Shahed Drone SeriesKlik di Atas

BMS Personnel: Teknologi ‘Mata dan Otak’ Prajurit Infanteri Modern, Buatan Dalam Negeri!

Di era peperangan modern yang berbasis informasi, kecepatan dan ketepatan data di lapangan adalah kunci keberhasilan operasi. Setelah sebelumnya kami mengupas tentang TACA (Tactical Army Collaboration Action), sebuah Battlefield Management System (BMS) posko tingkat taktis yang dirancang untuk kondisi menantang, maka pada prajurit di garis depan disematkan perangkat BMS Personnel.

Baca juga: TACA: Posko Taktis Komando dan Kendali Pasukan, Telah Digunakan di Papua!

Dirancang bersama Litbang TNI Angkaran Darat, perusahaan swasta nasional Hariff Defense yang berbasis di Bandung, mengembangkan sebuah sistem mutakhir yang menjadi “mata dan otak” bagi setiap prajurit di garda terdepan lewat BMS Personnel.

Sistem ini bukan sekadar alat komunikasi biasa, melainkan sebuah platform integrasi taktis yang memastikan setiap personel tetap terhubung dengan komandannya, bahkan di medan yang paling sulit sekalipun.

Integrasi Tiga Komponen Utama
BMS Personnel dirancang dengan arsitektur yang ringkas namun tangguh. Sistem ini terdiri dari tiga komponen inti yang bekerja secara simultan:

Central Control Unit (CCU)
Bertindak sebagai otak sistem yang memproses seluruh data sensor dan koordinat. CCU dipasang di bagian belakang personel dan berfungsi sebagai titik pusat konektivitas.

Display (Human Interface)
Layar khusus yang dipasang pada rompi atau lengan prajurit. Melalui layar rugged (tahan benturan) ini, prajurit dapat melihat peta digital, posisi kawan secara real-time, serta menerima instruksi taktis.

Tactical Camera
Kamera yang terpasang pada helm untuk mengirimkan siaran video langsung (streaming) ke Posko. Dilengkapi dengan stabilisasi digital, kamera ini memungkinkan komandan melihat situasi lapangan secara visual tanpa distorsi gerakan yang berlebihan.

Salah satu keunggulan BMS Personnel buatan Harif Defense adalah kemampuannya beradaptasi dengan ketersediaan sinyal. Di wilayah yang memiliki infrastruktur komunikasi, sistem ini dapat menggunakan jaringan GSM/LTE atau bahkan satelit seperti Starlink untuk transmisi data besar seperti video.

BMS Personnel dirancang menggunakan backbone LTE/Mobile Broadband. Namun, dalam operasi di daerah pedalaman yang tidak terjangkau sinyal publik, sistem secara modular dapat diintegrasikan dengan radio taktis sebagai backbone/cadangan jaringan bila jaringan LTE sudah tidak dapat dicapai. Meskipun bandwidth pada radio taktis terbatas untuk streaming video, jalur ini sangat handal untuk mengirimkan data teks, titik koordinat musuh, dan laporan berkala.

“Inti dari BMS Personnel adalah pertukaran tanda taktis. Posisi, rute, hingga gambar bebas bisa dikirimkan untuk memastikan semua pihak memiliki gambaran situasi yang sama,” ujar Devi Abraham Syamsuardi, Product Management Control Manager Hariff Defense.

Keamanan Data dan Daya Tahan Operasional
Keamanan informasi menjadi prioritas utama dalam BMS Personnel. Seperti setiap unit CCU pada prajurit dilengkapi dengan kartu memori internal yang berfungsi sebagai “Blackbox”. Semua jejak perjalanan, rekaman video, dan pesan taktis tersimpan di dalamnya. Jika komunikasi terputus, data tetap aman dan dapat diunduh untuk keperluan evaluasi operasi setelah prajurit kembali ke pangkalan.

Dari sisi ketahanan, perangkat CCU ditenagai oleh baterai yang mampu menyokong operasi penuh selama 8 hingga 10 jam. Jangkauan komunikasinya pun cukup mumpuni; di medan terbuka (Line of Sight), radio taktis dapat menjangkau hingga 1,5 km, sementara di medan hutan yang rapat, jangkauan tetap terjaga di kisaran 300 meter hingga 1 km.

Samsung Galaxy S20 Tactical Editon – Smartphone Canggih untuk Prajurit Kombatan di Garda Depan

BMS Personnel merupakan bukti nyata kemandirian industri pertahanan Indonesia. Dikembangkan secara lokal, sistem ini memiliki fleksibilitas tinggi untuk dikustomisasi sesuai kebutuhan spesifik satuan infanteri atau korps lainnya.

Dengan hadirnya teknologi ini, risiko prajurit tersesat atau terjadinya insiden friendly fire dapat diminimalisir secara signifikan. BMS Personnel memastikan bahwa di tengah kabut peperangan, setiap prajurit tetap terpantau dan setiap keputusan komandan didasarkan pada data lapangan yang akurat. Seperti halnya TACA Field, BMS Personnel sudah diadaptasi oleh prajurit TNI AD dalam operasi di Papua. (Haryo Adjie)

Kemandirian Alutsista: Sisbak Mortir Digital Kini Perkuat Infanteri Dua Matra TNI