Seputar DSEI 2019Klik di Atas

Satuan Kapal Ranjau Koarmada II Latihan Menggunakan “Smart Mine”

(Sumber: Twitter Koarmada2SBY)

Selama ini publik lebih banyak mendengar serangkaian latihan buru dan sapu ranjau yang dilakukan Satuan Kapal Ranjau (Satran) TNI AL. Dengan kapal berkemampuan khusus, misi melibas ranjau jelas adalah kegiatan yang beresiko tinggi. Nah, kali ini ada kabar sebaliknya, yaitu Satran Koarmada II diwartakan melakukan latihan pengoperasian ranjau, ini artinya fungsi ranjau bukan dinetralisir, melainkan ‘dipasang’ untuk kebutuhan suatu operasi.

Baca juga: Setelah Lama Dinanti, Kemhan Resmi Akuisisi 2 Kapal Pemburu Ranjau dari Jerman

Dikutip dari tnial.mil.id, dari 16 sampai 26 Maret 2019 digelar Latihan Pengoperasian Ranjau. Pelaksanaan latihan dilaksanakan secara teori dan diskusi, maupun melaksanakan drill oleh prajurit yang terlibat bersama Puspenerbal, Satuan Kapal Selam dan Arsenal. Komandan Satran Koarmada II Kolonel Laut (P) Bambang Kuncoro mengatakan, jika latihan pengoperasian ranjau yang diselenggarakan kali ini bertujuan agar prajurit Satran Koarmada II memahami dan menguasai karateristik ranjau terbaru TNI AL yang tergolong sebagai Smart Mine.

Dalam latihan ini peserta latihan mempertajam prosedur pelaksanaan penyebaran ranjau melalui wahana Kapal Atas Air (KAA), Kapal Selam (KS) dan Pesawat Udara sesuai karateristik dan kemampuan teknis yang dimiliki oleh ranjau TNI AL tersebut.

cylindrical bottom mine.

Dalam rangka menjaga profesionalisme sekaligus kaderisasi bagi prajurit Satran Koarmada II, khususnya pengoperasian (setting) ranjau yang mutlak harus dipahami oleh prajurit Satran sebagai faktor penentuan dalam Minefield Planning Objectives (MPO) yang akan diterapkan pada sebuah Operasi Peranjauan. Selain itu untuk meyakinkan kemampuan Ranjau TNI AL yang dimiliki saat ini mampu disebar melalui wahana dan alutsista yang dimiliki TNI AL berupa KAA, KS dan Pesawat Udara.

Memang tidak dijelaskan secara detail jenis ranjau yang digunakan oleh Satran, namun merujuk ke label “Smart Mine” alias ranjau pintar, dan ada kesesuaian dengan foto yang dirilis di akun Twitter @Koarmada2SBY, maka besar kemungkinan yang digunakan TNI AL adalah solusi ranjau pintar Minea Smart Naval buatan SAES SA, manufaktur persenjataan dan sensor laut asal Spanyol. SAES pada Indo Defence 2018, diketahui juga ikut berpartisipasi dengan memperkenalkan solusi ranjau latih tersebut kepada pihak TNI.

Salah satu mockup ranjau dari SEAS di Indo Defence 2018.

Lantas seperti apakah kemampuan Minea Smart Naval? SAES dalam situsnya menyebut produknya sebagai ranjau (latih) pintar yang paling canggih saat ini. Ranjau ini salah satunya juga digadang untuk melatih awak kapal penyapu ranjau, seperti mengetahui cara kerja ranjau pintar yang akan berkaitan langsung pada keselamatan kapal.

Minea Smart Naval dirancang dalam dua kebutuhan latihan, yakni berdasarkan kedalaman air laut, karakteristik perairan dangkal dan perairan dalam. Sementara jenis ranjaunya ada tiga, yaitu moored mines, shallow-water mines dan cylindrical bottom mines.

Ranjau pintar ini dapat mengukur berbagai pengaruh kontak karena dilengkapi dengan sensor presisi untuk pendeteksiannya. Sensor digunakan untuk mengukur pengaruh magnetik, listrik, akustik, tekanan, dan seismik (seismik hanya di perairan dangkal). Lepas dari itu, ranjau ini disokong sistem kecerdasan yang mampu melakukan input proses data dari beragam sensor. Hasilnya maka didapat sosok ranjau laut efisien dalam pengoperasian dan lebih aman untuk deteksi sasaran.

Ranjau latih ini juga dirancang untuk dapat di-deploy dari beragam wahana, mulai dari kapal permukaan dan kapal selam. Khusus lewat kapal selam, penyebaran ranjau dilakukan dari tabung peluncur torpedo, persisnya menggunakan jenis cylindrical bottom mine.

Baca juga: Ranjau Dasar Laut Pengaruh, Jebakan Penghantar Maut Bergaya Torpedo

Ranjau ini dirancang aman saat berada di atas kapal, pasalnya ranjau tidak menggunakan elemen piroteknik atau tekanan yang diperlukan untuk mengoperasikannya. Tidak diperlukan prosedur khusus untuk penggunaannya.

Setelah diluncurkan ke laut, ranjau dapat dikendalikan lewat acoustic link. Berkat acoustic link, dimungkinkan untuk mengubah parameter ranjau setelah selama latihan, menghemat waktu pada perubahan konfigurasi. (Gilang Perdana)