Sembari Blokade Selat Hormuz, US Navy Gelar Operasi Sapu Ranjau Skala Besar Berbasis Drone Bawah Laut

Situasi di Timur Tengah mencapai titik didih baru setelah perundingan damai dengan Iran yang berlangsung di Pakistan dinyatakan berakhir buntu tanpa kesepakatan. Merespons kegagalan diplomasi tersebut, Donald Trump mengeluarkan perintah untuk melakukan blokade total terhadap Selat Hormuz guna memutus jalur logistik Iran.
Bersamaan dengan mandat keras tersebut, Komando Pusat AS (US CENTCOM) langsung melancarkan operasi pembersihan ranjau laut besar-besaran di sepanjang selat, mengingat intelijen mengestimasi Iran telah menebar antara 2.000 hingga 6.000 ranjau laut yang kini dalam kondisi “liar” karena pihak Teheran dilaporkan mulai kehilangan koordinat lokasi penyebaran munisi tersebut.
Laksamana Brad Cooper, Komandan CENTCOM, menyatakan bahwa operasi ini bukan sekadar pembersihan rutin, melainkan upaya mendesak untuk menetapkan jalur aman (safe passage) baru bagi industri maritim global. Mengingat Selat Hormuz menyokong 20% pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia, penutupan jalur ini akibat ancaman ranjau dianggap sebagai ancaman langsung terhadap stabilitas ekonomi internasional.
Dalam operasi yang diberi sandi “Epic Fury” ini, militer AS meninggalkan platform lawas era 1980-an seperti kapal penyapu ranjau Avenger class dan helikopter Sea Dragon, dan beralih sepenuhnya pada teknologi otonom serta kapal perang generasi terbaru untuk menghadapi risiko kerusakan kapal perang yang sangat tinggi di perairan tersebut.
💥BREAKING:
US FORCES STARTED MINE CLEARANCE MISSION IN HORMUZ: CENTCOM. pic.twitter.com/8DI3uJNcsb
— Marcus Frederick Nero (@Marcus_F_Nero) April 11, 2026
Kekuatan utama dalam misi ini bertumpu pada kehadiran kapal perang USS Santa Barbara (LCS-32) dan USS Canberra (LCS-30) yang mengusung paket misi Mine Countermeasures (MCM) tercanggih. Kedua kapal Littoral Combat Ship ini mengoperasikan sistem deteksi laser AN/AES-1 dari helikopter MH-60S untuk memindai ranjau di permukaan, serta menggunakan AN/ASQ-235 untuk proses netralisasi melalui peledakan presisi.
Selain itu, pengerahan drone bawah air seperti AQS-20 sonar dan unit otonom dari Skana Robotics, termasuk Bull Shark ASV dan Stingray AUV, memungkinkan US Navy memetakan ancaman di kedalaman laut tanpa harus membahayakan nyawa personel di wilayah yang rawan serangan asimetris.
Strategi blokade dan pembersihan ini menjadi ujian berat bagi ketahanan armada laut AS, terutama karena 80-90% armada kapal cepat Iran masih dalam kondisi siap tempur untuk melakukan perlawanan balik.
Pengawalan ketat dari dua kapal perusak rudal (guided-missile destroyers) US Navy terhadap unit-unit pembersih ranjau menegaskan bahwa Washington siap menggunakan kekuatan militer penuh untuk memastikan perintah blokade Trump berjalan efektif, sekaligus mengamankan jalur perdagangan vital dari ancaman ranjau yang kini bertebaran tanpa kendali di sepanjang koridor strategis tersebut. (Bayu Pamungkas)
US Navy Tak Punya Kapal Penyapu Ranjau Dedicated Lagi: Strategi Baru Angkatan Laut Terkuat Dunia



emang dasarnya munafik negara satu ini, maksa gencatan pas dituruti malah blokade, kalau iran mau menggosongkan seluruh negara teluk yang jadi sekutu mimiriki (asalkan bukan situs agama) jadi terasa sah bagi mereka, karena diperlakukan seperti ini