawal, NATO berusaha memastikan bahwa jalur saraf digital dunia tetap aman dari upaya sabotase orbital, sekaligus mengirimkan pesan tegas bahwa ruang angkasa bukan lagi medan pertempuran tanpa pengawasan. (Gilang Perdana)
Rusia Punya Peresvet System – Senjata Laser yang Mampu ‘Membutakan’ Satelit di Ketinggian 1.500 Km



Keren…
Negara luar mainnya sudah jauh…
Kalau kita masih join dengan satelit komersial
Kita sibuk mengurus Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) sehingga melupakan memiliki satelit militer secara mandiri
Untuk satelit militer, kita masih 0 besar dibandingkan negara tetangga ASEAN seperti Singapura, Malaysia, Thailand dan Vietnam
Masa iya sekarang sudah tahun 2026 RI/Persiden/Kemhan belum bisa move on dari proyek pengadaan satelit slot orbit 123 derajat Bujur Timur yang ada di Kementerian Pertahanan (Kemhan) pada tahun 2015