Pada tanggal 21 Oktober 2025, Angkatan Udara AS (USAF) berhasil mencapai tonggak sejarah penting di Nevada Test and Training Range (NTTR) yang menandai titik balik dalam doktrin perang udara modern. Demonstrasi tersebut melibatkan pesawat tempur siluman generasi kelima, F-22 Raptor, yang secara efektif memerintah dan mengendalikan pesawat nirawak (UAS) canggih, MQ-20 Avenger. Peristiwa ini bukan sekadar uji terbang; ini adalah validasi kritis terhadap konsep Crewed-Uncrewed Teaming (CUT), sebuah pilar utama yang akan mendefinisikan dominasi udara di medan tempur masa depan.
Angkatan Darat AS baru-baru ini memperkuat kemampuannya dalam operasi multinasional dengan mengerahkan sistem pesawat tak berawak (UAS) C100 selama latihan Joint Pacific Multinational Readiness Center (JPMRC) 26-01). (more…)
Dalam dunia pertahanan udara modern, kecepatan reaksi dan kepadatan tembakan (fire density) adalah kunci kelangsungan hidup. China North Industries Corporation (Norinco) telah menjawab tuntutan ini dengan memperkenalkan sistem meriam anti-pesawat bergerak SH-2 76mm (juga dikenal sebagai SA2). (more…)
Kerja sama antara Airbus Defence and Space dan Saab telah menandai langkah maju yang signifikan dalam modernisasi kemampuan pertahanan udara Eropa. Keputusan Angkatan Udara Jerman (Luftwaffe) untuk memilih sistem Arexis Electronic Warfare (EW) dari Saab untuk melengkapi Eurofighter Typhoon mereka bertujuan untuk menciptakan varian khusus: Eurofighter EK (Elektronischer Kampf / Electronic Combat). Proyek ambisius ini dirancang untuk memastikan Eurofighter tetap relevan di medan pertempuran modern dan, yang paling penting, mengisi kekosongan kapabilitas kritis yang akan ditinggalkan oleh pensiunnya armada Tornado ECR mulai tahun 2030.
Korps Marinir Amerika Serikat (U.S. Marine Corps/USMC) telah mengambil langkah signifikan dalam penguatan kerja sama pertahanan dengan Filipina melalui pengerahan aset udara nirawak canggih. Unit dari Marine Unmanned Aerial Vehicle Squadron (VMU)-1 telah dikerahkan untuk beroperasi dari Pangkalan Udara Basa di provinsi Pampanga, Filipina. Pengerahan ini, yang dilakukan atas permintaan Manila, secara eksplisit ditujukan untuk meningkatkan kapabilitas Intelijen, Pengawasan, dan Pengintaian (ISR) regional, khususnya di perairan sengketa Laut Cina Selatan (LCS), yang oleh Filipina disebut Laut Filipina Barat (West Philippine Sea).
Angkatan Darat AS (US Army) terus mendorong batas-batas integrasi teknologi komersial ke dalam operasi tempur melalui inisiatif “Transforming in Contact” (TiC). Dalam perkembangan terbaru yang signifikan, militer AS telah melaksanakan uji coba lapangan terhadap sistem tethered drone (drone tertambat) berdaya tahan lama yang dilengkapi dengan pod Perang Elektronik (EW) yang canggih.
Kecepatan Mach 2.83—hampir tiga kali kecepatan suara—merupakan ambang batas yang sangat jarang dicapai dalam dunia penerbangan tempur. Batas ini melampaui kemampuan sebagian besar jet tempur modern yang kecepatan maksimumnya umumnya berhenti di kisaran Mach 2.2.
Pada tanggal 26 Oktober 2025, Angkatan Laut Amerika Serikat mengalami insiden signifikan di Laut Cina Selatan ketika dua pesawat militernya jatuh dalam rentang waktu yang sangat singkat. Kedua pesawat tersebut beroperasi dari kapal induk bertenaga nuklir, USS Nimitz, yang sedang melakukan operasi rutin di perairan internasional. Meskipun kedua insiden terjadi secara terpisah, kejadian ganda yang melibatkan helikopter dan jet tempur ini menarik perhatian global, terutama mengingat lokasi geografisnya yang sensitif. (more…)
Peralihan strategis di tubuh militer global kini tidak lagi hanya soal jet tempur tercanggih atau kapal induk terbesar, melainkan soal seberapa cerdas sebuah sistem dapat bekerja. Angkatan Udara AS baru-baru ini menjadi sorotan setelah mengintegrasikan Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) ke dalam urat nadi operasionalnya, yaitu perencanaan penyimpanan amunisi. Program revolusioner bernama Automated Master Storage Planning (A-MSP) ini menandai langkah besar dalam modernisasi logistik militer.
Setelah berhasil menyalip Cina dalam pemeringkatan kekuatan udara dunia oleh World Directory of Modern Military Aircraft (WDMMA) pada tahun 2025, India seolah enggan berpuas begitu saja. Hal ini dibuktikan dengan diaktifkannya kembali Stasiun Angkatan Udara Mudh-Nyoma sebagai pangkalan udara tempur operasional tertinggi di dunia. Terletak di wilayah terpencil Ladakh, India dan berada pada ketinggian luar biasa sekitar 13.700 kaki (sekitar 4.200 mdpl), pangkalan ini bukan hanya sebuah pencapaian teknik, tetapi juga manifestasi tegas dari strategi pertahanan India.