Shahed Drone SeriesKlik di Atas

Debut Tempur di Lebanon, Israel Operasikan Roem 155mm Self Propelled Howitzer untuk Pertama Kalinya

Medan pertempuran sering kali menjadi ajang promosi paling efektif bagi industri pertahanan, dan hal inilah yang tengah ditunjukkan oleh Artileri Angkatan Darat Israel di wilayah Lebanon. Baru-baru ini, Angkatan Darat Israel resmi mengerahkan sistem self propelled howitzer terbaru mereka, Roem (atau dikenal juga sebagai Sigma 155), dalam serangan tempur perdana untuk menggempur posisi peluncuran roket dan situs anti tank Hizbullah di Lebanon Selatan.

Baca juga: Setelah Dinanti, Hizbullah Kini Gunakan Rudal Anti Tank “Almas-3” untuk Serang Israel

Unit dari Brigade Artileri ke-282 menjadi satuan pertama yang membawa sistem roda ban 10×10 ini ke medan laga guna mendukung operasi darat di dekat perbatasan. Debut operasional ini menandai transisi penting Roem dari fase pengembangan dan pengujian menuju layanan lini depan, sekaligus mempertegas ambisi Israel untuk memodernisasi kekuatan artilerinya secara menyeluruh.

Roem, yang dikembangkan oleh Elbit Systems, membawa lompatan teknologi yang revolusioner jika dibandingkan dengan pendahulunya, M109 “Doher” yang berbasis roda rantai. Keunggulan utama sistem ini terletak pada otomatisasi penuh yang memungkinkan pengisian amunisi dan penembakan dilakukan tanpa banyak intervensi manual, sehingga memperpendek durasi dari identifikasi target hingga letusan meriam pertama.

Secara teknis, Roem mampu menjangkau target hingga jarak 40 kilometer dengan laju tembakan beberapa butir amunisi per menit. Mobilitas tinggi yang ditawarkan oleh sasis roda ban 10×10 memungkinkan sistem ini berpindah posisi dengan sangat cepat (shoot-and-scoot), sebuah kemampuan krusial untuk menghindari tembakan balasan musuh di lingkungan pertempuran yang dinamis dan penuh ancaman mendadak.

Roem/Sigma 155mm: Self Propelled Howitzer Generasi Terbaru Israel

Roem/Sigma diawaki tiga orang. Bergantung pada misinya, Roem/Sigma mampu secara otomatis memilih dan memuat proyektil, propelan, dan fuze atau komponen pemicu bahan peledak, serta meletakkan senjata untuk menyerang target secara optimal.

Selain kecepatan respons, penggunaan sasis roda ban memberikan efisiensi logistik yang lebih baik karena Roem dapat bergerak lebih lincah di jaringan jalan raya maupun jalur off-road dibandingkan kendaraan berbasis rantai yang berat. Angkatan Bersenjata Israel (IDF) memproyeksikan Roem sebagai tulang punggung artileri masa depan dengan masa pakai setidaknya hingga 50 tahun ke depan, berkat desain arsitekturnya yang memungkinkan upgrade berkelanjutan sesuai perkembangan ancaman.

Keberhasilan misi di Lebanon Selatan diklaim oleh militer Israel telah mencapai target objektifnya, memberikan data praktis yang berharga bagi pengembangan doktrin tempur artileri mereka di masa depan.

Saat ini, IDF sedang menjalankan rencana peremajaan artileri secara bertahap, di mana unit-unit yang masih mengoperasikan M109 akan beralih ke platform Sigma 155 ini secara sistematis. Formasi operasional penuh pertama yang menggunakan Reom ditargetkan akan siap dalam tiga tahun ke depan, dengan penyebaran yang lebih luas ke seluruh unit artileri reguler pada akhir dekade ini.

M-71 Soltam 155mm – Towed Howitzer Buatan Israel Andalan Empat Negara ASEAN, Singapura Punya Varian Tercanggih

Bagi Israel, penggunaan Roem dalam konflik nyata di Lebanon bukan sekadar unjuk kekuatan, melainkan sinyal bagi pasar pertahanan global bahwa teknologi artileri otomatisasi penuh mereka telah teruji secara tempur (battle-proven) dan siap menghadapi tantangan peperangan modern yang menuntut kecepatan, presisi, serta daya tahan tinggi. Pada November 2021, Elbit Systems mengumumkan kontrak senilai sekitar US$106 juta untuk memasok Roem/Sigma ke negara yang dirahasiakan di Asia Pasifik. (Gilang Perdana)

Filipina Terima Batch Pertama Atmos 2000 Self Propelled Howitzer dari Israel

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *