Mendapat Dukungan Teknologi Drone (UCAV) dari Iran, Bikin AS Tak Bisa Sembarang Gertak Venezuela

Meski kecil kemungkinan AS melakukan serangan ke Venezuela, namun, saat ini hubungan antar kedua negara tengah memanas sebagai buntut dari konflik politik dan ekonomi. Berdasarkan laporan terbaru, ada penempatan militer Amerika Serikat yang signifikan di perairan Karibia.
Armada yang dikerahkan AS di perairan Karibia dekat Venezuela, terdiri dari sekelompok kapal perang, termasuk kapal perusak dan kapal penjelajah rudal, serta sebuah kelompok amfibi yang dipimpin kapal serbu amfibi (amphibious assault ship) USS Iwo Jima. Pemerintah AS menyatakan bahwa penempatan ini adalah bagian dari operasi “penangkapan narkoba” yang diperkuat di Karibia, dengan tujuan menekan kartel narkoba Amerika Latin.
Tujuan resmi yang dikumandangkan AS adalah operasi antinarkoba, banyak analis dan pemerintah Venezuela menganggapnya sebagai unjuk kekuatan (show of force) dan tekanan psikologis terhadap pemerintahan presiden Venezuela, Nicolás Maduro.
Terlepas dari hal tersebut, Venezuela memiliki militer yang cukup besar di kawasan dan milisi yang kuat dan dapat memancing perang asimetris. Lain dari itu, rupanya ada hal lain yang diperkirakan membuat AS tak bisa beraksi ‘sembarangan’ terhadap Venezuela, apa itu?

Menurut Miami Herald, Washington disebut punya kekhawatiran atas kemampuan drone Venezuela, pasalnya selama beberapa tahun belakangan telah mendapatkan pasokan dan bantuan alih teknologi dari Iran. Venezuela telah menjadi salah satu negara paling maju di Amerika Latin dalam produksi drone, termasuk drone kamikaze.
Hubungan jangka panjang antara Caracas dan Teheran telah berulang kali menegangkan Washington, di tengah tuduhan bahwa pemerintah Venezuela telah mengizinkan Hizbullah beroperasi di wilayahnya.
https://www.indomiliter.com/angkatan-darat-venezuela-pasang-kanon-eks-jet-tempur-f-5-di-ranpur-lapis-baja-anti-drone/
Para analis memperingatkan bahwa kerja sama drone Venezuela yang semakin meningkat dengan Iran dapat mengubah negara itu menjadi pusat produksi drone kamikaze Iran.
Ada juga kekhawatiran bahwa pemerintahan Presiden Nicolás Maduro dapat mentransfer teknologi ke negara lain atau ke kelompok kriminal dan paramiliter di kawasan tersebut.
Proyek drone rahasia, yang digagas di bawah Hugo Chávez (presiden Venezuela sebelumnya) dan diperluas di bawah Maduro, dimulai pada tahun 2000-an dengan kontrak senilai $28 juta dan kit perakitan drone Mohajer-2 yang dipasok Iran. Seiring waktu, kerja sama ini berkembang menjadi program UAV skala penuh.
https://www.indomiliter.com/qods-mohajer-6-drone-kombatan-iran-yang-dikirim-ke-ukraina-pemandu-drone-kamikaze-shahed-136/
Pada awal tahun 2000-an, angkatan bersenjata Venezuela tidak memiliki pengalaman dengan drone. Hal itu berubah pada tahun 2006, ketika kedua negara menandatangani perjanjian teknis militer untuk transfer teknologi, pelatihan, dan pasokan komponen.
Miami Herald meninjau lusinan dokumen resmi Venezuela dan mewawancarai para ahli yang mengatakan miliaran dolar telah diinvestasikan dalam program tersebut. Banyak kesepakatan yang disamarkan sebagai proyek pengembangan, termasuk pabrik sepeda dan traktor.
Qods Aviation Industries Iran, yang memproduksi Mohajer-2, memasok kit awal. Para insinyur Venezuela dilatih di Iran, sementara para spesialis Iran bekerja di Pangkalan Udara El Libertador di Maracay.

Perakitan lokal dimulai pada tahun 2009, dan Arpía-001, versi Mohajer-2 di Venezuela — menjadi drone pertama buatan Venezuela, Hugo Chávez memperkenalkannya kepada publik pada tahun 2012.
Arpía-1 adalab drone berbobot sekitar 80 kg, memiliki jangkauan 96 kilometer, dan utamanya digunakan untuk pengawasan dan pengintaian.
Pabrik drone di Maracay beroperasi secara berkala karena krisis politik dan ekonomi. Pada tahun 2013, di bawah pemerintahan Maduro, hanya sekitar 15 Arpía yang telah dirakit, sebagian besar digunakan untuk patroli perbatasan dan pemantauan infrastruktur minyak. Keruntuhan ekonomi Venezuela pada tahun 2014–2018 menghambat proyek tersebut, dan pada tahun 2019, dokumen yang bocor menunjukkan hanya satu Arpía yang masih beroperasi.

Pada 5 Juli 2022, Venezuela meluncurkan dua drone baru dalam sebuah parade militer: ANSU-100, versi bersenjata dari Arpía yang mampu membawa bom berpemandu Qaem buatan Iran, dan drone ANSU-200, sebuah prototipe “sayap terbang” yang terinspirasi oleh desain siluman Iran. Dengan ANSU-100, Venezuela menjadi negara Amerika Latin pertama yang memiliki drone kamikaze.
Sistem lain, drone serang Zamora V-1, diyakini merupakan varian Venezuela dari Shahed-131 Iran. Sejak 2020, Caracas juga telah membeli langsung drone Mohajer-6 Iran dan drone pengintai Orlan-10 buatan Rusia.
Ukraina Temukan Jenis Baru Drone Intai Orlan 10, Bisa Bawa Bom High Explosive!
Seiring gertakan Trump yang mengerahkan kapal-kapal perang Angkatan Laut AS ke wilayah tersebut dalam apa yang disebut Washington sebagai operasi melawan kartel, pemerintah Maduro mengumumkan rencana untuk memobilisasi drone guna membela diri.
Menteri Pertahanan Venezuela, Vladimir Padrino López mengatakan pengerahan tersebut mencakup sejumlah besar drone untuk berbagai misi, seperti pengintaian dan pengawasan, patroli sungai oleh Korps Marinir, dan patroli maritim di Danau Maracaibo dan Teluk Venezuela.” (Gilang Perdana)
https://www.indomiliter.com/venezuela-tampilkan-modifikasi-tank-amx-13-varian-penghancur-ranjau/


