Ilmuwan Cina Sebut Kepulauan Paracel di Laut Cina Selatan Bisa Jadi “Submarine Kill Zone”, Ini Sebabnya!

Kondisi alam dapat dimanfaatkan guna memberikan keuntungan tersendiri pada strategi militer, terkhusus di Laut Cina Selatan, Kepulauan Paracel disebut bisa menjadi submarine kill zone. Indikasi tersebut muncul setelah adanya insiden yang menimpa kapal selam USS Connecticut (SSN-22) yang menabrak gunung bawah laut di Laut Cina Selatan pada tanggal 2 Oktober 2021.
Saat itu, USS Connecticut menabrak gunung bawah laut yang belum dipetakan, kini lokasi insiden yang nyaris menimbulkan bencana itu mungkin menjadi ‘ladang ranjau’ mematikan untuk pertempuran laut di masa mendatang.
Seperti dikutip South China Morning Post – scmp.com, ilmuwan militer Cina mengusulkan untuk mengubah medan bawah laut yang berbahaya, seperti tempat kapal selam Connecticut mengalami insiden, menjadi kill zone (zona pembunuh) yang dirancang secara strategis, penuh dengan ranjau kuat yang dirancang untuk mengeksploitasi titik buta akustik yang sama, membuat area tersebut begitu berbahaya bagi kapal selam Amerika Serikat.

Dalam sebuah studi baru yang diterbitkan dalam jurnal peer-review Technical Acoustics, para peneliti dari People’s Liberation Army Dalian Naval Academy and Harbin Engineering University (HEU, mengungkapkan bagaimana gunung bawah laut yang terjal di sekitar Kepulauan Paracel – yang dijuluki zona bayangan akustik (acoustic shadow zones) – dapat membantu ranjau cerdas menghindari deteksi dan secara selektif menargetkan kapal selam musuh.
Zona mati sonar (sonar dead zones) ini, sebagian besar berada di sekitar puncak dan lereng bawah pegunungan yang terendam, tempat gelombang suara terpecah, terpantul, atau menghilang sepenuhnya karena topografi bawah laut yang kompleks. Ilmuwan Cina menyebut, area itu merupakan tempat persembunyian ideal bagi senjata bawah laut yang dapat menantang dominasi AS dalam peperangan bawah laut.
Acoustic shadow zone adalah area di lautan di mana gelombang suara yang dipancarkan oleh sonar tidak dapat merambat, atau merambat dengan sangat lemah, sehingga objek di dalamnya, seperti kapal selam, tidak dapat terdeteksi.
Fenomena ini terjadi karena pembelokan (refraksi) gelombang suara akibat variasi suhu, salinitas, dan tekanan air di kedalaman yang berbeda. Gelombang suara cenderung membelok ke arah di mana kecepatannya lebih lambat. Di beberapa kondisi, lapisan-lapisan air dengan gradien suhu yang tajam (disebut thermocline) dapat membelokkan gelombang suara sedemikian rupa sehingga menciptakan “zona bayangan” yang aman di bawahnya.
Lindungi Teritorial, Australia Canangkan Tebar Ranjau Laut Pintar dengan Sensor Akustik
Ranjau modern sering kali dilengkapi dengan sensor akustik pasif yang dapat “mendengarkan” suara kapal selam musuh. Dengan menempatkan ranjau di zona yang secara alami sulit dijangkau oleh sonar musuh, ranjau tersebut dapat beroperasi secara pasif dan menunggu target yang telah teridentifikasi, seperti profil akustik kapal selam tertentu, untuk melewatinya sebelum meledak, tanpa memberikan sinyal apa pun yang bisa dideteksi.
Jadi, sementara kapal selam menggunakan acoustic shadow zone untuk bergerak dan bersembunyi, ranjau laut menggunakannya untuk bersembunyi di dasar laut, memanfaatkan topografi yang menghasilkan zona bayangan untuk menghindari deteksi.
“Penelitian tentang pemilihan lokasi penempatan ranjau dapat membantu mengidentifikasi lokasi optimal di dasar laut, meningkatkan penyembunyian aset yang dikerahkan, dan memastikan aset tersebut sulit dideteksi,” tulis tim yang dipimpin oleh profesor madya Ma Benjun dari HEU, yang membangun kapal selam pertama Cina.
“Menanam ranjau laut tepat di dalam zona mati sonar dapat memainkan peran krusial dalam memastikan keamanan maritim”, tambah Ma dan rekan-rekannya. (Gilang Perdana)
Ranjau Dasar Laut Pengaruh, Jebakan Penghantar Maut Bergaya Torpedo


