Hadapi Iran, AS Gelar Rudal Hipersonik “Dark Eagle” di Timur Tengah Meski Sarat Masalah

Eskalasi di Timur Tengah memaksa Amerika Serikat untuk mulai mengeluarkan kartu as terbarunya. Laporan terbaru dari Bloomberg mengungkapkan bahwa Komando Sentral AS (CENTCOM) telah mengajukan permintaan untuk mengerahkan rudal hipersonik “Dark Eagle” milik Angkatan Darat AS (US Army) guna menghadapi ancaman Iran.
Langkah di atas diambil bukan tanpa alasan, intelijen AS mendeteksi bahwa Teheran mulai memindahkan peluncur rudalnya jauh ke wilayah pedalaman yang sulit dijangkau oleh senjata konvensional. Namun, di balik label kecanggihannya, pengerahan perdana rudal berkemampuan Mach 5 ini disebut-sebut sarat dengan masalah pelik, mulai dari keterbatasan inventaris hingga krisis rantai pasok global yang mencekik Pentagon.
Kebutuhan akan rudal hipersonik berkecapatan Mach 5 ini mencuat setelah laporan internal menunjukkan bahwa inventaris senjata jarak jauh AS berada pada level yang mengkhawatirkan. AS dilaporkan telah menghabiskan hampir dua pertiga (2/3) stok rudal jelajah JASSM-ER (Joint Air-to-Surface Standoff Missile-Extended Range) hanya untuk meladeni target-target yang berafiliasi dengan Iran.
Bukan hanya JASSM-ER yang diluncurkan dari udara, stok rudal jelajah Tomahawk yang menjadi tulang punggung kekuatan laut AS pun dikabarkan ikut terkuras secara signifikan. Penggunaan masif Tomahawk dalam serangan balasan terhadap proksi-proksi Iran di kawasan tersebut membuat Pentagon harus berhitung ulang mengenai kesiapan tempur mereka jika perang skala penuh pecah, mengingat rudal-rudal ini adalah instrumen utama untuk menghancurkan sistem pertahanan udara lawan.
Operasi di Iran Kuras Anggaran: AS Bakar Rp30 Triliun Hanya untuk 850 Rudal Tomahawk!
CENTCOM is looking to deploy the US Army’s Long-Range Hypersonic Weapon (Dark Eagle) to the Middle East in order to strike missile launchers that have been moved to sites deep within Iran -Bloomberg
The Dark Eagle, still undergoing testing, has a limited stockpile of rounds. pic.twitter.com/jYsomwbQOo
— OSINTtechnical (@Osinttechnical) April 30, 2026
Pengerahan sistem Long-Range Hypersonic Weapon (LRHW) atau Dark Eagle diharapkan menjadi solusi untuk menjangkau peluncur rudal balistik Iran yang kini telah digeser jauh ke pedalaman. Namun, unit operasional Dark Eagle sendiri saat ini jumlahnya sangat terbatas karena masih dalam tahap awal produksi.
Masalah kian rumit karena upaya AS untuk membangun kembali stok rudal—baik JASSM-ER, Tomahawk, maupun Dark Eagle—terbentur isu rantai pasok global. Cina memegang kendali ketat terhadap produksi logam tanah jarang (rare earth metals), material vital yang dibutuhkan untuk komponen elektronik sensitif, magnet motor, dan sistem pemandu rudal modern. Dengan restriksi ekspor dari Beijing, Pentagon diprediksi memerlukan waktu bertahun-tahun untuk mengisi kembali gudang amunisi mereka yang kosong.
Meskipun gencatan senjata secara teknis telah berlaku sejak 9 April 2026, permintaan pengerahan Dark Eagle ke Timur Tengah menjadi sinyal kuat bahwa Washington sedang mengalami dilema logistik. Di satu sisi, mereka harus merespons klaim superioritas hipersonik Fattah-1 dan Fattah-2 milik Iran. Di sisi lain, AS harus menghadapi kenyataan pahit bahwa ketergantungan material pada kompetitor strategisnya, Cina, telah membatasi kapasitas industri pertahanan mereka di saat genting. (Gilang Perdana)
Siap Tempur dalam Hitungan Minggu, ‘Dark Eagle’ US Army Jadi Jawaban AS Atas Rudal Hipersonik Cina


