Update Kesepakatan Arab Saudi-Pakistan: Alasan di Balik Akuisisi Jet Tempur JF-17 Senilai $4 Miliar

Dunia kedirgantaraan militer dikejutkan oleh kabar terbaru yang menyebutkan bahwa Arab Saudi sedang dalam pembicaraan serius dengan Pakistan untuk mengakuisisi jet tempur JF-17C Block III Thunder. Kesepakatan yang diperkirakan bernilai total hingga $4 miliar ini menjadi heboh bukan tanpa alasan. Riyadh saat ini sudah mengoperasikan armada jet tempur kelas berat (heavyweight) papan atas seperti F-15SA Advanced Eagle dan Eurofighter Typhoon yang secara spesifikasi jauh melampaui JF-17.
Berdasarkan laporan Reuters pada 7 Januari 2026, kesepakatan ini memiliki latar belakang ekonomi yang menarik. Pakistan dan Arab Saudi sedang mendiskusikan skema konversi utang menjadi alutsista. Riyadh berniat mengubah deposit pinjaman sebesar $2 miliar yang ada di Bank Sentral Pakistan menjadi pembayaran untuk jet tempur JF-17.
Ditambah dengan pesanan peralatan pendukung senilai $2 miliar lainnya, total proyek ini akan menjadi salah satu ekspor pertahanan terbesar bagi Pakistan. Strategi ini dianggap menguntungkan kedua belah pihak, Pakistan mendapatkan relief ekonomi, sementara Saudi memperkuat pertahanannya tanpa harus mengeluarkan aliran dana tunai baru dalam jumlah besar.
Meskipun JF-17 berada di kelas yang berbeda dari F-15, jet ini memiliki keunggulan yang tidak dimiliki pesawat berat, yakni biaya operasional yang sangat rendah. Menggunakan F-15 atau Typhoon untuk misi-misi patroli rutin atau penyerangan target darat ringan di wilayah konflik seperti Yaman dianggap sebagai pemborosan sumber daya. JF-17C Block III hadir sebagai solusi “High-Low Mix”, di mana jet tempur ringan ini akan menangani misi-misi intensitas rendah dengan biaya terbang per jam yang jauh lebih murah.
Selain itu, JF-17 telah menyandang predikat battle proven. Keberhasilan jet ini dalam konflik perbatasan antara Pakistan dan India (Marka-e-Haq) telah meningkatkan daya tawar dan kepercayaan internasional terhadap performa tempurnya di lapangan.
“Ejekan” Diplomatik terhadap Washington?
Spekulasi yang paling santer terdengar adalah bahwa langkah ini merupakan pesan diplomatik yang tajam kepada Amerika Serikat. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Arab Saudi sangat mendambakan jet tempur siluman F-35 Lightning II. Namun, proses persetujuan (approval) dari Washington selalu terganjal oleh isu keunggulan militer Israel di kawasan dan dinamika politik di Kongres AS.
Dengan melirik JF-17 yang memiliki jejak teknologi Cina, Riyadh seolah ingin menunjukkan kepada Barat bahwa mereka memiliki alternatif lain dan tidak lagi bergantung sepenuhnya pada satu pemasok. Langkah ini merupakan bagian dari visi diversifikasi pertahanan Saudi untuk mengurangi ketergantungan pada sekutu tradisional yang dianggap sering memberikan persyaratan politik yang rumit.
Kecanggihan Block III: Jet Tempur Generasi 4.5
Jangan remehkan JF-17C varian terbaru ini. Block 3 telah dilengkapi dengan radar AESA (Active Electronically Scanned Array) yang mampu mendeteksi banyak target sekaligus, sistem avionik canggih, serta kemampuan membawa rudal udara-ke-udara jarak jauh PL-15 yang sangat mematikan.
Bagi Arab Saudi, JF-17C bukan sekadar “pesawat cadangan”, melainkan instrumen penting yang memberikan fleksibilitas taktis di tengah ketidakpastian dukungan militer dari negara-negara Barat. (Bayu Pamungkas)
Diboyong ke Inggris, Pakistan Bangga Tampilkan Jet Tempur JF-17C Thunder Block III di RIAT 2025



Info yg belum pasti & tidak logis. Barang2 jelek kok dikejar.
Pada dekade 2010-an, Amerika Serikat menolak permintaan Arab Saudi untuk membeli drone tempur seperti MQ-9 Reaper atau MQ-1 Predator.
Lalu beralih ke China
Arab Saudi membeli lebih dari 30 drone jenis Wing Loong I dan Wing Loong II, serta sejumlah drone CH-4B. Pada 2017, dilaporkan terdapat pesanan besar senilai sekitar $10 miliar untuk 300 unit drone Wing Loong
Bagus juga konversi deposit utang jadi alutsista,
Jf-17 sejauh ini sukses di pasar ekspor dibanding pesawat sejenis buatan India seperti tejas
Reputasi dalam pertempuran dengan India bukan satu satu-satunya faktor sih
Melainkan kepercayaan angkatan udara Pakistan yang sebagian besar diperkuat jf-17
Bandingkan dengan India? Tejas cuman diproduksi dalam jumlah sedikit? Itu jelas seperti mereka sendiri gak percaya diri dengan pesawat buatan nya?
Keberhasilan Pakistan di pasar ekspor melalui jf17 thunder bahkan mengalahkan jet tempur sejenis asal China chengdu j-10 yang secara spesifikasi diatas jf-17 ?
Seperti nya disini Pakistan memerankan politik yang sangat bagus, banyak negara butuh teknologi canggih tapi murah dan Pakistan menawarkan solusi yang aman secara politik dengan menawarkan platform jf-17 buatan Pakistan dan akses ke beberapa rudal buatan China dibandingkan beli jet tempur buatan China seperti j-10 yang bisa jadi perhatian Amerika ?
Nice 🤣
Intinya percaya dulu ama produk dalam negeri kalo mau sukses di pasar ekspor?
Harimau hitam kalo belum diproduksi ratusan unit, bakal susah tembus pasar ekspor
Nah loh.
Betul itu. Misi patroli rutin itu butuh pesawat tempur berbiaya rendah. Apalagi untuk negara yang gdp per kapita masih di bawah usd 10 ribu. Patroli rutin itu bukan untuk gagah-gagahan atau bukan untuk gengsi. Arab Saudi aja mau ngirit kok. Oleh sebab itu akuisisilah banyak pesawat tempur ringan. Tuh tengok Korsel. T-50 series punya 60 biji. Atau Brazil yang punya 68 super tucano. Negara-negara yang rakyatnya cenderung nggak nurut itu dan berpenghasilan di bawah usd 10 ribu per tahun per orang perlu pesawat tempur kitiran yang banyak. Murah. Dan tidak banyak dihujat oleh orang yang sok wakil rakyat.
Jadi apa kita perlu beli juga jet JF sulfur ini ?
Hihihi.