Rusia Luncurkan Rudal Hipersonik Oreshnik Kedua ke Lviv (Ukraina): Kecepatan 13.000 Km/Jam Tak Terbendung Patriot

Ketegangan di Eropa Timur mencapai titik nadir baru setelah Rusia secara resmi mengonfirmasi peluncuran kedua rudal balistik hipersonik terbarunya, Oreshnik, pada Jumat, 9 Januari 2026. Serangan yang menyasar fasilitas strategis di Oblast Lviv, Ukraina Barat, ini membuktikan bahwa Moskow siap menggunakan teknologi militer paling mutakhirnya secara reguler dalam konflik tersebut.
Baca juga: Rusia Umumkan Rudal Balistik Hipersonik Oreshnik di Belarusia dalam Status Siaga Tempur
Rudal tersebut dilaporkan diluncurkan dari wilayah Astrakhan, Rusia Selatan, melintasi ribuan kilometer dalam hitungan menit sebelum menghantam targetnya di Lviv. Pemilihan target di Lviv, yang terletak dekat perbatasan Polandia (anggota NATO), dipandang sebagai pesan diplomatik sekaligus militer yang sangat kuat.
Dengan waktu tempuh yang sangat singkat, kehadiran Oreshnik hanya memberikan waktu peringatan (warning time) sekitar 15 menit bagi pusat-pusat pertahanan di Eropa. Hal ini menciptakan kepanikan strategis karena sistem peringatan dini konvensional nyaris tidak memiliki waktu untuk melakukan prosedur evakuasi atau mitigasi.
Oreshnik bukan sekadar rudal balistik biasa. Rusia mengklaim senjata ini memiliki karakteristik yang melampaui kemampuan sistem pertahanan udara tercanggih milik Barat saat ini, termasuk sistem Patriot. Pada lintasan balistiknya, Oreshnik mampu mencapai kecepatan 13.000 km per jam (Mach 10) atau sekitar 3 kilometer per detik.
Big fire illuminates night skies in Lviv region after Russian Oreshnik strike of Europe’s largest underground gas storage facility. I saw such skies as child in Western Ukraine after gas pipeline explosion dozens kilometers away. There are reports of big gas pressure drop in Lviv… pic.twitter.com/8ofd11pxpB
— Ivan Katchanovski (@I_Katchanovski) January 8, 2026
Gesekan atmosfer pada kecepatan tersebut menciptakan suhu hingga 4.000 derajat Celcius di permukaan rudal, membuat Oreshnik tampak seperti bola api atau “meteor buatan” saat memasuki atmosfer bumi (re-entry).
Menurut pakar militer, kecepatan Mach 10 secara fisik mustahil untuk dicegat oleh rudal pencegat saat ini karena keterbatasan kecepatan reaksi sensor dan rudal hanud yang ada di pasar.
🚨New footage has emerged showing the moment the Oreshnik missile, which has a range of approximately 5,000 km, can carry a nuclear warhead, and reaches speeds of Mach 10 to reach its target from outside the atmosphere, struck Ukraine. pic.twitter.com/5WE0Pv94YV
— Amerika is the homeland of the indigenous🕊️ 🌷 (@Aydn84362352) January 8, 2026
Salah satu fitur yang paling ditakuti dari Oreshnik adalah penggunaan teknologi MIRV (Multiple Independently Targetable Reentry Vehicles). Berbeda dengan rudal satu hulu ledak, Oreshnik membawa beberapa kendaraan re-entry yang dapat menyerang target berbeda secara bersamaan:
Saat mencapai fase akhir, hulu ledak utama akan melepaskan beberapa sub-hulu ledak (MIRV). Masing-masing sub-hulu ledak ini dapat diarahkan ke koordinat yang berbeda di satu wilayah target.
🚨🇷🇺💥🇺🇦NEW: Russia’s Defense Ministry has officially confirmed the use of the Oreshnik ballistic missile in its latest strike on Ukraine.
The confirmation marks a notable escalation in Moscow’s strike profile, signaling the deployment of a previously undisclosed ballistic… pic.twitter.com/cbnegZoi3W
— Defense Intelligence (@DI313_) January 9, 2026
Mengingat kecepatannya yang hipersonik, hulu ledak Oreshnik tidak selalu membutuhkan bahan peledak besar untuk menghancurkan bunker. Energi kinetik dari hantaman benda secepat 3 km/detik sudah cukup untuk menciptakan daya hancur setara gempa bumi lokal.
Dampak bagi Pertahanan Eropa
Penggunaan Oreshnik untuk kedua kalinya ini secara praktis “mematikan” narasi bahwa Ukraina aman di bawah payung pertahanan udara Barat. Dengan target di Lviv, Rusia menunjukkan bahwa seluruh wilayah Ukraina—bahkan yang paling jauh di Barat sekalipun—berada dalam jangkauan destruktif Oreshnik yang tak terbendung.
Negara-negara NATO kini menghadapi tantangan baru dalam mengembangkan sistem pertahanan anti-hypersonic yang lebih canggih, sementara waktu 15 menit yang dimiliki Eropa kini menjadi tolok ukur baru dalam kesiapan perang nuklir maupun konvensional di masa depan.
Reaksi dari markas besar NATO di Brussels sangat tajam. Waktu peringatan (warning time) yang hanya 15 menit dianggap sebagai ancaman langsung terhadap stabilitas keamanan kolektif Eropa. Para pejabat militer senior NATO menyebut bahwa kecepatan Oreshnik secara praktis telah “meniadakan” fungsi dari banyak sistem peringatan dini satelit dan radar yang selama ini menjadi andalan.
#ukraine: Russian and Ukrainian governments have confirmed that Russia struck western Ukraine with the nuclear-capable hypersonic “Oreshnik” ballistic missile overnight, the first time the Oreshnik has been used against Ukraine since late 2024.
Read: https://t.co/I4Er7LJ3JK pic.twitter.com/QeoGjGo4ho
— The American Geographical Society (@AmericanGeo) January 9, 2026
Sebagai respons cepat, Sekretaris Jenderal NATO dikabarkan telah menyerukan percepatan program TWISTER (Timely Warning and Interception with Space-based Theater surveillance), sebuah proyek Eropa yang bertujuan untuk mendeteksi dan mencegat ancaman hipersonik dari ruang angkasa.
Sebagai catatan, peluncuran pertama Oreshnik terjadi pada November 2024 yang menyasar Dnipro di Ukraina. Dengan peluncuran kedua di Januari 2026 ini, Rusia seolah menegaskan bahwa Oreshnik kini sudah masuk dalam tahap produksi massal dan operasional penuh. (Gilang Perdana)



@Dion & iwan pansir : menurut pendapat saya pribadi sebenarnya apapun rudalnya untuk Indonesia adalah dilema
Hal tersebut dikarenakan RI bukan bagian dari negara anggota Missile Technology Control Regime (MTCR)
Jadi apapun jenis rudalnya yang akan di impor ke Indo tetap rangenya dibatasi mentok maksimal di 300 km
Enatah hasil ToT dari C-705 ataupun rudal lainnya, sepertinya untuk pengembangan rudal kita jauh tertinggal, bahkan oleh seperti negara Iran
Kita banyak mengimpor rudal dari A – Z, akan tetapi untuk pengembangan rudal kita seperti jalan di tempat, entah apakah pembelian rudal tersebut tanpa ToT atau apakah ilmuan kita kalah dengan negara berkembang lainnya yang telah menciptakan rudal dengan range diatas 300 km
@iwan pansir : Amerika & NATO tertinggal dalam pengembangan rudal hipersonik
Untuk rudal hipersonic saat ini Rusia & China lebih unggul dari Amerika & NATO
Bahkan pengembangan rudal hipersonic saat ini bukan hanya dikejar oleh negara adidaya ataupun super power, negara Jepang saat ini juga sedang melakukan penelitian rudal hipersonik untuk kemandirian negaranya
Akan tetapi dari pengembangan, varian dan juga jumlah saat ini Rusia dan China memimpin untuk rudal hipersonik dan bahkan Rusia telah memasuki fase penelitian lebih lanjut sebagai bagian mempersiapkan antidot untuk rudal hipersonik
Jika hulu ledaknya pakai nuklir dapat dipastikan pihak negara nuklir NATO sebagian besarnya akan hancur oleh Rusia
Arsenal rudal hipersonic Rusia bukan hanya Oreshnik, masih banyak rudal hipersonik Rusia yang dapat dilengkapi hulu ledak nuklir seperti Zikron, Kinzhal, Avangard dan RS-28 atau Satan II
Dengan varian range dan jumlah dari rudal hipersonik yang di miliki Rusia, NATO & Amerika akan terus merasa khawatir, karena sampai saat ini NATO & Amerika selain tertinggal dalam perlombaan rudal hipersonik dari Rusia dan China, NATO & Amerika belum memiliki antidot yang mumpuni untuk menangkalnya
Negara adidaya memang sudah level hypersonic, tapi untuk kawasan Asteng level supersonic sudah cukup haibat, terbukti pinoy sudah punya Brahmos yg membuat PLA mikir2 sekarang kalou mau iseng lagi ke pinoy😁
KITA…………BANGGA DGN ” ATMACA ” ………dunia udah super dan hyper.
Kita mampu masang YANKHONT di Van Spejk….FREGAT MERAH PUTIH malah ATMACA….GILAAAAAA PEMIKIRANNYA