Lumpuhnya Armada Garda Depan: Tragedi di Pangkalan Konarak dan Akhir Era Kapal Perang Tua Iran

Hari pertama Operasi Epic Fury (28 Februari 2026) yang dilancarkan oleh kekuatan gabungan Amerika Serikat dan Israel menandai babak paling kelam dalam sejarah modern Angkatan Laut Iran (Nedaja). Dalam serangan udara presisi yang masif, kekuatan maritim Teheran di kawasan Teluk Oman mengalami kelumpuhan yang sistematis.
Baca juga: Epic Fury: Menakar Pergeseran Doktrin Militer AS-Israel dalam Serangan Terbaru ke Iran
Fokus serangan tidak hanya tertuju pada pelumpuhan infrastruktur nuklir, tetapi secara spesifik mengincar kemampuan proyeksi kekuatan laut Iran, yang selama ini dianggap sebagai instrumen utama untuk mengganggu jalur perdagangan minyak global di Selat Hormuz.
Pusat kehancuran terpantau jelas di Pangkalan Angkatan Laut Konarak, sebuah instalasi strategis di tenggara Iran. Di lokasi ini, kapal perang paling modern kebanggaan Iran, IRIS Jamaran (76) dari Moudge class, dilaporkan tenggelam tepat di dermaga tempatnya bersandar.
IRIS Jamaran, yang merupakan simbol kemandirian teknologi militer Iran, hantam oleh rentetan serangan drone dan rudal presisi yang membuatnya terbakar hebat sebelum akhirnya kandas di dasar perairan dangkal Chah Bahar. Kehilangan Jamaran bukan sekadar kerugian material, melainkan pukulan telak terhadap moral personel Nedaja karena kapal tersebut adalah unit tempur utama yang paling sering dikerahkan dalam misi internasional.
🇺🇸🇮🇷 Satellite images show the destruction at the Chabahar/Konarak naval and airbase, eastern Iran.
A drone facility, multiple bunkers, reinforced aircraft shelters and several ships were destroyed or damaged to varying degrees. pic.twitter.com/yEjjJhLFd4
— OSINT Expert (@OsintExperts) March 1, 2026
Ironisnya, nasib yang sama juga menimpa kapal-kapal veteran peninggalan era 1960-an. Dua korvet Bayandor class, yakni IRIS Bayandor (81) dan IRIS Naghdi (82), turut menjadi korban dalam gelombang serangan yang sama. Laporan awal menunjukkan bahwa kedua kapal tua ini kemungkinan besar mengalami kegagalan mekanis akibat intensitas operasional yang dipaksakan selama berbulan-bulan sebelum konflik pecah, sehingga mereka dalam posisi tidak berdaya saat serangan udara tiba.
Selain itu, kapal fregat IRIS Alborz (71) juga terlihat dilalap api di pangkalan yang sama, memperpanjang daftar inventaris tempur Iran yang terhapus dari peta kekuatan dalam hitungan jam.
Moudge Class – Destroyer Rasa Korvet Produksi Dalam Negeri Iran
Kekacauan yang terjadi di lapangan juga mengungkap kelemahan struktural yang selama ini tersembunyi. Meskipun citra satelit pada akhir Februari menunjukkan konsentrasi kapal perang dan hampir 20 unit kapal selam di pangkalan-pangkalan utama, mereka terlihat terjebak dalam posisi pasif tanpa upaya dispersi (penyebaran) yang efektif. Fenomena ini memicu spekulasi mengenai adanya perpecahan atau kelumpuhan komando antara Angkatan Laut reguler (Nedaja) dan Angkatan Laut Garda Revolusi (IRGC/Nedsa).
Ketidakhadiran aksi gerilya laut yang biasanya menjadi doktrin utama Iran, serta sangat terbatasnya peluncuran rudal anti-kapal, mengindikasikan bahwa struktur komando yang terbagi menjadi empat organisasi berbeda telah gagal merespons situasi Shock and Awe yang diterapkan oleh AS dan Israel.
IRIS Alborz (72) – Frigat Iran Berumur Setengah Abad yang Berani Tantang Armada AS di Laut Merah
Kehancuran ini diperparah dengan serangan terhadap markas besar Angkatan Laut Iran yang dilaporkan hancur total, memutus jalur komunikasi strategis bagi kapal-kapal yang masih tersisa di laut. Meskipun Presiden AS Donald Trump mengklaim total sembilan kapal telah tenggelam, bukti visual sejauh ini mengonfirmasi setidaknya lima hingga enam unit tempur utama telah hilang.
Operasi Epic Fury tidak hanya menghancurkan besi-besi tua era Perang Dingin milik Iran, tetapi juga secara efektif “memangkas” taring angkatan laut mereka, meninggalkan tanda tanya besar mengenai kemampuan Iran untuk tetap menjadi pemain dominan di kawasan maritim Timur Tengah. (Bayu Pamungkas)
Gagal Dipulihkan, Lambung Korvet Iran IRIS Sahand 74 Justru Tenggelam Keseluruhan



Padahal tentara iran dengan teknologi,sdm, nasionalis dan fanatiknya pada pimpinannya dan dalam kondisi siaga tempur yang tinggi masih juga dengan mudah dihancurkan. Lalu melihat kondisi tentara kita dari mulai kopral sampai jenderal2nya…. 😬😬😬
sishankamrata itu doktrin kuno nan kejam ala komunis yang tega mengorbankan rakyat sipil untuk tujuan perang.kalau terjadi perang dan gw di suruh maju ke medan perang,yang ada tentara sendiri yang gw sikat lebih dulu.
penyebab lambatnya TNI berevolusi salah satunya aturan kaku nan berbelit yang sudah mendarah daging.dan sepertinya saat ini blm banyak berubah.
The U.S. will continue the operation with “ferocious, unyielding resolve,” Trump said, adding that the U.S. already has sunk 10 of Iran’s naval vessels in addition to eliminating 49 of its top leaders.
https://www.foxnews.com/politics/trump-says-us-sank-10-ships-iran-strike-last-best-chance-act
Semua negara juga numpuk kapal perang di pangkalan utama nya kali🤣aneh banget yang pada komentar
Masa iya kapal perang diparkir di pelabuhan sipil? Mau dagang ya? 🤣
Yang jadi masalah mah sistem pertahanan udara di pangkalan angkatan laut nya gimana? 🤣kalo Iran wajar aja si, di spam drone + rudal ya tenggelam
Lah Konoha? Sistem hanud apa yang melindungi pangkalan? Mungkin jarak pendek doang 🤣
Sistem jarak menengah cuman nasams di jkt
Kita pny rudal yg sulit ditandingi d m7ka bumi ini, namanya rudal korupsi, skarang semakin canggih rudalnya, bahkan sdh di uji coba pada rakyat konoha pun, rakyatnya tdk bisa berkutik, apa tdk hebat rudal transonik bukan lagi hipersonik korupsi, mantap jiwa, bahkan rudal transonik pun sdh d produksi massal, semua jabatan punya rudal transonik korupsi, amerika, china, rusia pun kalah telak di banding konoha, semua rudalnya transonik pun tidak bisa dilihat dengan mata biasa, super keren to konoha
Tuh, contoh tuh.
Numpuk kapal perang di satu atau dua pangkalan bakal dibabat habis dalam sekali tebas. Di kita hobi banget tuh yang seperti itu. Di Tanjung Perak kapal perang berderet-deret sandar baris minta diserang ala pearl harbour. Begitu pula di teluk jakarta.
Tuh contoh tuh kalo kita sangat perlu arhanud dalam jumlah besar dan berlapis-lapis.
Tuh contoh tuh kita sangat butuh rudal untuk menangkis dan membalas. Mosok riset 60 tahun nggak jadi rudal satu jenis pun.
Tuh contoh tuh. Infantri banyak itu nggak banyak guna untuk perang model sekarang. Musuh nyerang nggak harus ngedeketin kita dulu. Dari jarak ribuan kilometer musuh bisa menyerang tanpa mengorbankan personelnya.
Tuh contoh tuh.
Sishanrata (sistem pertahanan rakyat semesta) nggak banyak guna kalo negeri sudah terlanjur jadi rata. Sistem pertahanan rakyat semesta ganti saja jadi sishanmota (sistem pertahanan modal semesta) artinya pangkas budget seluruh kementerian, ambil jatah bumn dan belikan sistem rudal pertahanan berlapis.
lihat,… masih ngeyel aja pingin punya pabrik pesawat terbang yg sampai sekarang pun masih belum secara nyata produksi masal pesawat tempur baik propeler maupun jet,…. banting stir pindah riset rudal balastik dan rudal jelajah,… ini riset mode perang ya bukan mode habisin anggaran ,…