Cina Resmi Lampaui Kapasitas Produksi Kapal Selam Nuklir Amerika Serikat

Setelah menggeser posisi Rusia sebagai operator kedua kapal selam nuklir terbesar di dunia, yang artinya posisi Cina berada satu level di bawah Amerika Serikat, maka ada update terbaru yang menyatakan kapasitas produksi kapal selam nuklir Cina telah melampaui Amerika Serikat.

Baca juga: Citra Satelit Ungkap Wujud Kapal Selam Nuklir Generasi Terbaru Cina, Type 095 (Sui Class)

Jika selama beberapa dekade AS memegang kendali mutlak atas teknologi dan jumlah kapal selam bertenaga nuklir, laporan terbaru mengungkapkan realitas yang mengejutkan. Berdasarkan laporan terbaru dari International Institute for Strategic Studies (IISS) yang dirilis pada 16 Februari 2026, Cina telah mencatat sejarah baru dengan melampaui Amerika Serikat dalam kapasitas produksi kapal selam nuklir.

Dalam kurun waktu lima tahun terakhir (2021–2025), Beijing telah meluncurkan total 10 kapal selam bertenaga nuklir, sebuah angka yang secara resmi menggeser dominasi industri pertahanan bawah laut Washington. Amerika Serikat dalam periode yang sama diperkirakan hanya meluncurkan sekitar 6 hingga 7 unit kapal selam nuklir (tergantung pada status penyelesaian akhir di galangan).

Laporan IISS mengungkapkan bahwa 10 kapal selam yang diluncurkan Cina memiliki total berat benaman (displacement) mencapai 79.000 ton. Angka ini sangat signifikan karena untuk pertama kalinya, output industri Cina melampaui Amerika Serikat, baik dari segi jumlah unit maupun total tonase kapal yang dihasilkan dalam periode yang sama.

Cina Salip Rusia: Kini Jadi Operator Kapal Selam Nuklir Terbesar Kedua Dunia

Melalui analisis citra satelit dan data industri, ekspansi masif ini berpusat di galangan kapal raksasa Huludao. Unit-unit baru yang diluncurkan mencakup kapal selam rudal balistik Type 094 (Jin class) dan kapal selam rudal berpemandu Type 093B (Shang class) yang lebih canggih. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa Cina tidak hanya fokus pada kuantitas, tetapi juga pada variasi platform yang mampu mengancam daratan lawan sekaligus memburu armada kapal induk di laut lepas.

Pencapaian Cina dalam lima tahun terakhir mencerminkan efisiensi manufaktur yang sangat tinggi. Saat ini, laju produksi tahunan Cina dilaporkan telah menyamai atau bahkan melampaui target ambisius Angkatan Laut AS (US Navy) yaitu skema 1+2 (satu kapal selam rudal balistik kelas Columbia dan dua kapal selam serbu Virginia class per tahun) yang sebenarnya baru direncanakan AS untuk tercapai pada tahun 2028.

Dari Citra Satelit, Diduga Kapal Selam Nuklir Terbaru Cina Mengalami Insiden ‘Karam’ di Sungai Yangtze

Realitas di lapangan justru berbanding terbalik bagi Amerika Serikat. Di saat galangan kapal Huludao bekerja dalam kapasitas penuh, industri kapal selam AS terus menghadapi hambatan serius. Masalah kekurangan tenaga kerja terampil, gangguan rantai pasokan global, serta penumpukan antrean pemeliharaan (maintenance backlogs) di galangan kapal domestik telah memperlambat laju modernisasi armada bawah laut Negeri Paman Sam tersebut.

Keunggulan dalam kecepatan produksi ini memberikan keuntungan strategis bagi Angkatan Laut Cina (PLAN). Dengan jumlah armada yang terus membengkak dan teknologi yang semakin senyap—seperti penggunaan sistem pump-jet pada Type 093B dan Type 095, Cina kini memiliki kemampuan untuk mempertahankan kehadiran permanen di wilayah “laut dalam” di luar rantai pulau pertama.

AS Terima Kapal Selam Nuklir Virginia Class ke-26, Bagaimana Nasib Pesanan Australia?

Kondisi ini memaksa para perencana militer Barat untuk menghitung ulang keseimbangan kekuatan di Indo Pasifik. Jika tren ini berlanjut, keunggulan kualitas yang selama ini menjadi “kartu as” Amerika Serikat mungkin tidak akan cukup untuk menahan gelombang kuantitas dan inovasi cepat yang ditunjukkan oleh Beijing.

Dunia kini harus bersiap menghadapi era baru, di mana dominasi samudra beralih secara perlahan namun pasti ke tangan “Naga dari Timur”. (Gilang Perdana)

Pantau Pergerakan Kapal Selam Cina, Sekutu AS di Asia Tenggara Bangun Pangkalan Militer di ‘Choke Point’ Selat Luzon

One Comment