19 Self Propelled Howitzer CAESAR 8×8 Ukraina Tembakan 40.000 Amunisi Dalam Dua Tahun, Ini Artinya!

Perang berlarut di Ukraina membawa konsekuensi pada penggunaan alutsista di luar batas. Salah satu yang mendapat perhatian dalam hal ini adalah Self Propelled Howitzer (SPH) CAESAR yang telah digunakan hingga batas maksimal, yang meski membawa kerentanan pada aspek keamanan operasi, tapi juga menjadi kebanggaan bagi pihak manufaktur atas kualitas produknya.
Menyabung laporan pada bulan Februari lalu, kini ada paparan yang lebih detail pada SPH CAESAR di medan perang Ukraina. Mendapat pasokan dari Perancis dan Denmar, militer Ukraina saat ini mengoperasikan SPH CAESAR 6×6 dan 8×8, dan belum lama KNDS France (d/h Nexter Systems) merilis informasi berharga tentang kinerja dari CAESAR 8×8 yang didatangkan berkat donasi dari Denmark.
Pada tahun 2023, Angkatan Bersenjata Ukraina menerima 19 unit SPH CAESAR 8×8 dari Denmark sebagai bagian dari bantuan militer. Menurut laporan terbaru dari KNDS France, CAESAR 8×8 telah menembakkan lebih dari 40.000 amunisi hingga saat ini — rata-rata lebih dari 2.100 peluru per unit selama hampir dua tahun operasi tempur.
KNDS menyajikan angka ini secara positif, sebagai demonstrasi kemampuan medan perang CAESAR yang telah terbukti. Perusahaan mencatat statistik ini dalam konteks pengiriman baru untuk militer Ceko, dua dari 62 unit CAESAR 8×8 pertama telah diproduksi dan dijadwalkan untuk pengiriman mulai tahun 2026.
Nexter Systems Perkenalkan CAESAR 155/52mm 8×8 dengan Platform Truk Tatra T815
Namun, dalam konteks perang skala penuh melawan Rusia, angka lebih dari 2.100 amunisi per howitzer selama dua tahun tampak sangat sederhana (yaitu sekitar 3 amunisi per hari). Terutama mengingat bahwa, menurut laporan Parlemen Perancis tentang penggunaan artileri di Ukraina, satu sistem artileri 155mm di Angkatan Bersenjata Ukraina dapat menembakkan 70–90 amunisi sehari, dan terkadang hingga 150 amunisi setiap hari, terutama pada jarak jauh, yang artinya dapat menyebabkan keausan laras yang lebih cepat.
Laporan yang sama menyoroti tingkat kesiapan CAESAR 8×8 sebesar 60% setelah lima bulan di lapangan, tingkat yang jauh lebih tinggi daripada sistem NATO lainnya seperti PzH 2000 atau Archer. Ketahanan teknis ini dapat membantu menjelaskan sebagian konteks di balik angka penembakan yang dilaporkan.
KNDS menyebut CAESAR 8×8 berbeda dari varian 6×6 (seperti yang digunakan Indonesia), di antaranya berat tempur yang meningkat (hingga 30 ton vs 17,7 ton), hal ini karena lapis baja yang ditingkatkan, CAESAR 8×8 dapat membawa amunisi lebih banyak (30 butir peluru vs 18 butir peluru). Selain itu, CAESAR 8×8 diibekali sistem pengisian amunisi yang lebih canggih dan semi-otomatis, dengan manipulator untuk penempatan peluru dan pendorong muatan propelan
Pemuat otomatis yang lebih canggih ini meringankan beban fisik pada awak, tetapi juga dapat menciptakan titik kegagalan atau kompleksitas potensial dalam kondisi perawatan lapangan.
[the_ad id=”77299″]
Oleh karena itu, jumlah total amunisi yang ditembakkan sebenarnya relatif rendah — hanya lebih dari 40.000 untuk 19 howitzer, dapat diartikan dalam dua persepektif, antara kesulitan operasional dalam memelihara dan memperbaiki sistem canggih ini dalam kondisi masa perang. Atau keterbatasan yang lebih realistis, seperti kekurangan amunisi 155 mm, yang telah menjadi kendala klasik selama perang.
Kedua faktor tersebut secara masuk akal dapat memengaruhi jumlah tersebut dan kemungkinan besar terjadi secara bersamaan.
Meski CAESAR 8×8 lebih canggih dari CAESAR 8×8, namun keduanya menggunakan jenis meriam dan kaliber yang sama, yaitu meriam howitzer kaliber 155 mm / 52 kaliber (155 mm L/52). Sesuai dengan standar NATO, CAESAR dapat menggunakan berbagai jenis amunisi NATO 155 mm, termasuk HE (High Explosive), Smoke, Illumination, BONUS (submunisi anti-tank) dan VLAP (Very Long Range Artillery Projectile).
Tantang Dominasi CAESAR, Arab Saudi Luncurkan Self Propelled Howitzer 155mm di Sasis Tatra 8×8
CAESAR memiliki jangkauan hingga 40 kilometer dengan peluru standar dan hingga 55 kilometer dengan proyektil artileri jarak jauh. Sistem ini menggunakan sistem pemuatan yang sepenuhnya otomatis yang memungkinkan kru untuk memuat dan menembakkan proyektil dengan cepat, sehingga mengurangi waktu yang dihabiskan untuk memuat ulang dan meningkatkan laju tembakan.
Secara umum, umur laras meriam 155mm L52 seperti yang digunakan pada CAESAR diperkirakan sekitar 2.500 hingga 3.000 tembakan sebelum harus diganti. Namun, jika sering menembakkan munisi dengan propelan tinggi (high charge) atau Extended Range Full Bore (ERFB), umur laras bisa lebih pendek, sekitar 1.500–2.000 tembakan.
[the_ad id=”77299″]
Faktor-faktor yang mempengaruhi umur laras seperti jenis amunisi, penggunaan amunisi dengan tekanan tinggi dan jarak jauh mempercepat keausan laras. Kemudian frekuensi tembakan, yang mana tembakan beruntun dengan kecepatan tinggi bisa meningkatkan erosi termal. Lalu perawatan dan inspeksi, pembersihan dan pemeliharaan rutin bisa memperpanjang umur laras.
Jika laras sudah menunjukkan tanda keausan seperti penurunan akurasi atau peningkatan tekanan di dalam laras, biasanya dilakukan penggantian atau re-lining. Jadi, walaupun angka standar berkisar 2.500–3.000 tembakan, dalam kondisi perang intensif, laras mungkin perlu diganti lebih cepat.
Penggantian laras 155mm L52 seperti yang digunakan pada CAESAR biasanya membutuhkan waktu sekitar 2 hingga 4 jam, tergantung pada kondisi di lapangan dan kesiapan peralatan. (Gilang Perdana)
Demi Ukraina, Perancis Rela Dongkrak Produksi CAESAR 6×6 Hingga Enam Kali Lipat per Bulan



Itu artinya Indonesia harus punya lebih dari 2000 Meriam kaliber 155mm dan jika satu meriam mampu menembakkan peluru hingga 100 peluru per hari dan kebutuhan peluru untuk perang selama 1 tahun maka Indonesia harus menyiapkan 73 juta peluru dengan kapasitas maksimal produksi peluru oleh sahabat dan Pindad sebanyak 2 juta pertahun.
Artinya kalo terjadi perang di wilayah kita, kita keburu kehabisan stok amunisi 155 mm dalam 3 hari.