Shahed Drone SeriesKlik di Atas

Misi Regional Presence Deployment: Kapal Perang Australia Abaikan Peringatan Beijing di Laut Cina Selatan

HMAS Toowoomba

Situasi di kawasan Indo-Pasifik sempat memanas setelah kapal perang Angkatan Laut Australia (RAN), HMAS Toowoomba, dilaporkan tetap melanjutkan pelayarannya di Laut Cina Selatan meskipun mendapat peringatan keras dan pemantauan ketat dari militer Cina. Insiden ini mempertegas sikap Canberra yang menolak klaim teritorial Beijing di perairan strategis tersebut.

Baca juga: Penyelam Angkatan Laut Australia Diserang Sonar dari Kapal Perusak AL Cina di ZEE Jepang

HMAS Toowoomba, sebuah fregat Anzac class, melakukan apa yang disebut oleh Departemen Pertahanan Australia sebagai “transit rutin” pada 12 Februari 2026. Pelayaran ini merupakan bagian dari Regional Presence Deployment, sebuah misi berkelanjutan Australia untuk menunjukkan kehadiran militernya di kawasan tersebut.

Media pemerintah Cina, The Global Times, melaporkan bahwa Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) melakukan “pelacakan, pemantauan, dan operasi peringatan di sepanjang proses transit.” Beijing menggunakan istilah ini untuk menegaskan bahwa setiap pergerakan kapal asing di Laut Cina Selatan berada di bawah pengawasan penuh mereka.

Pihak Australia menegaskan bahwa kapal-kapalnya beroperasi sesuai dengan hukum internasional, termasuk Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS). Wakil Laksamana Justin Jones, Kepala Operasi Gabungan Australia, menyatakan bahwa Laut Cina Selatan adalah “jalur air vital bagi seluruh komunitas internasional.”

Ilmuwan Cina Sebut Kepulauan Paracel di Laut Cina Selatan Bisa Jadi “Submarine Kill Zone”, Ini Sebabnya!

“Penyebaran ini menunjukkan komitmen Australia terhadap Indo Pasifik yang damai, stabil, dan makmur,” ujar Jones. Senada dengan itu, Komandan HMAS Toowoomba, Letnan Kolonel Alicia Harrison, menegaskan bahwa misi ini adalah bentuk kerja sama dengan sekutu regional untuk menegakkan aturan hukum yang berbasis internasional.

Langkah Australia untuk terus “mengabaikan” peringatan Cina merupakan pesan politik yang kuat. Dengan tetap berlayar, Australia bersama sekutunya seperti Amerika Serikat dan Inggris (melalui kemitraan AUKUS), mencoba mencegah klaim sepihak Cina menjadi kenyataan secara de facto.

Sementara bagi Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara lainnya, dinamika ini menambah kompleksitas keamanan di kawasan. Meskipun Australia menekankan kebebasan navigasi, intensitas pertemuan militer yang semakin sering meningkatkan risiko salah kalkulasi yang bisa memicu konflik terbuka di masa depan. (Gilang Perdana)

Berlayar Mengitari Australia, Task Group 107 Angkatan Laut Cina Memicu Ketakutan di Negeri yang Dilanda Kegelisahan