
Dalam skenario pertempuran, unit infanteri dan kavaleri dapat meminta bantuan tembakkan artileri medan dari baterai MLRS RM70 Vampire Korps Marinir. Mungkin jadi pertanyaan bagi sebagian orang, bagaimana jalur komunikasi yang dilakukan dalam ‘meminta’ bantuan tembakkan tersebut? RM70 Vampire yang bergerak dalam sistem baterai (kompi) dirancang untuk beroperasi secara terintegrasi dengan Command Post Vehicle (CPV), yakni berupa ransus (kendaraan khsusus) Aligator (bukan Alligator-red) 4×4 produksi Kerametal, manufaktur persenjataan dari Slovakia. Aligator CPV inilah yang menjadi hub komunikasi antara unit yang meminta bantuan tembakkan dan unit pucuk RM70 Vampire. (more…)

Selain tank APC M113 dan panser V-150/V-300 Commando, ada satu ranpur lain yang ikut berjibaku menggempur basis perkubuan militan pro ISIS di Marawi, Filipina Selatan. Seperti V-150, ranpur yang kondang dengan sebutan Simba ini turut berbalut wooden armor untuk menahan terjangan proyektil. Hingga satu bulan berlalu, urban warfare masih terus berkecamuk dan Marawi belum berhasil dikuasai sepenuhnya. Alih-alih justru dikabarkan ada satu unit Simba yang dirampas militan. Dibalik itu, nama Simba terbilang unik, publik mungkin lebih mengenalnya sebagai karakter dalam film kartun The Lion King (1994). Selain nama yang familier, sebagai ranpur Simba punya keunikan lain. (more…)

Satu lagi yang legendaris dalam arsenal alutsista Korps Marinir TNI AL, yakni KAPA (Kendaraan Amfibi Pengangkut Artileri) K-61. Tak salah bila K-61 disebut legendaris, Si “Penyambung Lidah Operasi Amfibi” ini usianya sudah mendekati 60 tahun beroperasi di Indonesia, mendukung banyak operasi tempur dan berperan aktif dalam beberapa kali operasi kemanusiaan, seperti evakuasi saat terjadi bencana banjir. Bahkan, sasis K-61 digunakan sebagai platform untuk membangun prototipe ranpur APC amfibi Marinir. (more…)

Ada dua hal yang jadi momok menakutkan bagi awak ranpur kavaleri Filipina dalam berperang melawan militan pro ISIS di Marawi, karena yang diterjunkan adalah ranpur (kendaraan tempur) golongan light armored vehicle, maka terkena hantaman senjata anti tank seperti RPG dan melindas ranjau bisa berujung maut. Pun jika tak hancur, akibat sengatan ranjau panser seperti V-150 Commando bakal dibuat tak berkuktik lantaran ban rusak atau terlepas. Lebih menakutkan lagi bila yang menyosor adalah RPG (Rocket Propelled Grenade), penetrasi proyektil bisa dipastikan bisa menembus body lapis baja pada panser V-150/V-300 dan tank APC M113. (more…)

Meski doktrin antara Indonesia, Filipina, Malaysia, Singapura dan Thailand berbeda, namun kelima negara Asia Tenggara ini punya kesamaan cita rasa dalam wheeled light armored vehicle, dan disatukan dalam “V-150 Commando Brotherhood” sejak dekade 70-an, menjadikan Asia Tenggara sebagai populasi panser V-150 4×4 paling besar setelah Arab Saudi. Lama tak terdengar kiprahnya di tengah-tengah kemunculan alutsista baru, pada akhir Mei 2017 lalu ingatan pada V-150 kembali mencuat setelah dua V-150 Commando berhasil ‘dikandaskan’ oleh kelompok militan Maute pro ISIS dalam pertempuran di Marawi, Filipina. (more…)

Truk yang satu ini masuk dalam kategori rantis (kendaraan taktis), meski tak dioperasikan oleh TNI, kendaraan berupa truk water cannon ini mempunyai kemampuan laksanan rantis yang dioperasikan kavaleri atau infanteri mekanis. Pasalnya water cannon tipe DWC6500 produksi Daejicar (Daeji P&I) ini dilengkapi body lapis baja, mampu menahan terjangan proyektil dan ban-nya sudah mengadopsi runflat tire, menjadikan truk ini mirip sebuah panser dengan kemampuan utama menyemprotkan air bertekanan tinggi. (more…)

Keberadaan mortir sudah jamak melengkapi arsenal senjata bantu infanteri, maka tak heran bila di setiap Batalyon Infanteri (Yonif) dipastikan ada kelengkapan mortir. Namun ada yang berbeda untuk Yonif Mekanis, di satuan infanteri yang mengandalkan mobilitas lewat ranpur (kendaraan tempur) lapis baja, mortir di deploy dalam platform ranpur, seperti yang ditunjukkan panser Anoa 6×6 Mortar Carrier milik Yonif Mekanis 201/Jaya Yudha, Kodam Jaya. (more…)

Siapa yang tak kenal dengan ranpur (kendaraan tempur) Anoa 6×6 produksi PT Pindad, karya Anak Bangsa ini sudah menorehkan prestasi yang gemilang, termasuk digunakan dalam misi Pasukan PBB di Lebanon – UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon) dan Sudan – UNAMID (United Nations Mission In Darfur). Debutnya pun tak asing di kalangan warga, lantaran panser ini kerap dipamerkan dalam defile dan ajang pemeran alutsista. Meski sebagian dari Anda mungkin sudah mahfum dengan Anoa 6×6, namun kali ini Indomiliter.com mengajak pembaca untuk lebih detail mengenal sosok panser ini, termasuk lewat sajian video eksklusif yang dapat Anda saksikan. (more…)

Korps Brimob Polri nampaknya menyukai rantis (kendaraan taktis) lapis baja lansiran Negeri Ginseng. Setelah menggunakan rantis Barracuda 4×4 yang namanya cukup lekat di telinga warga, Korps Brimob nyatanya juga menggunakan rantis lapis baja APC jenis lain, yang diketahui juga berasal dari Korea Selatan, yang dimaksud adalah DAPC (Daeji P&I Armored Personnel Carrier) 4×4 produksi Daejicar. (more…)

Setelah ada kabar bahwa Korps Marinir tak puas dengan performa ranpur (kendaraan tempur) amfibi BTR-4M, maka masa depan panser 8×8 besutan Ukraina ini menjadi tak jelas. Lima unit BTR-4M telah dikapalkan ke Indonesia untuk menjalani sesi uji fungsi, dan sedianya BTR-4M akan diakuisisi hingga jumlah 55 unit. Terlepas dari performa yang kurang optimal, tak lantas panser ini dianaktirikan, Komandan Korps Marinir (Dankormar) Mayjen TNI (Mar) Bambang Suswantono pada saat melakukan pengecekan BTR-4M di Kesatrian Marinir Hartono, Cilandak, Jakarta Selatan, Senin (17/4/2017), memerintahkan prajurit Resimen Kavaleri (Menkav) untuk senantiasa merawat kendaraan dan material tempur dengan baik. (more…)