Pantau Pergerakan Kapal Selam Cina, Sekutu AS di Asia Tenggara Bangun Pangkalan Militer di ‘Choke Point’ Selat Luzon

Punya peran vital bagi lalu lintas kapal selam, Selat Luzon sebagai choke point menjadi salah satu dari sedikit jalur yang cukup dalam dan lebar bagi kapal perang besar dan kapal selam, termasuk kapal selam nuklir Cina, untuk keluar-masuk Laut Cina Selatan dengan Samudera Pasifik. Namun, ketenangan Cina sebagai pengguna Selat Luzon boleh jadi mulai terusik, kenapa?
Pada 28 Agustus 2025, Angkatan Bersenjata Filipina telah meresmikan berdirinya pangkalan militer baru di Pulau Batanes, yaitu Pangkalan Operasi Maju (Forward Operating Base) di Mahatao. Sebagai catatan, Pulau Batanes adalah salah satu pulau yang terletak di Selat Luzon.
Elemen yang ditempatkan di pangkalan baru tersebut adalah Unit Angkatan Laut dan Korps Marinir Filipina di bawah Komando Angkatan Laut Luzon Utara dan Marine Battalion Landing Team-10 (MBLT-10). Lantaran baru saja diresmikan, belum ada berita spesifik yang menyebutkan penempatan jenis senjata tertentu. Fokus utama pangkalan ini adalah untuk meningkatkan pertahanan teritorial, kesadaran domain maritim, dan respons terhadap bencana.

Belum ada laporan atau indikasi penempatan rudal jelajah Brahmos di Batanes, Filipina seperti diketahui telah menerima sistem rudal jelajah supersonik ini dari India. Rudal Brahmos yang dioperasikan Korps Marinir, disiapkan untuk memperkuat pertahanan pesisir dan mencegah pergerakan angkatan laut di perairan yang disengketakan.
Cina kemungkinan akan gusar atas penggelaran militer di Pulau Batanes, pasalnya suatu waktu Selat Luzon sebagai choke point jalur kapal selam, dapat ditutup atau minimal diganggu aksesnya oleh militer Filipina. Dalam dunia maritim, choke point (titik sumbat) adalah jalur atau kanal pelayaran sempit dan strategis yang menghubungkan dua area air yang lebih besar.

Bagi Cina, untuk memproyeksikan kekuatan militer ke Samudera Pasifik, terutama di sekitar Taiwan dan Pasifik Barat, maka kapal-kapal perang Cina harus melewati selat ini. Tanpa akses ini, kemampuan manuver mereka akan sangat terbatas.
Nah, Selat Luzon berada di dalam apa yang oleh para ahli strategi militer disebut sebagai “rantai pulau pertama” (first island chain). Oleh karena itu, selat ini menjadi titik pantau dan pencegatan utama yang dipantau ketat oleh Amerika Serikat, Jepang, dan Filipina. Karena alasan itu, Selat Luzon bukan hanya sekadar jalur air, melainkan sebuah choke point kritis yang sangat memengaruhi strategi angkatan laut Cina dan dinamika geopolitik di kawasan.
AS Gelar NMESIS di Selat Luzon, Akses Keluar Masuk Kapal Perang Cina di Samudra Pasifik Terancam
Berdasarkan United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS), setiap negara dapat mengklaim perairan teritorial hingga 12 mil laut dari garis pantainya. Karena Selat Luzon berada di antara Filipina dan Taiwan, perairan teritorial Filipina dan Taiwan (yang diklaim Cina) membentang ke dalam selat. Meskipun demikian, karena Selat Luzon sangat lebar (lebih dari 100 mil laut di titik tersempit), masih ada koridor perairan internasional yang luas di tengahnya.
UNCLOS mengakui “hak lintas transit” melalui selat-selat yang digunakan untuk navigasi internasional. Ini berarti bahwa kapal dan pesawat dari negara mana pun memiliki hak untuk melintas secara cepat dan tanpa hambatan, bahkan jika mereka harus melewati perairan teritorial negara-negara pesisir. Hak ini memastikan bahwa jalur vital seperti Selat Luzon tetap terbuka untuk navigasi dan perdagangan global.
‘Dikawal’ Proposal dari Empat Manufaktur, Filipina Percepat Program Pengadaan Kapal Selam
Jadi, meski sebagian perairannya masuk dalam teritorial Filipina dan Taiwan, Selat Luzon secara efektif berfungsi sebagai jalur pelayaran bebas internasional yang dilindungi oleh hukum laut.
Berdasarkan data oseanografi, kedalaman maksimum Selat Luzon adalah sekitar 5.000 meter. Selat ini memiliki topografi dasar laut yang kompleks, dan kedalamannya bervariasi. Karena kedalamannya yang luar biasa, Selat Luzon sangat cocok untuk navigasi kapal selam, termasuk kapal selam bertenaga nuklir.
Keputusan Filipina untuk memperkuat kehadiran militernya di choke point tersebut sangat penting. Dari Pulau Batanes yang strategis, berada tepat di seberang Selat Luzon, menjadikannya posisi ideal untuk memantau pergerakan kapal perang dan pesawat Cina yang keluar-masuk Laut Cina Selatan.
Jadi Wilayah Patroli Drone Bawah Laut, Inilah ‘Choke Point’ yang Kerap Dilintasi Kapal Selam
Pembangunan pangkalan militer ini juga didukung oleh Amerika Serikat. Pangkalan baru ini kemungkinan besar akan digunakan sebagai salah satu dari “situs-situs tambahan” yang disepakati di bawah Enhanced Defense Cooperation Agreement (EDCA), memungkinkan pasukan AS untuk ditempatkan dan menggunakan fasilitas tersebut.
Selain pangkalan untuk kapal perang dan marinir, Filipina juga berencana untuk memperpanjang landasan pacu di Bandara Basco, Batanes. Meskipun bandara ini terutama digunakan untuk penerbangan sipil, perpanjangan landasan pacu akan memungkinkan pesawat yang lebih besar, termasuk pesawat pengintai dan transportasi militer dari Filipina dan Amerika Serikat, untuk mendarat dan beroperasi dari sana. (Gilang Perdana)



Maaf out of topic tapi masih berhubungan dengan China juga.
Tahu bocoran dari si pedang meliuk-liuk kalo kita bakal jadi akuisisi J-10 ex PLA sebanyak 42 unit.
Semoga itu J-10C (PLA punya 240 unit, kalo diminta 42 unit saja, masih ikhlas kan ya?)
Semoga dibeli lengkap dengan rudal PL-15 versi asli.
Semoga sekalian dibeli bersamaan dengan pesawat AEW&C KJ-500 Shaanxi 5 unit aja ( PLA punya 40 unit, kalo diminta 5 unit mungkin PLA masih rela)..
Kalo itu lengkap semua, walau hanya 3 skuadron saja, bisa lompat lebih cepat kapabilitas AURI.
Hihihihi.