Chengdu J-20 Cina Tak Terdeteksi di Selat Korea, Indikasi ‘Kelemahan’ Sistem Radar Korea Selatan dan Jepang

Laporan dari South China Morning Post (SCMP), surat kabar yang berbasis di Hong Kong dapat menjadi peringatan serius bagi sistem radar pertahanan udara Korea Selatan dan Jepang, pasalnya jet tempur stealth Cina, Chengdu J-20 disebut pernah terbang melintasi Selat Timur di Selat Korea, tanpa terdeteksi oleh radar Korea Selatan maupun Jepang.
Sebagai catatan, Selat Timur di Selat Korea adalah setengah bagian dari Selat Korea yang terletak di sebelah timur Pulau Tsushima, berbatasan dengan Jepang, dan terletak di antara zona pertahanan Korea Selatan dan Jepang. Laporan SCMP mengungkapkan bahwa aksi terbang lintas tanpa terdeteksi radar terjadi pada 27 Juli 2025.
Masih dari sumber yang sama, J-20 yang melakukan aksi terbang tanpa terdeteksi radar, merupakan unit yang ditugaskan di Brigade Udara Pertama Angkatan Udara Cina (PLAAF).
Beijing belum mengeluarkan respons resmi terhadap laporan SCMP, dengan mempertahankan sikap NCND—“neither confirm nor deny” (tidak mengonfirmasi maupun menyangkal), Cina tampaknya menyiratkan bahwa jet tempurnya berhasil menyusup melalui jaringan pertahanan udara Korea Selatan dan Jepang. Posisi ini juga menunjukkan bahwa bahkan Amerika Serikat gagal menyadari penerbangan tersebut.
Ibarat mengambil momentum, Cina sejak itu memamerkan pesawat siluman utamanya, J-20 dan J-35, di acara-acara besar termasuk parade militer Hari Kemenangan 3 September—yang menandai peringatan berakhirnya Perang Dunia II—dan Pameran Udara Changchun pada 20 September.
Saat Cina memamerkan kemampuan siluman mereka yang terus berkembang, sebaliknya sistem radar jarak jauh Korea Selatan yang menjadi kunci untuk mendeteksi pesawat tempur Cina, sepertinya mulai menunjukkan usia mereka. Beberapa unit radar tetap (fixed radar), yang diperkenalkan sejak 40 tahun lalu, kini mendekati batas masa pakainya.
Radar-radar pertahanan udara Korea Selatan harus dimatikan selama 100 hingga 200 jam setiap tahun untuk pemeliharaan, dan setiap rencana untuk mengakuisisi sistem radar yang secara khusus dirancang untuk mendeteksi pesawat siluman tetap belum terdefinisi karena keterbatasan teknologi dan anggaran.
Buntut dari laporan J-20 terbang tanpa terdeteksi radar, rupanya telah membuat geger pihak Korea Selatan. Masalah ini muncul kembali selama audit parlemen Angkatan Udara yang diadakan di Markas Besar Angkatan Udara di Gyeryong, Chungcheong Selatan pada hari Kamis.
Anggota parlemen dari Partai Kekuatan Rakyat (People Power Party), Lim Jong-deuk, bertanya kepada Kepala Staf Angkatan Udara Jenderal Son Seok-rak, “Meskipun Selat Timur di Selat Korea bukan di bawah yurisdiksi kita, jaraknya hanya sekitar 20 kilometer dari wilayah udara kita. Apakah Anda mengatakan militer tidak menyadari bahwa pesawat musuh bisa masuk dalam waktu satu atau dua menit?”
“Tanggal penerbangan tidak disebutkan, jadi tidak ada cara untuk memverifikasinya,” jawab Sohn, menambahkan, “Tidak ada bukti konkret yang mengonfirmasi bahwa J-20 melintas.”
Sikap resmi Angkatan Udara adalah bahwa Selat Timur berada di luar zona identifikasi pertahanan udara (KADIZ) Korea Selatan, yang berarti mereka tidak dapat mengonfirmasi apakah pesawat itu terdeteksi.
Data radar dari Pusat Kendali dan Pelaporan Utama Angkatan Udara Korea Selatan tidak menunjukkan jejak penerbangan J-20 di sekitar 27 Juli, menurut sumber militer. Jika jet tempur Cina terbang ke Selat Timur tanpa melewati KADIZ, kemungkinan besar akan membutuhkan pengisian bahan bakar di udara karena rute yang diperpanjang.
Tidak adanya bukti menunjukkan bahwa pesawat tersebut mungkin tidak pernah lepas landas, atau Cina sengaja mengaburkan jalur penerbangan dan waktunya. Militer Korea Selatan belum mengesampingkan salah satu kemungkinan tersebut.
[the_ad id=”77299″]
Radar Hanud Korea Selatan
Untuk saat ini, sistem radar jarak jauh Korea Selatan yang ada masih dapat melacak pesawat siluman dalam kondisi yang menguntungkan. “Dengan menyesuaikan pengaturan sensitivitas, radar bahkan dapat mendeteksi kawanan burung migran,” kata seorang pejabat Angkatan Udara.
Namun, karena radar tersebut harus melayani berbagai fungsi, militer mengakui bahwa sistem deteksi stealth khusus pada akhirnya diperlukan.
Dari 12 unit radar jarak jauh tetap yang saat ini beroperasi, delapan model FPS-117K diperkenalkan antara tahun 1987 dan 1992 dan mendekati 40 tahun beroperasi. Empat unit FPS-117E1 sisanya dipasang pada tahun 2004 dan juga berusia lebih dari dua dekade.
Angkatan Udara melaporkan 10 kerusakan pada FPS-117K tahun ini saja, yang mengakibatkan sekitar 100 jam waktu henti (downtime), dan FPS-117E1 mengalami pemadaman serupa dengan total 90 jam.
Seoul berencana menghabiskan 260,3 miliar won ($180,8 juta) hingga tahun 2029 untuk memutakhirkan sistem radar yang ketinggalan zaman tersebut, tetapi hingga modernisasi selesai, Angkatan Udara Korea Selatan harus memantau potensi ancaman siluman dengan apa yang disebut oleh seorang pejabat sebagai “failing eyes.” (Gilang Perdana)
Cina Pamer Drone Kamikaze ASN-301: Ancaman Baru bagi Radar AS di Pasifik Barat



Judulnya seolah olah meremehkan China. Alih alih menyatakan radarnya lemah seharusnya mereka juga melihat bahwa secara tidak langsung J 20 China resmi memegang status pespur gen 5 😁.
sistem hanud korsel/jepang antara produk mamariki atau produk lokal mereka sendiri (yang pengembangannya juga palingan dibantu mamariki juga), jadi ya daripada repot² ngelewatin Alaska buat kasih salam ke radar mamariki ya lebih efisien lewat korsel sama jepang, toh hasilnya bakalan sama aja atau jika ada perbedaan juga ngga jauh
“Laporan SCMP mengungkapkan bahwa aksi terbang lintas tanpa terdeteksi radar terjadi pada 27 Juli 2025.”
Oh ya? Padahal RCS si naga (dari berbagai sumber) lumayan gede dari F-35 apalagi F-22 walau sedikit di bawah Su-57 lho, beneran dari radarnya atau dari personil yang mengoperasikannya tuh? 🤔
“dan setiap rencana untuk mengakuisisi sistem radar yang secara khusus dirancang untuk mendeteksi pesawat siluman tetap belum terdefinisi karena keterbatasan teknologi dan anggaran.”
Sekelas mereka saja masih ‘ngeluh’ soal anggaran, apalagi kita ya? 😂