Cina Klaim Meriam Anti-Pesawat SH-2 76mm Mampu Rengkuh 120 Putaran per Menit!

Dalam dunia pertahanan udara modern, kecepatan reaksi dan kepadatan tembakan (fire density) adalah kunci kelangsungan hidup. China North Industries Corporation (Norinco) telah menjawab tuntutan ini dengan memperkenalkan sistem meriam anti-pesawat bergerak SH-2 76mm (juga dikenal sebagai SA2).

Baca Juga: Swedia Kirim Self Propelled Anti Aircraft Gun Tridon MK2 ke Ukraina

Sistem ini bukan hanya sekadar artileri mobile, melainkan sebuah solusi pertahanan udara multi-peran yang mengintegrasikan teknologi angkatan laut yang teruji ke dalam platform darat. Fitur yang paling menonjol dari SH-2 adalah laju tembaknya yang spektakuler, mencapai 120 putaran per menit (rpm).

Sistem SH-2 dirancang untuk mengisi celah antara sistem Manned Portable Air Defense Systems (MANPADS) jarak pendek dan sistem rudal jarak menengah yang lebih mahal. Meriam utama yang digunakan adalah kaliber 76 mm.

Secara teknis, senjata ini merupakan turunan darat dari meriam angkatan laut H/PJ-26 Cina, yang akarnya berasal dari meriam laut Soviet/Rusia AK-176. Penanaman senjata angkatan laut berkinerja tinggi pada sasis truk militer 6×6 off-road menghasilkan kombinasi antara kekuatan tembak yang masif dengan mobilitas taktis yang tinggi.

Laju tembak 120 rpm—setara dengan dua peluru per detik—adalah pencapaian teknik yang signifikan. Kecepatan ini dimungkinkan oleh mekanisme pemuatan otomatis (autoloader) yang canggih. Autoloader tersebut bertugas secara mekanis mengambil peluru dari majalah, memasukkannya ke kamar tembak (breech), dan mengeluarkan selongsong bekas tanpa intervensi manusia, memungkinkan tembakan berkelanjutan yang intens. Kepadatan tembakan ini krusial untuk menciptakan “dinding peluru” (barrage fire) yang efektif di jalur target.

Dalam peran pertahanan udara standar, SH-2 mampu menghadapi berbagai ancaman. Target seperti pesawat sayap tetap yang terbang rendah, helikopter serang, dan Kendaraan Udara Tak Berawak (UAV) berkecepatan tinggi menjadi mangsa yang ideal. Laju tembak yang cepat memastikan bahwa, meskipun target memiliki window of opportunity yang sempit (waktu terlihat yang singkat), meriam dapat melepaskan rentetan tembakan yang mematikan untuk memastikan kill probability (probabilitas penghancuran) yang tinggi.

Di medan perang modern, salah satu ancaman terbesar adalah serangan proyektil tidak terarah seperti roket, artileri, dan mortir (RAM). SH-2 secara spesifik diiklankan memiliki kemampuan C-RAM. Untuk peran ini, laju tembak 120 rpm menjadi sine qua non. Sistem harus secara otomatis mendeteksi proyektil RAM yang datang dengan kecepatan supersonik dan mencegatnya dalam hitungan detik. Kepadatan tembakan tinggi adalah satu-satunya cara untuk meningkatkan kemungkinan tabrakan (hit probability) melawan target berukuran kecil.

‘Temani’ Indonesia, Vietnam Juga Masih Operasikan Meriam Hanud Tua 61-K (M1939)/Type 55

Laju tembak yang cepat tidak akan berguna tanpa sistem fire control yang presisi. SH-2 dilengkapi dengan radar pelacak dan sistem optronik/elektro-optik yang terintegrasi. Radar pelacak memberikan data jangkauan dan kecepatan target secara akurat, sementara sistem elektro-optik (termasuk kamera termal dan pengintai laser) memberikan panduan tembakan pasif dalam kondisi cuaca buruk atau untuk menghindari emisi radar. Komputer balistik kemudian menerjemahkan data ini menjadi solusi penembakan yang cepat, memanfaatkan sepenuhnya kemampuan 120 rpm.

Kemampuan multi-peran SH-2 didukung oleh fleksibilitas amunisinya. Selain peluru fragmentasi ledakan tinggi (HE-FRAG) standar untuk target udara, sistem ini kemungkinan menggunakan amunisi yang lebih canggih, seperti Amunisi Pre-Fragmented dengan Proximity Fuze atau bahkan Time-Fuzed Ammunition (peluru berpeledak waktu). Amunisi canggih ini dapat meledak tepat di depan, di atas, atau di samping target udara/proyektil yang masuk, memaksimalkan efek shrapnel dan efisiensi meriam.

Hari ini dalam Sejarah, Frigat USS Stark Lumpuh Diserang Rudal Anti Kapal AM-39 Exocet

Berbasis pada sasis truk heavy-duty beroda (6×6 atau 8×8, tergantung varian), SH-2 jauh lebih mudah dipindahkan dan lebih murah perawatannya dibandingkan sistem pertahanan udara berbasis track (rantai/tank).

Kemampuan shoot-and-scoot (tembak dan lari) yang cepat sangat penting untuk menghindari counter-battery fire (tembakan balasan) setelah mendeteksi dan menyerang target. Mobilitas ini menjadikan SH-2 ideal untuk melindungi konvoi, pangkalan militer sementara, atau unit darat yang bergerak cepat.

Sistem SH-2 76 mm diposisikan sebagai solusi pertahanan udara yang menarik di pasar ekspor. Sistem ini menawarkan daya tembak setara dengan sistem pertahanan udara Eropa atau Amerika, namun dengan biaya akuisisi dan operasional yang berpotensi lebih rendah. Bagi negara-negara yang membutuhkan sistem pertahanan udara mobile yang mampu memberikan perlindungan dari ancaman udara dan darat, SH-2 menawarkan paket multifungsi yang sulit ditolak.

Rheinmetall Perkenalkan Rudal Udara ke Udara Anti Drone dan Helikopter

Meriam Anti-Pesawat SH-2 76mm Cina adalah representasi modern dari kekuatan artileri dalam pertahanan udara. Dengan mengadaptasi teknologi angkatan laut dan memanfaatkan laju tembak 120 rpm, sistem ini berhasil menciptakan platform mobile yang tidak hanya mampu mencegat pesawat konvensional, tetapi juga melawan ancaman asimetris abad ke-21 seperti UAV dan proyektil C-RAM. SH-2 menegaskan kembali bahwa meriam, ketika dipadukan dengan elektronik dan fire control modern, tetap menjadi elemen yang tak tergantikan dalam spektrum pertahanan udara. (Nurhalim)

Korps Marinir Cina Lengkapi Ranpur Amfibi Type 05 dengan Peluncur Rudal Hanud HQ-13 (FB-10A)

One Comment