Departemen Pertahanan Australia Luncurkan High Altitude Balloon ke Stratosfer

High Altitude Platform Station (HAPS) atau di Indonesia akrab disebut Wahaha Dirgantara Super, telah digadang sebagai instrumen strategis multifungsi, dimana kegunaannya dapat berperan penting dalam lingkup komunikasi sipil dan militer. Bila di Indonesia HAPS baru sebatas wacana, maka Departemen Pertahanan Australia pada 9 Juni lalu merilis, bahwa pihaknya telah sukses meluncurkan apa yang disebut sebagai high altitude balloon ke ketinggian stratosfer.

Baca juga: ‘Intip’ Sebagian Besar Wilayah Indonesia, Jindalee Bukan Over The Horizon Radar Pertama di Dunia

Ketinggian stratosfer yakni ada di rentang 15.000 – 40.000 meter di atas permukaan bumi. Namun tentu bukan soal balon tinggi yang ingin dikabarkan Dephan Australia, melainkan high altitude balloon tersebut telah dilengkapi beragam sensor. Dikutip dari minister.defence.gov.au (9/6/2020), disebutkan uji coba peluncuran perdana high altitude balloon telah dilakukan pada minggu ini dari kawasan Wyalong Barat di New South Wales. Dalam uji coba tersebut, balon mengemban misi pertahanan, dimana yang diuji adalah proses pengiriman sensor dan peralatan komunikasi yang ditempatkan pada balon udara.

Menteri Pertahanan, Linda Reynolds mengatakan, bahwa balon diluncurkan ke stratosfer untuk mengeksplorasi ketinggian yang tidak dimanfaatkan dalam lalu lintas penerbangan, sehingga tidak membahayakan lalu lintas penerbangan sipil karena berada pada posisi di atas batas ketinggian maksimal pesawat terbang komersil. Pada ketinggian stratosfer dicirikan dalam lingkungan yang low density, low temperature dan low wind.

“Kemampuan peluncuran dan akselerasi sensor untuk meningkatkan kesadaran situasional di area yang luas adalah misi yang diemban dari high altitude balloon,” ujar Linda Reynolds. Ia menambahkan, “ketika kami mengadopsi high altitude balloon, maka kemampuan kami dalam menjaga kedaulatan (Australia) dapat ditingkatkan dengan cara yang cepat dan hemat biaya, yang kesemuanya dapat memberikan pasokan data yang komprehensif bagi pasukan di darat, laut dan udara.”

Baca juga: HAPS Masuk dalam Rencana Strategis Kemenko Polhukam, Inilah Tanggapan dari Kohanudnas

Menteri Industri Pertahanan, Melissa Price mengatakan, investasi dalam solusi pertahanan ini dapat menciptakan peluang baru bagi bisnis lokal untuk berinovasi dan mengambil peluang di sektor ruang angkasa Australia yang sedang berkembang. Selain disokong Dephan, proyek balon udara ini juga didukung oleh AU Australia dan ThunderStruck Space.

Terkait kemampuan kesadaran situasional dalam lingkup area yang luas, bagi Australia sudah bukan hal baru. Negeri Kangguru ini secara sudah mengoperasikan radar lintas cakralawa – over the horison radar (OTHR) Jindalee berikut jaringan beberapa radar dalam gugus Jindalee Operational Radar Network (JORN), dimana kemampuan deteksi obyek udara dan permukaan dapat dilakukan 3.000 meter ke arah utara dan barat Australia. Lain dari itu, Australia punya stasiun radar terbang berupa armada pesawat AEW&C (Airborne Early Warning and Control System) E-7A Wedgetail dan pesawat intai maritim P-8A Poseidon.

Baca juga: Northtrop Grumman MQ-4C Triton: Drone Intai Maritim HALE, Pengganti P-3C Orion Australia

Bahkan, jika itu masih dirasa kurang, mulai 2023, Australia bakal mulai mengoperasikan Northtrop Grumman MQ-4C Triton, yakni drone intai HALE (High Altitude Long Endurance) yang dapat terbang di ketinggian 18.000 meter dan endurance terbang selama 30 jam. Namun, jika faktor hemat biaya operasional jadi acuan, maka jelas high altitude balloon adalah solusinya. (Gilang Perdana)

7 Comments