35 Tahun Eurocopter Tiger: Dari Debut Gemilang di Langit Perancis Hingga Pensiun Dini di Australia

Tepat hari ini, 27 April 2026, dunia aviasi militer mengenang momen bersejarah yang terjadi 35 tahun silam. Pada 27 April 1991, helikopter serang tercanggih Eropa saat itu, Eurocopter Tiger (PAH-2), untuk pertama kalinya mengangkasa di fasilitas Marignane, Perancis.
Baca juga: Airbus Rayakan 30 Tahun Usia Pengabdian Helikopter Serang Tiger
Dalam penerbangan perdana yang berlangsung selama 30 menit tersebut, prototipe Tiger dikendalikan oleh pilot uji legendaris Etienne Herrenschmidt dan Guy Dabadie. Keberhasilan uji terbang ini menandai lahirnya helikopter serang pertama di dunia yang menggunakan material komposit hingga 80%, sebuah pencapaian teknologi yang jauh melampaui masanya dan menjanjikan kelincahan serta jejak radar yang rendah.
Sejarah pengembangan Tiger berawal dari kebutuhan Jerman Barat dan Perancis akan helikopter anti tank yang mampu membendung kekuatan lapis baja Uni Soviet di Eropa. Secara spesifik, Tiger dibekali dua mesin turboshaft MTR390 yang memungkinkannya melaju hingga kecepatan 290 km/jam.
Keunggulan utamanya terletak pada desain kokpit tandem yang ergonomis, sistem sensor Osiris di atas rotor (pada varian Jerman), serta kemampuan manuver ekstrem yang memungkinkannya melakukan gerak looping. Sebanyak 181 unit telah diproduksi dan dioperasikan oleh Perancis, Jerman, Spanyol, dan Australia dengan senjata andalan kanon 30 mm, roket 70 mm, serta rudal anti-tank seperti Hellfire dan Spike.
Gantikan Helikopter Tiger, AD Jerman Lirik Helikopter Serang AH-64 Apache
Menariknya, di tengah usia yang sudah berkepala tiga, Tiger justru mencatatkan debut operasional yang gemilang dalam misi anti drone terbaru di Timur Tengah. Menanggapi ancaman UAV Iran yang kian masif, Angkatan Darat Perancis mengerahkan empat helikopter Tiger ke Uni Emirat Arab (UEA) pada Maret 2026.
Dalam misi ini, Tiger membuktikan efektivitasnya sebagai pemburu drone (drone hunter) dengan sukses melakukan intersepsi terhadap drone kamikaze Shahed menggunakan kanon GIAT 30M 781 30 mm. Berkat bantuan panduan eksternal melalui Link 16, Tiger mampu merontokkan sasaran yang terbang rendah dan lambat dengan biaya yang jauh lebih ekonomis dibandingkan penggunaan rudal udara-ke-udara milik jet tempur.
Dipilih Perancis dan Spanyol, Airbus Helicopters Jalankan Upgrade Helikopter Serang Tiger MkIII
Namun, kontras dengan kesuksesan Perancis, Angkatan Darat Australia justru mengambil langkah drastis. Berdasarkan 2026 National Defence Strategy, Australia mengonfirmasi akan memensiunkan seluruh armada Tiger ARH miliknya pada akhir tahun ini. Keputusan berpaling dari Tiger disebabkan oleh masalah kesiapan operasional yang rendah dan biaya pemeliharaan yang membengkak, mulai dari masalah sistem navigasi hingga kesulitan pasokan suku cadang. Masalah kronis ini membuat tingkat ketersediaan helikopter sering berada di bawah target minimal militer Australia selama bertahun-tahun.
Apache Mulai Tiba Akhir Tahun, Australia Pertimbangkan Nasib Akhir dari Helikopter Serang Tiger ARH
Sebagai pengganti, Australia telah menjatuhkan pilihan pada AH-64E Apache Guardian buatan Boeing. Alasan utama pemilihan Apache adalah kematangannya sebagai platform tempur yang sudah teruji secara global (combat proven) serta dukungan logistik yang jauh lebih stabil karena populasi penggunanya yang masif.
Bagi Australia, beralih ke Apache adalah langkah pragmatis untuk memastikan kesiapan tempur tanpa terbebani kompleksitas teknis “Si Macan” Eropa. Meski harus pamit dari Negeri Kanguru, pencapaian Tiger di Marignane 35 tahun lalu dan aksi terbarunya di langit Timur Tengah tetap menempatkannya sebagai salah satu mahakarya helikopter serang paling ikonik dalam sejarah. (Bayu Pamungkas)
Australia Pertimbangkan Hibah Helikopter Serang Tiger ARH ke Ukraina


