Krisis Laut Merah, Kanon CIWS Phalanx dari USS Gravely Tembak Jatuh Rudal Anti Kapal Houthi dari Jarak 1,6 Km

(Raytheon)

Untuk pertama kalinya kanon reaksi cepat – Close In Weapon System (CIWS) Phalanx beraksi dalam krisis yang sedang membara di Laut Merah. Persisnya kapal perusak berpeluru kendali USS Gravely (DDG 107) – Arleigh Burke Class dilaporkan pada hari Selasa (30/1/2024), telah menembak jatuh rudal jelajah anti kapal yang diluncurkan Houthi.

Baca juga: Dua di Antara Rudal Anti Kapal Milik Houthi Variannya Pernah Digunakan oleh Indonesia

US Central Command (CENTCOM) mengatakan pada hari Selasa bahwa sekitar pukul 23.30. waktu setempat, Houthi menembakkan satu rudal jelajah anti kapal dari Yaman menuju Laut Merah dan ditembak jatuh oleh USS Gravely dari jarak 1 mile (sekitar 1,6 km) dari posisi kapal perang.

US CENTCOM menyebut tidak ada kerusakan atau cedera yang dilaporkan atas upaya serangan rudal anti kapal yang diluncurkan Houthi. USS Gravely dilengkapi dengan setidaknya satu CIWS MK 15 Phalanx untuk pertahanan udara jarak dekat.

USS Gravely (DDG 107)

Sebelum CIWS Phalanx digunakan, umumnya digunakan sistem hanud seperti rudal pencegat SM-2 atau SM-3. Rudal ini ditembakkan dari sel VLS (Vertical Launching System) sebelum kemudian mencegat dan menghancurkan ancaman di udara. Sebuah SM-3 “menghantam ancaman dengan kekuatan truk seberat 10 ton yang melaju dengan kecepatan 6000 mph. Namun, AS harus berhitung dengan cermat untuk menggunakan rudal hanud, pasalnya harga rudal yang sangat mahal tidak seimbang dengan nilai sasaran yang berharga relatif murah.

Insiden yang melibatkan USS Gravely terjadi hanya beberapa jam sebelum pasukan AS menyerang dan menghancurkan rudal hanud Houthi yang siap diluncurkan di Yaman dan menimbulkan ancaman besar terhadap pesawat Amerika di wilayah tersebut.

Kanon CIWS Mk 15 Phalanx diproduksi oleh Raytheon Missile and Defense, dipersenjatai dengan munisi kaliber 20 mm dari kanon M61 Vulcan (digunakan pada jet tempur F-16) yang terkenal dan memiliki laju tembakan 4.500 putaran per menit. Phalanx dapat menghadapi target dalam mode manual atau secara mandiri (otomatis), yaitu melalui penggunaan dua radar, sementara versi terbaru telah menyertakan sensor elektro-optik dan inframerah.

Ada lagi Phalanx Block 1B Baseline 2, merupakan bentuk penyempurnaan dari generasi Phalanx sebelumnya, dimana kanon ini mengalami perombakan total, mulai dari laras yang mengusung OGB (Optimized Gun Barrels) lebih panjang untuk mencapai jarak tembak yang lebih jauh.

Kemudian ada bekal FLIR (Forward Looking InfraRed) untuk dapat menyasar sasaran di daratan. Kanon Phalanx anyar ini juga mengalami peningkatan elevasi laras hingga bisa diarahkan lebih ke bawah untuk menyasar sasaran di permukaan. Yang disebut terakhir, bahwa untuk menyasar sasaran lebih ke bawah didasarkan atas pengalaman buruk yang dialami AS, yaitu dalam kasus peledakan USS Cole di Yaman.

Super Kreatif, Ahli Robot Asal Jepang Ciptakan Kanon CIWS ‘Airsoft’ Phalanx

Phalanx Block 1B Baseline 2 juga mengusung munisi baru MK224 yang disasar untuk laras OGB. Phalanx generasi terbaru ini pertama kali dioperasikan secara penuh di USS Taylor pada September 2000. Kanon ini punya jarak tembak efektif 1.500 meter dan jara tembak maksimum 5.500 meter.

Kecepatan tembak Phalanx ini mencapai 4.500 proyektil per menit, atau 75 proyektil per detik dan digadang handal untuk mencegat laju serangan rudal anti kapal. Munisi di kanon ini ditempatkan dalam wadah berupa drum yang berisi 1.550 munisi. (Gilang Perdana)

2 Comments