Bendung Armada Rusia di Baltik, Jerman Operasikan Kapal Selam Tanpa Awak ‘BlueWhale’

Di kedalaman Laut Baltik yang penuh tantangan, Angkatan Laut Jerman kini memiliki aset baru yang tidak mengenal lelah dan sulit untuk dideteksi. Yang dimaksud adalah BlueWhale, sebuah kapal selam tanpa awak kategori Large Displacement Autonomous Underwater Vehicle (LDAUV) yang merupakan inovasi dari Israel Aerospace Industries (IAI) melalui divisinya, ELTA Systems.
Baca juga: Kapal Selam Tanpa Awak Israel ‘BlueWhale’ Ikut dalam Latihan Militer NATO di Portugal
Kehadiran BlueWhale di tangan militer Jerman bukan sekadar penambahan alutsista biasa, melainkan sebuah lompatan besar dalam strategi pertahanan bawah laut yang semakin mengandalkan sistem otonom untuk menghadapi ketegangan geopolitik dengan armada Rusia.
Keunggulan utama BlueWhale terletak pada kemampuan daya tahannya yang luar biasa untuk ukuran kendaraan tanpa awak, di mana sistem baterai efisiensi tinggi miliknya memungkinkan wahana ini beroperasi terus-menerus selama dua hingga empat minggu tergantung pada profil misinya.
Dengan bobot mencapai 5,5 ton dan panjang sekitar 10,9 meter, BlueWhale dirancang sebagai “perpanjangan sensor” bagi platform berawak, memungkinkannya memantau area luas secara mandiri. Wahana ini mampu menyelam hingga kedalaman 300 meter dan bergerak dengan kecepatan jelajah yang senyap di angka 2 hingga 3 knot, meskipun mampu dipacu hingga kecepatan maksimal 7 knot saat berada di bawah permukaan air.

Kecanggihan BlueWhale semakin nyata melalui integrasi sensor canggih hasil kolaborasi dengan raksasa maritim Jerman, ThyssenKrupp Marine Systems (TKMS) dan unit Atlas Elektronik. Integrasi ini membekali BlueWhale dengan sistem Towed Array Sonar (TAS) yang mampu mendeteksi keberadaan kapal selam lawan di kedalaman yang biasanya tidak terjangkau oleh sonar konvensional.
Selain itu, bagian lambungnya dilengkapi dengan Flank Array Sonar yang aktif maupun pasif untuk melacak kapal permukaan, serta Synthetic Aperture Sonar (SAS) buatan Kraken yang memiliki resolusi tinggi untuk memetakan dasar laut sekaligus mendeteksi ranjau laut yang tersembunyi.
Inilah Tampilan ‘BlueWhale’ – Kapal Selam Tanpa Awak Pengumpul Data Intelijen Israel
Saat harus berkomunikasi atau melakukan pengintaian di atas air, BlueWhale menggunakan tiang teleskopik paten yang sangat inovatif. Tiang ini menampung berbagai muatan permukaan seperti radar AESA, sensor elektro-optik inframerah (EO/IR), serta antena komunikasi satelit (SATCOM) pita lebar yang semuanya terlindungi dalam wadah kedap air saat wahana menyelam.
Melalui sistem tersebut, data intelijen yang dikumpulkan dapat dikirimkan secara real-time ke pusat komando tanpa harus membahayakan nyawa personel militer di zona konflik. Fleksibilitasnya semakin teruji karena desain BlueWhale dibuat sedemikian rupa agar mudah diangkut menggunakan kontainer standar 40 kaki, sehingga dapat dideploy dengan cepat baik melalui jalur darat, udara, maupun laut menuju garis depan pertempuran.
TNI AL dan PT PAL Indonesia Sukses Uji Penembakan Torpedo dari Kapal Selam Tanpa Awak KSOT
Dengan panjang mencapai 10,9 meter dan berat sekitar 5,5 ton, BlueWhale mampu beroperasi secara mandiri selama berminggu-minggu tanpa perlu bantuan kapal induk di dekatnya.
Bagi Jerman, BlueWhale adalah solusi ideal untuk menghadapi tantangan di Laut Baltik yang dangkal dan sulit dipantau. Wahana ini mampu bergerak dengan profil suara yang sangat rendah, membuatnya hampir mustahil dideteksi oleh sensor sonar konvensional lawan.
Pengerahan BlueWhale oleh Jerman mengirimkan sinyal kuat kepada Moskow bahwa wilayah Baltik kini berada di bawah pengawasan ketat teknologi otonom terbaru. Dengan kemampuan untuk bertahan di bawah air dalam waktu lama, BlueWhale menjadi “mata dan telinga” permanen bagi NATO untuk memastikan tidak ada aktivitas bawah air yang mencurigakan di wilayah perairan internasional maupun teritorial mereka. (Bayu Pamungkas)


