Shahed Drone SeriesKlik di Atas

Lebih Canggih dari Shahed-136, Inilah LUCAS Drone Kamikaze AS yang Debut Tempur di Venezuela

Dunia militer internasional dikejutkan dengan laporan mengenai penggunaan drone kamikaze oleh Amerika Serikat dalam sebuah operasi tempur nyata. Pada 3 Januari 2026, LUCAS (Low-Cost Uncrewed Combat Attack System), drone kamikaze buatan perusahaan SpektreWorks, diduga telah digunakan untuk pertama kalinya dalam serangan yang menargetkan basis militer Venezuela di Caracas.

Baca juga: Diberi Nama “LUCAS”, Perusahaan Pertahanan AS Luncurkan Drone Kamikaze dengan Desain Mirip Shahed-136

Debut tempur ini menandai pergeseran signifikan dalam doktrin peperangan Amerika Serikat, yang kini mulai mengadopsi penggunaan loitering munition (amunisi presisi yang dapat berputar-putar di udara) berbiaya rendah untuk misi-misi strategis.

Penggunaan LUCAS menjadi sorotan setelah rekaman dan laporan mengenai aksinya beredar luas, memicu diskusi mengenai kemampuan drone “sekali pakai” ini dalam menembus pertahanan udara yang rapat.

LUCAS dirancang oleh SpektreWorks sebagai jawaban atas kebutuhan akan senjata presisi yang murah namun mematikan. Nama “Low-Cost” atau berbiaya rendah bukan sekadar julukan; drone ini memang diciptakan agar dapat diproduksi secara massal dalam waktu singkat untuk menjenuhkan sistem pertahanan lawan (swarming).

Berdasarkan data teknisnya, LUCAS memiliki jangkauan operasional yang cukup jauh, memungkinkannya diluncurkan dari luar jangkauan deteksi radar standar musuh. Drone ini dilengkapi dengan hulu ledak yang cukup kuat untuk menghancurkan target infrastruktur penting, kendaraan lapis baja, hingga basis pertahanan udara.

Kemampuannya untuk “loitering” atau terbang menunggu di atas area target memberikan operator fleksibilitas untuk memilih waktu serangan yang paling tepat atau membatalkan misi jika target tidak teridentifikasi dengan jelas.

Perbandingan dengan Shahed-136: Apa Pembedanya?
Banyak pengamat militer langsung membandingkan LUCAS dengan drone kamikaze ikonik asal Iran, Shahed-136, karena kemiripan bentuk fisik dan konsep operasionalnya. Namun, meski terlihat serupa dari luar, LUCAS memiliki beberapa keunggulan teknologi yang membedakannya secara signifikan:

Sistem Navigasi dan Anti-Jamming
Berbeda dengan Shahed yang sangat bergantung pada koordinat GPS (yang rentan terhadap gangguan electronic warfare), LUCAS dilengkapi dengan sistem navigasi inersial yang lebih canggih dan teknologi anti-jamming. Hal ini membuatnya tetap mampu mengenai sasaran meski dalam lingkungan dengan gangguan sinyal yang kuat.

Evolusi Drone Kamikaze Geran 2 (Shahed-136) Rusia: Kini Dipersenjatai Rudal Igla-S untuk Buru Helikopter Ukraina

Kecerdasan Buatan (AI) Terintegrasi
LUCAS mengusung modul AI pada sistem sensornya. Jika Shahed-136 umumnya adalah senjata “fire and forget” yang menuju titik koordinat statis, LUCAS diklaim memiliki kemampuan identifikasi target secara mandiri. Drone ini dapat membedakan antara objek sipil dan militer di fase akhir serangannya.

Modularitas Hulu Ledak
SpektreWorks merancang LUCAS dengan sistem modular. Artinya, jenis hulu ledak dapat diganti sesuai misi—apakah itu hulu ledak penetrasi untuk bunker, fragmentasi untuk personel, atau hulu ledak elektronik (EMP) untuk melumpuhkan radar tanpa menghancurkan fisik bangunan.

Kecepatan dan Profil Radar
Meskipun keduanya merupakan drone berkecepatan subsonic, LUCAS dilaporkan menggunakan material komposit terbaru yang memberikan jejak radar (RCS) jauh lebih kecil dibandingkan Shahed, menjadikannya lebih sulit dicegat oleh sistem pertahanan titik (point defense).

Tingkatkan Akurasi Serangan, Drone Kamikaze Shahed-136 Gunakan Teknologi ‘Real Time Kinematic (RTK)’

Penggunaan LUCAS dalam serangan di Venezuela pada awal 2026 ini memberikan pesan kuat bahwa AS kini memiliki kapabilitas untuk melakukan serangan presisi tinggi tanpa harus melibatkan aset mahal seperti jet tempur F-35 atau rudal jelajah Tomahawk yang harganya mencapai jutaan dolar per unit.

Dengan biaya produksi yang jauh lebih efisien, LUCAS memungkinkan operasi militer dilakukan dengan risiko politik dan finansial yang lebih rendah, namun dengan dampak kerusakan yang tetap mematikan. (Bayu Pamungkas)

Mendapat Dukungan Teknologi Drone (UCAV) dari Iran, Bikin AS Tak Bisa Sembarang Gertak Venezuela

One Comment