Pakistan Raih Kontrak 40 Unit JF-17C Block III Thunder Senilai $4,6 miliar dari Azerbaijan, ‘Berkah’ Duel Udara di Kashmir?

Duel udara di atas Kashmir tak hanya memberikan berkah bagi manufaktur dirgantara dan senjata di Cina, citra positif atas keunggulan produk juga dinikmati oleh Pakistan, khususnya pada produksi jet tempur rancangan bersama Cina-Pakistan, yakni JF-17C Block III Thunder.
Kilas balik ke tahun 2024, saat itu Pakistan lewat manufaktur dirgantara Pakistan Aeronautical Complex (PAC) mendapatkan kontrak ekspor penjualan alutsista terbesar sepanjang sejarah. Persisnya PAC pada Februari 2024 telah mendapatkan kontrak untuk pengadaan 24 unit jet tempur JF-17C Block III Thunder untuk Angkatan Udara Azerbaijan.
Kesepakatan tersebut sudah mencakup pelatihan, dan amunisi. Namun, sebagai varian tercanggih dari keluarga jet tempur JF-17 Thunder, ada kabar bahwa JF-17C Block III pesanan Azerbaijan akan dilengkapi dengan sistem rudal udara ke udara buatan Turki.
Nah, pasca operasi Sindoor pada 7 Mei 2025, ada kabar update terkait pengadaan JF-17C Block III Thunder oleh Azerbaijan, yakni jumlah yang diakuisisi bukan 24 unit, melainkan total mencapai 40 unit.
Dalam konfrontasi udara besar-besaran antara India dan Pakistan di atas Kahsmir yang melibatkan lebih dari 125 jet tempur, Pakistan mengklaim menembak jatuh beberapa jet tempur Rafale, Sukhoi Su-30MKI dan MiG-29 menggunakan rudal PL-15 yang diluncurkan dari jet tempur J-10CE dan JF‑17C Thunder.
Meski tidak ada hubungan langsung antara peristiwa Kashmir dengan keputusan Azerbaijan, mamun kemunculan JF‑17 di konflik nyata seperti Kashmir meningkatkan pandangan pasar terhadap jet tersebut, yang bisa memberi dampak positif tak langsung pada penjualan.
Melalui akun resmi X, Pemerintah Pakistan mengumumkan pada tanggal 6 Juni 2025, bahwa telah dilakukan penandatanganan perjanjian pertahanan senilai $4,6 miliar dengan Azerbaijan untuk penjualan 40 jet tempur JF-17 Thunder, disertai dengan paket investasi senilai $2 miliar. Kesepakatan yang memecahkan rekor ini tidak hanya menandai ekspor pertahanan terbesar Pakistan dalam sejarahnya, tetapi juga menandakan penyelarasan strategis utama antara kedua negara yang telah terus-menerus memupuk hubungan yang lebih dalam selama dekade terakhir.
Keputusan Azerbaijan untuk membeli JF-17 Thunder merupakan bagian dari upaya komprehensif untuk memodernisasi angkatan udaranya setelah pelajaran operasionalnya dari konflik Nagorno-Karabakh tahun 2020.
Dengan mengakuisisi varian tercanggih, JF-17C Block III Thunder, Azerbaijan memposisikan dirinya di garis depan kemampuan tempur udara multiperan generasi keempat, sekaligus menandakan pergeseran yang disengaja dari ketergantungan tradisionalnya pada pesawat buatan Rusia.
[the_ad id=”77299″]
Pembelian tersebut mencerminkan ambisi jangka panjang Baku untuk mendiversifikasi kemitraan pertahanannya, meningkatkan kemampuan pencegahan, dan memperkuat perannya sebagai kekuatan dominan di Kaukasus Selatan.
Proyek JF-17 Thunder, usaha patungan antara Pakistan Aeronautical Complex (PAC) dan Chengdu Aircraft Corporation (CAC) Cina, digagas pada akhir 1990-an saat Pakistan berupaya mengganti inventaris pesawat tempur warisan Perancis dan Cina yang sudah tua.
Bukan Lagi Rumor, Angkatan Udara Pakistan Rilis Program Jet Tempur Masa Depan JF-17 PFX Thunder
Penerbangan pertama prototipe JF-17 dilakukan pada tahun 2003, dan pesawat tersebut secara resmi dilantik ke Angkatan Udara Pakistan pada tahun 2007. Sejak saat itu, lebih dari 150 unit telah memasuki layanan di Pakistan, dan platform tersebut terus ditingkatkan melalui blok-blok berturut-turut untuk memenuhi persyaratan medan perang yang terus berkembang.
Varian JF-17 Block III Thunder merupakan lompatan dalam kecanggihan teknologi. Varian ini dilengkapi radar Active Electronically Scanned Array (AESA), sistem peperangan elektronik (EW) yang canggih, glass cocpit yang sepenuhnya digital dengan tiga layar multifungsi yang besar, dan Head-Up Display (HUD) holografik sudut lebar.
[the_ad id=”77299″]
JF-17 Block III Thunder ini juga dilengkapi dengan sistem penargetan dan tampilan yang dipasang di helm (HMDTS), yang secara signifikan meningkatkan kewaspadaan situasional pilot dan efisiensi tempur.
Dalam hal persenjataan, JF-17 dapat membawa serangkaian amunisi yang beragam termasuk rudal udara-ke-udara jarak jauh PL-15 (BVR AAM), bom berpemandu laser, rudal antiradiasi, dan senjata presisi jarak jauh.
JF-17 Block III Thunder juga mampu mengintegrasikan rudal anti kapal dan rudal jelajah strategis, menjadikannya platform multiperan sejati yang cocok untuk peperangan modern yang berpusat pada jaringan. Dari perspektif ekspor pertahanan, keberhasilan Pakistan dengan program JF-17 mencerminkan kemunculannya sebagai pemain kredibel di pasar senjata global, khususnya di antara negara-negara berkembang yang mencari alternatif hemat biaya untuk platform Barat atau Rusia kelas atas.
Sebelum kesepakatan ini, JF-17 telah diekspor ke Nigeria, Myanmar, dan Irak. Setiap ekspor telah disertai dengan pelatihan, logistik, dan dukungan pemeliharaan yang komprehensif, yang menyoroti ambisi Pakistan untuk membangun ekosistem industri pertahanan yang berkelanjutan. Namun, kesepakatan Azerbaijan belum pernah terjadi sebelumnya dalam skala dan dampaknya, yang meningkatkan status Pakistan sebagai pemasok senjata strategis di luar Asia Selatan. (Gilang Perdana)



Kalau $ 115jt/unit itu termasuk suku cadang dan senjata+biaya pelatihan serta pendukung awacs (seperti milik pakistan)
Maka itu murah…
60% duitnya ngalir k pakistan..sisanya k rusia dan china
Usd 4,6 miliar untuk 40 unit JF-17 ?
4600 juta dibagi 40 = 115 juta per unit.
Mahal.