Nyaris Macet, Australia dan Perancis Sepakati Perjanjian untuk Lanjutkan Pembangunan Kapal Selam Attack Class

Sengkarut pengadaan kapal selam rupanya bukan cuma dialami oleh Indonesia, pun negara dengan anggaran besar dan terkenal makmur, yaitu Australia, juga menghadapi masalah, yang tentu kasusnya beda dengan Indonesia. Seperti telah diwartakan beberapa media global, Pemerintah Australia nyaris frustasi atas program pengadaan 12 unit kapal selam diesel listrik Attack Class.

Baca juga: AL Australia Bangkitkan Nama Attack Class, Kini dalam Sosok Kapal Selam Masa Depan

Sebagai pangkal musabab adalah meroketnya nilai kontrak, dari yang disepakati pada awalnya 12 unit kapal selam akan dibangun dengan nilai Aus$50 miliar, kemudian meroket menjadi Aus$90 miliar atau setara US$70 miliar.

Pemerintah Australia awalnya bersikukuh bahwa kenaikan nilai kontrak terjadi karena inflasi dan perubahan nilai tukar mata uang yang diperhitungkan. Hugh White Profesor Kajian Strategis di Australian National University di situs abc.net.au (20/1/2021) menyebut, bahwa dengan nilai Aus$50 miliar harganya sudah terlalu tinggi. “Ini artinya harga satu unit kapal selam mencapai lebih dari Aus$4 miliar,” kata White.

Rupanya masalah bukan soal kenaikan harga saja, seperti diketahui, Pemerintah Australia sangat concern untuk memberdayakan industri dalam negeri di setiap program pengadaan alutsista. Nah, dalam kontrak Attack Class, pihak Australia ingin adanya kesepakatan bahwa 60 persen produksi atas komponen kapal selam tersebut dilakukan oleh perusahaan dalam negeri. Ini artinya, Australia ingin agar alokasi dana sebagian besar dapat berputar untuk menggerakan industri lokal.

Sebagai informasi, kapal selam Attack Class dibangun menggunakan teknologi dari Naval Group, Perancis, sementara proses pembangunan kapal selam dilakukan di Australia. Merujuk ke sejarahnya, lewat kompetisi yang ketat, AL Australia resmi memilih Naval Group pada tahun 2016.

Kontrak dengan Naval Group mencakup pembangunan 12 unit kapal selam yang akan diserahkan perdana pada tahun 2030. Nilai yang disepakati adalah Aus$50 miliar untuk pengadaan 12 unit kapal selam. Basis yang diambil sebagai rancang bangun Attack Class adalah Shortfin Barracuda Block 1A, yakni jenis kapal selam diesel listrik yang dilengkapi empat peluncur torpedo 533 mm. Sebagai bukti ToT (Transfer of Technology), kesemua kapal selam Attack Class akan dibangun oleh ASC di fasilitas galangan Osborne Naval Shipyard di Australia Selatan.

Porsi 60 persen produksi yang dilakukan perusahaan dalam negeri Australia, rupanya jadi sandungan dalam program Attack Class, dimana Perancis belum sepakat atas porsi 60 persen yang diminta Canberra, dan itu membuat proses produksi menjadi tertunda.

Mungkin menyadari arti strategis dari pesanan ‘jumbo’ dari Australia, belakangan Perancis mulai melunak. Dikutip dari Janes.com (4/3/2021), dikabarkan telah ada kesepakatan antara Australia dan Perancis soal pendanaan, termasuk keterlibatan industri lokal. Menurut sumber dari Janes.com, Perjanjian Kemitraan Strategis akan diubah untuk menyertakan komitmen oleh Naval Group untuk membelanjakan minimal 60 persen dari nilai kontrak di Australia selama masa program.

Terobosan tersebut dicapai setelah kunjungan oleh Pierre √Čric Pommellet, selaku CEO global Naval Group yang secara khusus bertandang ke Australia untuk melakukan negosiasi. Kabarnya, Pommellet meninggalkan Australia pada 28 Februari setelah menghabiskan dua minggu di karantina terkait prosedur Covid-19.

Tentang kapal selam Attack Class, rencananya akan disokong teknologi AIP (Air Independent Propulsion), menjadikan endurance kapal selam ini disebut-sebut mampu menyelam terus menerus selama 80 hari. Kecepatan kapal selama ditaksir 20 knots di bawah air, dan dapat menjelajah sejauh 33 ribu km pada kecepatan 10 knots. Attack Class diawaki oleh 60 personel, dan punya berat 4.500 ton serta panjang 97 meter. Rencananya seluruh pesanan Attack Class akan diserahkan tuntas pada tahun 2050.

Baca juga: Collins Class Australia – Kapal Selam Canggih dengan Segudang Masalah

Melihat negosiasi yang dilakukan Pemerintah Australia untuk memberdayakan industri dalam negerinya, rasanya layak ditiru oleh Indonesia. Selain memuluskan transfer of technology, pemberdayaan industri dalam negeri secara langsung akan membuka lapangan pekerjaan baru. Itulah esensi yang dipegang teguh Australia selama ini. (Gilang Perdana)

15 Comments