Kedigdayaan Amerika Serikat dalam segmen rudal anti satelit memang belum bisa ditandingi oleh Rusia, terlebih AS berani mengklaim sebagai satu-satunya negara yang berhasil meluncurkan rudal anti satelit dan berhasil menghancurkannya saat berada di orbit luar angkasa. Meski begitu, Rusia saat masih berada dalam naungan Uni Soviet telah mempersiapkan sosok rudal anti satelit tandingan. (more…)
Saat membicarakan ketegangan antara Cina dan Amerika Serikat, maka dari kubu militer Cina, sosok kapal perusak (destroyer) Type 055 Renhai Class cruiser tak bisa dikesampingkan, pasalnya inilah kapal kombatan terbesar yang dioperasikan AL Cina. Dengan bobot mati 13.000 ton, kapal perusak Type 055 digadang dapat mengimbangi kekuatan tempur AS di Pasifik. (more…)
Peristiwanya sudah berlangsung 35 tahun lalu, atau saat Perang Dingin masih bergelora, namun momen pada 13 September 1985, akan selalu dikenang dalam jagad dirgantara dan antariksa global, pasalnya untuk pertama kalinya dan boleh dibilang satu-satunya, sebuah satelit berhasil ditembak dan dihancurkan oleh rudal yang dilepaskan dari jet tempur. Sang algojo adalah F-15A Eagle dengan rudal anti satelit (anti satellite missile) ASM-135 ASAT (Anti-satellite weapons). (more…)
Saling pepet dan intai dari jarak dekat rupanya bukan cuma terjadi antar jet tempur atau pembom Amerika Serikat versus Rusia. Di ruang angkasa pun, pepet memepet juga terjadi antar satelit kedua negara. Seperti ada kabar yang menyebut satelit mata-mata (spy satellite) milik AS diduga telah dikuntit dari jarak dekat oleh satelit milik Negeri Beruang Merah. (more…)
Tingkat kemajuan militer Cina tentu tak bisa dilepaskan dari Amerika Serikat dan Rusia, lantaran inspirasi kekuatan Sang Naga tak pelak mengacu pada dua negara tersebut. Salah satu implementasinya terbukti pada adopsi sistem jaringan pengintaian di lautan, dimana sistem yang sama telah dibangun sejak lama oleh AS dan Uni Soviet di era Perang Dingin. Dan saat ketegangan Cina dan AS meningkat, ada dugaan bahwa Beijing telah menggelar apa yang disebut sebagai “Blue Ocean Information Network” di kawasan Laut Cina Selatan. (more…)
Ada dua Konstelasi ketegangan di Timur Tengah dalam beberapa hari ini, pertama buntut dari meledaknya fasilitas nuklir Iran di Natanz pada 2 Juli lalu yang diduga dilakukan oleh jasa intelijen Israel, dan kedua peluncuran satelit mata-mata Israel pada hari Minggu lalu. Persisnya pada 5 Juli 2020 pukul 04.00 waktu setempat, Israel untuk pertama kalinya dalam tiga dekade ini meluncurkan apa yang disebutnya sebagai reconnaissance and spy satellite.(more…)
Ada banyak jalan bagi Cina untuk ‘menguasai’ dunia, selain dikenal sebagai poros ekonomi, bisnis dan investasi global, Cina merupakan pemain super tangguh di lini sistem teknologi informasi dan komunikasi. Bukan saja berjaya lewat vendor jaringan seluler seperti Huawei, tapi lebih dari itu, Cina punya sistem navigasi berbasis satelit yang berani menantang dominasi dan kedigdayaan GPS (Global Positioning System) asal Amerika Serikat. Lewat BeiDou Navigation Satellite System (BDS), navigasi berbasis satelit bukan hanya penting bagi kebutuhan sipil, tapi militer Cina juga sangat berkepentingan atas BeiDou. Dan pada Selasa kemarin (23/6/2020), Cina telah meluncurkan satelit terakhir BeiDou-3 ke luar angkasa. (more…)
High Altitude Platform Station (HAPS) atau di Indonesia akrab disebut Wahaha Dirgantara Super, telah digadang sebagai instrumen strategis multifungsi, dimana kegunaannya dapat berperan penting dalam lingkup komunikasi sipil dan militer. Bila di Indonesia HAPS baru sebatas wacana, maka Departemen Pertahanan Australia pada 9 Juni lalu merilis, bahwa pihaknya telah sukses meluncurkan apa yang disebut sebagai high altitude balloon ke ketinggian stratosfer. (more…)
Hanya berselang dua hari setelah meresmikan bendera Angkatan Luar Angkasa AS atau US Space Force di Oval Office, Gedung Putih, Washington DC, Jumat 15 Mei 2020, Presiden AS Donald Trump kembali membuat kejuatan di lini ruang angkasa. Diwartakan AS berhasil meluncurkan roket Atlas V dari Cape Canaveral. Dengan balutan misi serba rahasia, informasi yang berkembang menyebut muatan roket Atlas V adalah sebuah pesawat ruang angkasa jenis X-37B. (more…)
Betapa ‘sempurna’ sistem penginderaan jarak jauh Australia. Bukan sebatas telah mengoperasikan armada Airborne Early Warning and Control (AEW&C) E-7A Wedgetail dan nantinya drone High Altitude Long Endurance (HALE) MQ-4C Triton. Unit deteksi udara dari permukaan (ground based) yang dioperasikan Negeri Kangguru tergolong spektakuler, sebut saja Jindalee Operational Radar Network (JORN) yang sapuan deteksinya hingga 3.000 km dan dapat menjangkau wilayah Indonesia. Tapi itu belum cukup, masih ada yang bakalan lebih ‘mantul’ dari itu. (more…)