KMW APVT: Ranpur APC Amfibi Revolusioner dengan Desain Dua ‘Muka’

Hampir empat dasawarsa LVTP (Landing Vehicle, Tracked, Personnel)-7 alias Assault Amphibious Vehicle merajai ‘pasar’ ranpur lapis baja amfibi di lingkup NATO dan negara-negara karib Amerika Serikat. Karena ceruk pasar yang kecil di segmen ini, boleh dikata tak terlalu banyak kompetsisi di kelas APC amfibi yang sekelas LVTP-7. Namun belakangan ada upaya untuk setidaknya memberi pilihan lain, seperti yang dilakukan Krauss-Maffei Wegmann (KMW) GmbH, manufaktur persenjataan dari Jerman, yang pada Eurosatory 2018 di Paris merilis prototipe apa yang disebut Amphibious Protected Vehicle Tracked (APVT).

Baca juga: HUT TNI Ke-72, Inilah Fakta Menarik dari “Stupid Crazy” LVTP-7 Korps Marinir

APVT memang tak mirip-mirip amat dengan LVTP-7, namun dari aspek tongkrongan dan bobot, keduanya mirip, yakni punya bobot sekitar 30 ton. Layaknya APC pada umumnya, LVTP-7 dilengkapi pintu rampa (ramp dooor) berukuran besar pada bagian belakang. Pun APVT juga dilengkapi ramp door, namun ramp door di APVT super unik, ramp door APVT berukuran kecil yang memang hanya dapat dilintasi pasukan Marinir dalam formasi satu-satu untuk keluar dan masuk. Berbeda dengan ramp door LVTP-7 yang bisa saja dimuati sepeda motor.

Bila LVTP-7 dapat memuat 20-25 pasukan pendarat, maka APVT hanya sanggup membawa delapan pasukan. Dari aspek daya muat personel, okelah LVTP-7 unggul, namun APVT lansiran Negeri Bavaria ini punya rancangan yang revolusioner, pasalnya bagian belakang APVT (lokasi dimana terdapat ramp door) sudah mengusung desain hull ‘perahu’ lengkap dengan penahan/pemecah gelombang. Sementara bagian depan APVT tampil laksana ‘wajah’ ranpur lapis baja pada umumnya.

Saat APVT melaju di permukaan (daratan), maka yang berperan sebagai ‘muka’ adalah sisi bagian depan, sebaliknya saat APVT bererang, maka yang menjadi ‘muka’ adalah bagian belakang, sehingga diperlulan posisi berputar. Begitu juga dengan dua orang awaknya, satu operator akan menempati hatch khusus saat ranpur ini berjalan sebagai perahu. Posisi propeller sendiri terdapat pada bagian sisi bagian ‘depan.’

Dengan segala keunikan ini, KMW menempatkan posisi mesin APVT pada bagian tengah kendaraan. Sebagai dapur pacunya adalah dua unit 816-hp MTU diesel engine dengan ZF automatic transmission. Performa kecepatan saat melaju di permukaan mencapai 70 km per jam, dengan bahan bakar penuh jarak tempuhnya hingga 550 km. Sebaliknya jika berenang, APVT dapat melesat sampai 13,2 km per jam dengan jarak jelajah 54 km untuk berlayar. APVT yang telah melalui beberapa kali pengujian, terbukti mampu mengatasi rintangan vertikal 0,8 meter dan parit selebar 2,5 meter.

Lebih maju dari LVTP-7, rantai baja yang diusung APVT bukan dari jenis konvensional, KMW mengadopsi teknologi Defense Service Tracks (DST) composite rubber tracks, yang memungkinkan ranpur bergerak lebih ringan, lebih senyap dengan getaran yang lebih minim.

Seperti halnya AMX-10 Marines milik Korps Marinir TNI AL, ruang kompartemen pasukan yang nyaman di APVT sudah dilindungi dari ancaman bahaya nuklir, biologi dan kimia. Secara keseluruhan, ranpur yang masih prototipe ini punya panjang 9,46 meter, lebar 3 meter dan tinggi 2,7 meter.

Baca juga: Expeditionary Fighting Vehicle – Nasibnya Terganjal Harga, Inilah Sang Penerus LVTP-7

Soal jenis senjata, KMW menawarkan secara fleksibel dengan pakem kapasitas payload senjata sampai 5 ton. Seperti saat dipamerkan di Eurosatory 2018, APVT nampak dipasangi sepucuk kanon kaliber 20 mm dengan sistem RCWS (Remote Control Weapon Station) 200+ dari KMW. (Haryo Adjie)

7 Comments