Senjata pelontar granat otomatis alias Automatic Grenade Launcher (AGL) tak bisa dikesampingkan dari eksistensi satuan infanteri mekanis. Di arsenal TNI, jenis senjata ini banyak dipasang pada dudukan (mounting) ranpur/rantis. Seperti halnya yang diadopsi Indonesia, pelontar granat otomatis di pasaran dominan mengusung standar kaliber NATO 40×53 mm, dimana Pindad SPG-3 tak lain adalah produk lisensi dari CIS 40 AGL buatan Singapura. (more…)
Bagi Puspenerbad, helikopter angkut multiguna Mil Mi-17-V5 adalah tulang punggung dalam kegiatan dukungan logistik dan bantuan pergerakan personel di Papua. Dan tak sekali dua kali, helikopter ini mendapatkan serangan berupa tembakan dari permukaan. Meski begitu, tak satu pun Mi-17 TNI AD yang dilaporkan mengalami crash akibat tembakan yang diduga dilancarkan oleh KKB OPM. (more…)
Nama pembom yang satu ini begitu lekat bagi warga Indonesia, betapa tidak, F-111C Aardvark adalah pembom yang pernah disiapkan untuk menyerang instalasi vital di Jakarta. Bukan itu saja, masih di tahun 1999, yakni pasca jejak pendapat di Timor Timur (sekarang Timor Leste), beberapa kali F-111 dan F/A-18 Hornet milik Australia dikabarkan kerap memasuki wilayah udara Indonesia. Salah satu kejadian dramatis seperti kisah penerbang Hawk 209 TNI AU yang sampai melakukan scramble untuk mengejar F-111 yang terbang rendah melintasi Lanud El Tari, Kupang. (more…)
Setiap angkatan laut punya preferensi tersendiri atas adopsi kanon reaksi cepat – Close In Weapon System (CIWS). Lantaran adanya dinamika dan kebutuhan, ada kalanya penggunaan jenis kanon CIWS bisa berbeda-beda jenis, ambil contoh TNI AL yang mengadopsi kanon CIWS dari pabrikan Rheinmetall dan Norinco. Serupa tapi tidak sama, AL Korea Selatan dikabarkan akan menggunakan kanon CIWS Phalanx generasi terbaru untuk kapal perusak rudal Sejong Daewang Class (KDX III) batch II. Yang unik, Sejong Daewang Class batch I yang terdiri dari tiga unit kapal perusak, justru mengusung kanon CIWS Goalkeeper besutan Thales Nederland. (more…)
Naval Group (d/h DCNS) bukanlah nama baru dalam jagad peserta kompetisi pada program pengadaan kapal selam TNI AL. Persisnya sejak tahun 2015, telah terjalin komunikasi yang intens antara Indonesia dan Perancis untuk pengadaan kapal selam, kala itu yang mencuat adalah Scorpene 1000, yang dikenal sebagai varian ‘mini’ dari Scorpene Class. Dan setelah lama tak tersebut namanya, nama Naval Group kembali mencuat, khususnya dikaitkan dengan diskusi intens lanjutan atas keinginan Indonesia untuk mengakuisisi Scorpene Class. (more…)
Naval diplomacy pada hakekatnya tak melulu berupa pengerahan armada kapal kombatan, guna menancapkan pengaruh dan kehadiran kekuatan laut juga dapat diwujudkan lewat kehadiran kapal latih hingga kapal rumah sakit. Seperti Beijing yang ngotot atas serangkaian klaim di Laut Cina Selatan, belum lama ini diwartakan telah mengirimkan kapal rumah sakit terbarunya ke kawasan Laut Cina Selatan. (more…)
Ibarat harap-harap cemas lantaran khawatir kena PHP (lagi), mungkin kini sedang dirasakan para netizen pemerhati alutsista di Indonesia. Pasalnya ‘ujag-ujug’ pengadaan jet tempur pengganti F-5E/F Tiger II telah menjadi polemik berkepanjangan, khususnya setelah harapan atas kedatangan Sukhoi Su-35 mulai redup, meski tak juga dikatakan batal. (more…)
Sebagai pesawat angkut multiguna yang telah teruji, C-130 Hercules dengan mudah dapat diadaptasi ke beberapa varian. Kemampuan C-130 sebagai pesawat intai pun sudah lama diperbincangkan, termasuk TNI AU yang pernah mengoperasikan varian intai maritim C-130H MP pada dekade 80-an. Dan lepas dari itu, ada sosok C-130 “Senior Scout” yang tampil spesifik mengedepankan misi Intelligence, Surveillance and Reconnaissance (ISR). (more…)
Pada dasarnya, setiap drone dapat difungsikan untuk misi bunuh diri alias kamikaze, namun yang jadi tantangan, tak semuanya ideal untuk menjalankan peran sebagai loitering munition. Setidaknya dibutuhkan kombinasi kecepatan dan payload yang memadai untuk bisa berperan sebagai drone kamikaze. Seperti di Indonesia, dari begitu banyak (prototipe) drone yang dirancang, masih jarang atau bahkan tak satu pun yang digadang khusus sebagai drone kamikaze. (more…)
Kiprah F-16 serasa tak ada matinya, termasuk varian lawas jet tempur legendaris nan battle proven ini masih saja dicari dan dialihfungsi untuk misi lain. Setelah F-16 A yang sukses diubah menjadi QF-16 Zombie Viper (target drone), giliran F-16 A/B milik AU Israel yang akan dibeli oleh perusahaan penyedia air combat training asal Kanada, Top Aces. (more…)