Pengganti AWACS E-3 Sentry: Mengapa USAF Pilih E-2D Hawkeye, Bukan Boeing E-7 Wedgetail?

Keputusan Angkatan Udara AS (USAF) pada 26 Juni 2025, ibarat pukulan bagi Boeing Defense, Space & Security di segmen pesawat peringatan dini atau Airborne Warning and Control System (AWACS), pasalnya USAF telah menolak proposal Boeing untuk memasok E-7 Wedgetail sebagai pengganti E-3 Sentry yang akan dipensiunkan bertahap.
Rencana awal USAFakan membeli hingga 26 unit E-7 Wedgetail, merupakan kontrak yang sangat besar. Dengan pembatalan ini, Boeing kehilangan potensi pendapatan yang sangat besar hingga miliaran dollar.
Keputusan USAF mengejutkan banyak pihak, karena sebelumnya USAF telah mengalokasikan dana dan menandatangani kontrak dengan Boeing untuk memproduksi prototipe E-7. Namun, laporan awal tersebut segera diikuti oleh rilis dokumen anggaran resmi yang mengonfirmasi bahwa USAF tidak mengalokasikan dana lebih lanjut untuk program ini.
Sementara alasan pembatalan E-7 Wedgetail, yaitu “penundaan signifikan dengan kenaikan biaya” dan kekhawatiran tentang kemampuan bertahan hidup pesawat di lingkungan pertempuran modern, yang mencerminkan adanya masalah dalam manajemen program dan kapabilitas platform itu sendiri. USAF menilai bahwa platform pesawat besar dan mudah terlihat seperti E-7 tidak lagi sesuai dengan strategi perang modern, yang memerlukan sensor yang lebih tersebar dan sulit dilacak.
Menurut laporan dari pejabat senior militer, program E-7 mengalami kenaikan biaya yang signifikan, jauh melampaui perkiraan awal. Biaya prototipe yang awalnya direncanakan sebesar $588 juta membengkak hingga $724 juta.
Sebagai gantinya, pilihan USAF sebagai pengganti E-3 Sentry beralih ke E-2D Advanced Hawkeye produksi Northrop Grumman, sebagai solusi sementara, yang berarti Boeing kehilangan kesempatan untuk mendominasi pasar AWACS di angkatan bersenjata terbesar di dunia.
Gantikan E-3F Sentry, Perancis Kaji Akuisisi Saab GlobalEye untuk Next Generation AEW&C
Selain itu, investasi jangka panjang USAF pada sistem berbasis luar angkasa juga menunjukkan pergeseran strategi yang menjauh dari platform udara berawak, yang merupakan spesialisasi Boeing.
USAF akan mengalihkan fokus dan dana ke pengembangan sistem intelijen, pengawasan, dan pengintaian (ISR) berbasis satelit yang dapat memberikan cakupan global tanpa risiko di medan pertempuran.
Pilihan Angkatan Udara AS untuk melirik pesawat turboprop E-2D Hawkeye sebagai solusi AWACS sementara, didasarkan pada beberapa faktor strategis dan operasional, terutama dalam konteks pertempuran di masa depan.
E-2D Advanced Hawkeye Jatuh, AL AS Gelar Operasi Pengangkatan Bangkai Pesawat
Angkatan Udara AS aka mengadopsi doktrin ACE (Agile Combat Employment), yang menekankan penyebaran kekuatan udara secara cepat ke pangkalan-pangkalan kecil dan terpencil (austere locations) untuk menghindari serangan musuh. E-2D, yang dirancang untuk beroperasi dari kapal induk yang memiliki landasan pacu terbatas, sangat cocok dengan filosofi ini. Pesawat bermesin turboprop ini dapat lepas landas dan mendarat di landasan yang lebih pendek daripada pesawat jet yang lebih besar seperti E-3 atau E-7.
Meskipun E-2D memiliki kemampuan yang lebih terbatas dan tidak dapat menjangkau seluruh teater operasi seperti E-3 Sentry, E-2D menawarkan kapabilitas yang kuat di area yang lebih kecil dan dapat bekerja secara efektif dalam lingkungan yang terdistribusi. Filosofinya adalah lebih baik memiliki aset yang andal dan tersedia untuk mengisi kekosongan, daripada menunggu platform yang lebih ambisius namun bermasalah.
Grumman E-2C Hawkeye: Pesawat Airborne Early Warning and Control (AEW&C) Pertama di Asia Tenggara
USAF berencana memulai akuisisi pesawat E-2D Hawkeye sebagai bagian dari permintaan Anggaran Tahun Fiskal 2026. Anggaran tersebut mengalokasikan dana untuk pembentukan unit ekspedisi gabungan baru dengan lima pesawat E-2D. Akuisisi ini bertujuan untuk mengisi kekosongan kemampuan yang akan muncul setelah E-3 Sentry dipensiunkan secara bertahap.
Keputusan pembatalan E-7 menuai banyak kritik dari Kongres AS, yang sebelumnya telah menyetujui pendanaan untuk program E-7, dan saat ini sedang berupaya untuk meninjau kembali keputusan tersebut. Namun, saat ini, posisi resmi USAF adalah membatalkan program E-7 dan mencari solusi yang dianggap lebih sesuai untuk kebutuhan masa depan.
Meronda di ‘Langit’ Ukraina, Australia Kirim Stasiun Radar Terbang – Boeing E-7A Wedgetail
Sejatinya, E-7 Wedgetail sudah menjadi produk yang matang dan operasional di Australia, Turki, Korea Selatan, dan Inggris. Namun, tingginya biaya tidak terkait dengan pengembangan pesawat dari nol, melainkan dari modifikasi spesifik yang diminta oleh USAF. Filosofi Angkatan Udara AS sering kali membutuhkan penyesuaian yang mendalam pada platform yang sudah ada untuk memenuhi standar dan sistem yang unik, ini adalah alasan utama mengapa biaya pengembangan E-7 membengkak.
USAF menuntut modifikasi signifikan untuk mengintegrasikannya dengan sistem yang ada di AS. Ini termasuk integrasi dengan arsitektur sistem misi terbuka (open mission systems architecture), komunikasi satelit yang lebih canggih, dan GPS yang ditingkatkan. USAF tidak langsung membeli E-7 versi standar.
Sebaliknya, mereka memesan dua pesawat prototipe dengan kontrak senilai $2,6 miliar. Biaya ini jauh di atas perkiraan awal dan mencerminkan besarnya pekerjaan rekayasa yang diperlukan untuk memenuhi persyaratan khusus USAF. (Bayu Pamungkas)
Australia Canangkan Penggantian E-7A Wedgetail, Bagaimana Nasib Indonesia untuk Punya AEW&C?



yang aku maksud bukan e-7 wedgetailnya sih, tapi yang setipe, asalkan awacs gitu aja, entah itu erieye ataupun platfrom lainnya, Indonesia jelas butuh banyak, setidaknya cukup untuk minimal dideploy di pangkalan strategis di pulau² besar sehingga bisa mengcover ruang udara nasional secara menyeluruh, akan lebih bagus jika bisa membagi tugas jadi yang buat patroli sendiri yang escort pespur juga ada sendiri
Klo liat Hawkeye, kebayang klo PT DI buat bedasarkan platform CN 235 sejenisnya.
E-7 Wedgetail mahal. Sekitar usd 800 juta per unit. Kita butuh 3 unit. Jadi total usd 2,4 billion.
Sementara E-2D advance hawkeye jauh lebih murah. Sekitar usd 320 juta per unit. Kita butuh 7 unit. Total 320 x 7 = usd 2,24 billion.
E-7 Wedgetail butuh landasan panjang sedang E-2D Hawkeye bisa dari landasan pendek jadi cocok bila diterbangkan dari pangkalan aju.
Kalo mau wah ya E-7 biar keren tetapi kalo dari kebutuhan dan dana yang terbatas maka E-2D lebih cocok. Saya lebih suka E-2D daripada E-7.
nah, kalau yang semacam ini termasuk vital, setidaknya untuk mendukung sekitar 160-70 pesawat tni, kedepannya setidaknya butuh 3 unit atau 5 unit atau idelanya 10 unit pesawat semacam ini
E-3 dipensiunkan secara bertahap sejumlah kecil unit radar terbang tersebut akan berkolaborasi dengan E-2D yang akan diakuisisi, Boeing seharusnya tak pasrah begitu saja bikin inovasi atau terobosan baru agar USAF tak berpaling ke lain hati pasca penolakan proposalnya dan sebelum pilihan jatuh ke Northrop Grumman E-2D Advanced Hawkeye 😅 jika USAF punya E-2D apakah tak tumpang tindih dengan E-2D milik US Navy pada saat pergelarannya? 🤔