“Menghadapi” Cina dengan Senjata Buatan Cina

Pemerintah Cina memang dengan tegas mengakui Kepulauan Natuna sebagai bagian dari wilayah NKRI, tapi lain hal dengan ZEE (Zona Ekonomi Eksklusif) di Perairan Natuna. ZEE RI yang berada bersinggungan dengan Laut Cina Selatan itu sebagian areanya dianggap sebagai traditional fishing zone oleh Cina, padahal dalam hukum laut internasional tak dikenal istilah traditional fishing zone. Klaim sepihak dari Cina ini beberapa kali menjadi sumber ketegangan hubungan diplomatik antara Jakarta dan Beijing.
Hadirnya armada kapal Penjaga Pantai Cina (China Coast Guard/CCG) yang terkesan melindungi upaya illegal fishing nelayan Cina kian menambah kisruh situasi yang terjadi di lautan. Dalam tahun ini, sudah tiga kali peristiwa ‘besar’ yang terkait penegakan hukum dilakukan aparat Indonesia. Peristiwa terakhir pada 17 Juni, dimana terjadi kejar-kejaran antara kapal perang Indonesia dengan kapal nelayan Cina, plus keterlibatan kapal CCG menghalagi kapal perang RI, hal tersebut menjadi poin titik balik bagi kesiapan TNI sebagai garda terdepan pelindung NKRI.


Baca juga: Haijing 3303: Senjata Kelas Kapal Patroli, Performa Kelas Korvet
Lanud Ranai di Pulau Natuna yang didapuk sebagai pangkalan aju, telah diperpenjang landasannya, shelter jet tempur juga sudah dibangun. Sehingga tak hanya pesawat tempur taktis Hawk 209 dan Super Tucano yang bisa mendarat mulus, saat ini satu flight F-16 Fighting Falcon TNI AU juga siap lepas landas dan mendarat dari Lanud Ranai. Begitu juga dengan perkuatan pada baterai pertahanan udara (hanud) yang ada di Natuna.

Baca juga: Laut Cina Selatan Memanas, TNI AU Gelar Garnisun Udara dari Natuna
Lepas dari itu, ada momen menarik yang layak dicermati dari insiden 17 Juni. Seperti telah dikupas pada artikel terdahulu, Komando Armabar TNI AL telah mengutus kehadiran gugus tempur terpadu ke Natuna dalam kaitan patroli sekaligus latihan di Laut Natuna dan Laut Cina Selatan. Dalam latihan yang digelar selama 12 hari, yakni dari 9 – 20 Juni 2016, TNI AL mengerahkan KRI Sultan Thaha Syaifuddin 376, KRI Sutanto 377, KRI Imam Bonjol 383, dan KRI Teuku Umar 385, keempatnya adalah jenis korvet Parchim Class buatan Jerman Timur.
Baca juga: Merespon Memanasnya Laut Cina Selatan, TNI AU Gelar Kanon Oerlikon Skyshield di Natuna
Selain itu satuan tempur laut juga diperkuat satu unit KCR (Kapal Cepat Rudal) KRI Todak 631. Dan menunjang operasi di lautan lepas, turut bergabung kapal tanker KRI Balikpapan 901. Tidak ketinggalan sebagai unsur intai dari udara disertakan pula satu unit CN-235 220 MPA (Maritim Patrol Aircraft) dari Puspenerbal.
[the_ad id=”12235″]
Bila ditelaah, umumnya tingkat kesiapan senjata pada kapal korvet Parchim tidak maksimal, banyak senjata (kanon) yang dalam kondisi rusak, torpedo yang tidak berfungsi sejak pertama kali datang dari Jerman Timur, dan sonar yang tidak berfungsi. Ini menjadikan tingkat kesiapan tempur pada Parchim Class terbilang rendah. Namun diantara keempat Parchim Class, KRI Sultan Thaha Syaifuddin 376 bisa disebut menjadi yang terdepan untuk urusan senjata. Pasalnya korvet ini yang sudah mendapat upgrade senjata pada sisi haluan, yakni dengan mengganti kanon AK-230 dengan kanon CIWS (Close In Weapon System) Type 730 buatan Norinco, Cina.

Baca juga: AK-725 – Meriam Laras Ganda Kaliber 57mm Korvet Parchim TNI AL
Sementara kehadiran rudal anti kapal diwakili pada sosok KRI Todak 631, kapal jenis FPB-57 Nav V ini menggotong dua rudal anti kapal C-705 buatan China Aerospace Science and Industry Corporation (CASIC). Meski Cina tak nampak berniat untuk mengerahkan kapal angkatan lautnya ke Perairan Natuna, menjadi menarik perhatian penulis adalah penggunaan senjata andalan buatan Cina untuk menghadapi Cina.
[the_ad id=”77299″]
Tentu kita tidak berharap meletus konflik terbuka, tapi bila toh akhirnya terjadi, rasanya perlu jadi perhatian bersama bahwa lumayan banyak alutsista TNI yang merupakan produksi Cina. Bahkan beberapa proyek pengadaan alutsista berstatus baru kini tengah dalam proses pembahasan untuk bisa dioperasikan oleh TNI. Karena bersifat alutsista andalan, bukan tak mungkin bila muncul letupan konflik, maka senjata asal Cina yang digunakan TNI yang akan dimajukan untuk menghadapi kekuatan Cina yang Adidaya di Asia Pasifik.
Dan berikut kami sarikan, beberapa alutsista produksi Cina yang digunakan oleh ketiga matra TNI, sebagian masih berstatus dipertimbangkan untuk diakuisisi. Untuk melihat detail tiap alutsista, pembaca yang budiman bisa langsung meng klik tautan pada identitas senjata.
TNI AL
– AK-630M – Kanon CIWS enam laras yang terpasang di Kapal Cepat Rudal Clurit Class
– Type 730 – Kanon CIWS tujuh laras yang terpasang di korvet Parchim Class
– C-802 – Rudal anti kapal yang terpasang di sebagian frigat Van Speijk Class
– C-705 – Rudal anti kapal yang terpasang pada Kapal Cepat Rudal jenis Clurit Class, FPB-57 Nav V, dan KCR 60 Sampari Class.
– Combat Management System – Dipercaya oleh Kemhan dan PT PAL untuk memasok CMS pada KCR Sampari Class.
Baca juga: Upgrade Alutsista, TNI AL Pilih Kanon Type 730 Untuk KRI Sampari 628 dan KRI Tombak 629
TNI AD
– QW-3 Vehicle Launcher – Rudal MANPADS sebagai pengganti rudal Grom
– TD-2000B Missile Gun Integrated Weapon System
– Radar SR-74 – Sebagai radar intai dalam paket sistem rudal QW-3
– Type 80 Giant Bow – Kanon kaliber 23 mm yang digunakan Arhanud
– PF-8 Queen Bee – Roket anti tank kaliber 120 mm
– PL-9C – Rudal hanud buatan Luoyang Electro-Optics Technology yang tengah dilirik oleh Kemhan
– Type 90/35 mm – Kanon Hanud Twin Gun yang jadi incaran dalam proyek MEF II TNI
– AF902 – Unit Pengendali Tembakan Plus Sistem Radar Hanud Kanon Type 90 dan Rudal PL-9C
TNI AU
– QW-3 – Rudal MANPADS andalan Detasemen Arhanud Paskhas TNI AU
– QW-3 Twin Launcher – Platform rudal QW-3 dengan dua peluncur
– Smart Hunter – Radar intai dan pemandu rudal QW-3
Nego Keras di Proyek Rudal Anti Kapal Nasional
Diantara beragam alutsista TNI asal Cina, bisa disebut rudal anti kapal C-705 yang paling banyak mendapat sorotan. Ini tak lain terkait rencana pembangunan produksi rudal C-705 di Indonesia oleh PT Dirgantara Indonesia. Pembangunan produksi rudal C-705 ini didasari atas ToT (Transfer of Technology) yang didapat oleh Indonesia jika melakukan pembelian C-705 dalam jumlah yang disepakati.
Baca juga: Indonesia Konfirmasi Gunakan Rudal Anti Kapal C-705 Untuk KCR60 TNI AL

Sampai saat ini proyek C-705 disebut-sebut masih terus berjalan, komunikasi antara pihak Kemhan dan SASTIND (State Administration for Science, Technology and Industry for National Defense) Cina terjalin cukup intens untuk level G to G (Government to Government), sementara untuk level Business to Business yang melibatkan kepentingan dan kebutuhan industri pelaksana, masih terdapat poin yang belum disepakati. Seperti misalnya Cina meminta Indonesia untuk membeli 100 unit C-705 dalam lima tahun agar ToT dapat diberikan. Sementara disatu sisi, daya serap (belanja rudal) TNI AL tidak akan mampu sebanyak itu.


Di lain pihak, PT DI mendorong pihak Cina untuk bisa memberikan ToT dengan tawaran Indonesia ‘hanya’ membeli 50 unit rudal C-705. Selain itu PT DI juga berharap mendapatkan lisensi atas produksi C-705, sehingga dikemudian hari PT DI dapat melakukan ekspor rudal ini. Terkait permintaan lisensi dan ekspor C-705 dari pihak Indonesia, plus pembelian yang ditekan menjadi 50 unit, kini masih dalam pengkajian oleh pihak Cina. Mereka masih harus berhitung keras atas tawaran ‘ketat’ dari Indonesia. Perlu dicatat, jika proses produksi bisa mulai dijalankan, maka 20 unit rudal pertama masih dibuat di Cina, fasilitas di PT DI hanya digunakan sebagai lini perakitan. Nah, setelah rudal ke-20 tiba, baru PT DI dapat mulai memasukkan elemen TKDN (Tingkat Kandungan Dalam Negeri).

Hingga saat ini, TNI AL telah membeli enam unit rudal C-705 yang dipasang pada KCR (Kapal Cepat Rudal), sementara 50 unit yang disebutkan diatas tentu diluar enam unit yang sudah dibeli Indonesia. Indonesia sendiri kepincut dengan rudal C-705 dengan alasan nilai ToT yang diberikan, hanya Cina yang berani memberikan ToT penuh untuk rudal anti kapal, produsen rudal lain dari Eropa Barat kebanyakan masih sebatas memberi ToT pada teknologi propelan (tenaga pendorong) rudal.
Bagaimana kelanjutan negosiasi keras ini, apakah Indonesia yang terkenal jago ‘menawar’ mampu meloloskan proses negosiasi ini? Kita tunggu saja update selanjutnya, yang terpenting pemerintah harus dapat menjamin bahwa rudal yang diakuisisi dan dibangun mempunyai kualitas yang maksimal, serta mampu menghindari upaya embargo jika kelak terjadi konfrontasi. (Haryo Adjie)



Wah ternyata tmn2 yg komentar pd cerdas2.. tp sangat di sayangkan knp sesama anak negeri msh pd suka ribut2… Pdhal ancaman nyata kita itu sendiri dr produsen C-705 itu dah jelas.. Mestinya tmn2 pd akur.. Ayo kita bersatu hajar cina yg scra nyata mau merebut LCS.
Jumlah 100 unit spt yang diisyaratkan sebenarnya tdk terlalu banyak, diasumsikan 1 kapal dimuati 4~8 rudal, maka jumlah tsb baru melengkapi sekitar 20 kaprang
Yang lebih seru adl janji TOT 100%….berapapun besarnya TOT yang dijanjikan, semuanya akan kembali kpd kapasitas daya serap dalam negri menyambut teknologi tsb.
Mari kita lihat bekal pencapaian teknologi roket yang kita miliki…berapa perfomance terbaik dari R-Han kita saat ini?
Teknologi perudalan apa yang sudah ditekuni oleh lapan, len, atau perusahaan swasta yang lain (diasumsikan pt.di bertindak sbg general contractor)?
Kita bisa menengok brazil sbg contoh terdekat, mereka mengembangkan exocet block 2 dgn lisensi mbda, tapi setidaknya brazil telah memiliki bekal teknologi propelan dan motor turbofan yang sudah matang. Bahkan satu perusahaan swasta disana mampu membuat peralatan telemetri untuk keperluan uji coba rudall (utk mengukur parameter penerbangan rudal)
Ada sekitar 5 teknologi rudal yang mendasar yaitu: (seeker system, electronic jamming system, radio altimeter, gyro stabilisation, turbofan motor) yang harus dikuasai…utk meraih seluruhnya dalam waktu singkat memang tidak mudah, butuh effort, dana dan pengembangan yang kontinyu.
Jangan sampai kita terlena dg janji TOT 100%, sementara dukungan industri dalam negri serta dana pengembangannya tidak seirama, shg kita hanya menerima teknologi seeker dan elektronik jamming yang telah ditinggalkan cina krn mereka sdh menguasai teknologi yang lebih baru sementara kita tdk memiliki kemampuan dan dana utk mengupgrade sendiri
Benar nih China sebaik itu, jangan lupa kasus TOT antara PT.Indomesin Tridaya Bangsa dgn Norinco China atas 3 jenis senjata : UW-1 RCWS, MLRS 122mm dan CIWS type 730 30mm. Ternyata China tdk ingin memberi TOT kepada Indonesia, mereka hanya concern dgn jualan saja, yaitu dgn bermitra dgn Indomesin sbg ‘rebrander’ di Indonesia. Mungkin bisa jadi seperti MJA Tech (perusahaan Indonesia) yg mempromosikan Dillon Aero M134 Minigun buatan AS, bukannya mempromosikan Eli Gun buatan Indonesia pada Indodefence terakhir.
Seperti merek Smartphone lokal, ternyata hanya tempel merek saja, tetap made-in China tapi dengan merek lokal
Indonesia senang sekali ditipu macam ini, mungkin rakyatnya juga
“Cintailah Produk Indonesia”, tapi hanya tempel merek doang, barang tetap made-in China
@autoverron
Bukankah dillon M-134 vs Eli gun adalah senjata yang sama, yang pertama produk origin sdg yang kedua adl produk lisensi dg laras tetap menggunakan buatan dillon.
Coba dicek saja apakah di Indonesia ada industri senapan militer selain Pindad…
https://indonesiansoldiers.blogspot.co.id/2016/07/top-10-most-elite-spesial-forces.html
kasih suara urutan militer indonesia gan
Kekuatan militer kok di voting ? Talent show kalee.. hehehe
mau kasih suara urutan militer indonesia. sekarang urutan 4, langsung singgah bentar di https://indonesiansoldiers.blogspot.co.id/2016/07/top-10-most-elite-spesial-forces.html
Apa yang ada di pikiran para pejabat baik sipil dan militer di bidang pertahanan mengenai hal yang diulas artikel ini?
Bukan kah klaim RRT atas LCS sudah berlangsung lama? Dan kejadian CCG dgn TNI-AL bukan kah sebenarnya dapat diprediksi dan diantisipasi jauh hari?
Gini bung dropzone sejauh pengetahuan saya pejabat tingokok tidak pernah mengklaim bahwa dirinya telah melakukan klaim terhadap kawasan tersebut, ketika isu klaim tersebut mencuat dan dipertanyakan mereka salalu mengalihkan ke isu lain. Selain itu Tiongkok adalah negara partner ekonomi terbesar Indonesia hal tersebut yg menyusabkan dalam pembuatan agau cara antisipasi yang akan dilakukan Indonesia analoginya Indonesia ini penjual sembako terus enggak mungkin dia senak udelnya melakukan tindakan2 yg mengecewakan terhadap langganan yg belinya slalu banyak. Sebenarnya kemarin Indonesia rapat di perairan natuna, memanggil duta besar adalah pretty bold move menurut saya.
Kegagalan diplomat dan intelijen kita. @bung sutekno bila kita sebagai masyarakat awam wajar bila salah langkah. Tapi ini bicara mengenai negara harusnya itu semua sudah diprediksi. Kalopun tiongkok adalah mitra dagang utama toh kita juga akhirnya sempat ‘konfrontasi’ di natuna.
Langkah kita sudah tepat tapi dpt dibilang terlambat. Masalah lcs sudah lama mencuat tapi seakan kita tutup mata dan telinga.
Ini kayak ribut2 soal Ambalat Indonesia-Malaysia & soal penanganan imigran ilegal di perairan perbatasan Indonesia-Australia. Artinya gesekkan2 kecil ini nanti akan mereda karena masing2 negara sama2 melihat kepentingan bilateral yg jauh lebih besar.
Kejadian2 gesekan seperti ini muncul, yg sebelumnya seperti nggak terdengar, karena pemerintah mulai serius ngurusi perbatasan & kelautan. RRC & negara sekitar yg mungkin cukup terkejut karena kali ini (rezim baru) kita tegas banget soal wilayah tangkapan ikan apalagi sampe hancurin kapal nelayan asing yg tertangkap melanggar. Respon Jokowi misalnya dengan rapat di perairan Natuna tidak lebih dari seminggu sejak insiden itu langkah politik yg cerdas & strategis (lihat deh gaungnya di internasional). RRC gagal prediksi itu.
Menurut saya diplomat & intelijen kita belum gagal. Disebut gagal kalo kita kehilangan perairan Natuna & opini dunia memojokkan kita. Apalagi kalo kepulauan natuna sampe diduduki RRC.
Yg gagal malah soal aspek perencanaan pengadaan alutsista. Kayak masih parsial & sektoral banget.
Kalau diplomasi dan speech act pemerintah saya anggap sudah sesuai dan tepat. Pemasalahannya bila kejadian yg sama terjadi apakah pemerintah Indonesia akan melakukan retaliation atau malah melembek. Mungkin realiation Indonesia akan merapat ke Australia, ohhh iya dari dulu saya membayangkan bila Australia merapat ke Indonesia dan Indonesia melakukan bal yg sama. Australia will provide techological sedangkan Indonesia manpower sama seperti Russia-Tiongkok yg hubungan diplomatik mereka rumit tpi ya berhsil jalan bareng….
bisa bagi2 referensinya mengenai “China tidak perlu menjamming rudal produksinya sendiri, tapi cukup kirim kode tertentu melalui radio, maka rudal C705 akan meleset.”??
mungkin ada data atau rujukan yang jadi dasarnya
Klo menurut referensi pertempuran kamu dengan bung jangkrik, saya ngak mahu kejebak debat kusir anda…maaf…hiii..ngeri…, minal aidzin wal faizin mohon maaf lahir batin semuannya warga indomiliter
hahahaha santai saja,,
cuma tanya data atau referensinya saja,
no more.
tp kalo gk mau sy gk rugi kok 😀
mungkin saja komentarnya cuma opini pribadi dan itu yg saya tangkap
@Mr.Omega
Namanya komentar itu seharusnya adalah opini Pribadi, itu yang dicari, kalau hanya NJIPLAK orang, orang itu sama dengan BDH, bisanya hanya Copas saja. no respect bagi orang yang bisanya cuma CoPas.
@jangkrik
Kaitannyan dgn copas apa?
Gk perlu pake Mr apalah, lebay banget
Memang itu opini pribadi mengena komentar bung nakedangel tp dr opini itu timbul jika ada rederensi yg jadi acuan,
Kan bgs jg saling beri referensi biar opininya jd kuat,
Kalo tanpa referensi nanti di bilang asal ngomong dll,,
@Mr. Omega
Debat Kusir Beginning……………………..
Namanya referensi itu berarti mengambil pendapat orang lain
itu sama saja dengan copas pendapat orang lain. Mr
Orang lain yang dicopas itu juga juga merupakan pendapat pribadi
kenapa tidak langsung saja pendapat pribadi masing masing
dari pendapat pribadi itu, akan bisa diukur tingkat LOGIKA seseorang, dapat diukur tingkat KECERDASANYA
dapat di ukur KECERDASANYA
mungkin bagi anda orang yang suka NGERPEK / MENCONTEK, sehinga akan terasa asing, sehingga anda menganggapnya ASAL NGOMONG
LOL
simpelnya begini biar lebih paham>
dikatakan TWR gripen lebih tinggi dari sukhoi su-35
dari situ diberikan referensi dan dipaparkan agar memperkuat opini>
dalam skripsi atau tesis timbul opini dan untuk mendukung opininya digunakan berbagai macam referensi dan rujukan agar memperkuat opininya
jika dikatakan ” tapi cukup kirim kode tertentu melalui radio, maka rudal C705 akan meleset” dasarnya apa?
kan bisa juga dipaparkan referensi yang bisa dijadikan rujukan atau dasar, misalnya di rudal c705 ada alat yang terima tranmisi kode radio
kalo belum paham ya sudahlah, 😀
kalo bertanya disebut debat kusir, kan cuma minta penjelasan
makin lama koment suka ke arah person attack, pdhl dulu katanya jgn ada person attack. jgn lupa matikan caps locknya 😀
TWR itu apa bung ?
Judul diatas adalah ““Menghadapi” Cina dengan Senjata Buatan Cina” kok tiba tiba ke TWR
OOT sekali, atau Pancingan?
Hahahahahaha, ternyata saya INGAT dulu
Sesuai dugaan saya, ternyata anda admin dari “Analisisismiliter.com”
Sepi ya disana, sudah ngak menarik lagi ditinggal @Gripen Indonesia dan @Melektech, karena sudah kamu serang secara pribadi (personal attack)
itulah anda, yang BERGANTUNG BERAT pada referensi
tidak percaya pada LOGIKA pribadi, lebih percaya pada LOGIKA orang lain yang belum tentu benar
Logika @Nakedanggel sudah saya tangkap dengan mudah.
itu berhubungan dengan yang namanya DATALINK
datalink dipancarkan melalui gelombang radio atau cara lainnya
rudal jaman sekarang pasti dilengkapi dengan datalink
dan ada berhubungan dengan CHEAT-CODE (seperti di GAME)
atau BACK-DOOR
kode rahasia yang di sisipkan ke dalam Rudal
Gunanya : pihak Produsen memberikan jaminan agar Alutsista hi-tech tersebut tidak dipergunakan melawan mereka sendiri (senjata makan tuan)
itulah kenapa kita butuh SOURCE-CODE di ToT kan, salah satunya untuk mencegah hal ini
ada pepatah yang mengatakan :
“we know, there are known knowns; there are things we know we know. We also know there are known unknowns”
INI MURNI LOGIKA SAYA, bagi anda yang “kecanduan” atau maniac Referensi, mohon maaf ya
Anda harus paham jenis referensi, ada berupa data, statistik, fakta, argumentasi, pendapat org lain yg kredibel dan di sipri termasuk data yg bahas jual.beli persejataan.
Jika pemahaman anda referensi cm pendapat atau opini org lain berarti pemahaman anda msh dangkal,
Sy bhs TWR sebagai contoh krn forum lain memberikan argumen disertai rujukan untuk.perkuat pendapatnya,
Sebelumnya bahas rudal.cina tinggal kirim kode tertentu dan hanyak andalkan logika tanpa rujukan atau referensi sama sj bicara omong kosong atau hoax
Bahas TWR bukan berarti sy admin suatu blog atau sebagainya, camkan itu baik2 tidak usah asal bicara,
Dan terakhir buat apa ada dendam sm.anda? Memang salah anda apa sm sy? Tidak ada,
Dan terakhir tidak perlu doa yg isinya tdk usah copas dll
Alasan knp butuh referensi sdh dijelaskan sebelumnya dimana ambil contoh pengerjaan tesis untuk perkuat opini selalu ada referensi
Komentar anda yg dulu2 selalu ambil rujukan untuk perkuat opini anda dan itu anda copas jg
saya hrp bung@jangkrik tidak menanggapi lagi orang ini…ya….karena akan terus berlarut larut…biarkan saja dia ngoceh ngalor ngidur…ngeri banget deh…wis…stop.
sy jg gk rugi kalo gk ditanggapi 🙂
Makin jelas ngaconya,,
Tempo.hari dituduh org warjag, skrg admin analisis militer besok apa lagi? Cape deh mas jgn kekanak2an, keliatan anda suka nuduh2 gk jelas
Tempo hari sy tanya kpn kri kelas ahmad yani pake mistral dan anda katakan tahun 90-an dan itu dari sipri,
Nah, referensi anda dari sipri,
Makin dijelaskan percuma saja kalo anda tidak.paham jg,
Jika dikatakan rudal cina bisa dijamming berarti rudal dr rusia maupun barat rawan jg,
Jika cina mampu berarti yg lainnya terlebih dahulu berkecimpung di pembuatan rudal jg mampu kirim.kode hack ke rudal mereka,
Kalo.begitu knp negara lain seperti Indonesia msh beli rudal dr negara lain hingga skrg pdhl ada resikonya?? Jika alasan blm ada tot rudal beli rudal dari luar rawan jg
Logika anda msh rawan, jika anda bilang Gunanya : pihak Produsen memberikan jaminan agar Alutsista hi-tech tersebut tidak dipergunakan melawan mereka sendiri (senjata makan tuan) berarti rudal mereka bisa gk laku krn gampang di beri.cheat kode, krn anda sj bisa tahu apalagi yg berkecimpung di.militer tidak mungkin tidak tahu
Siapa yang bilang warjag ? saya bilang dulu dari warga sebelah kan ?
jangan suka korupsi bro ? hahahaha
Anda tahu TWR Gripen dan Su-35 dari mana ha…. ?
disini ngak bahas TWR bro…hahahaha…..ketahuan ya ?
Dendam ya ? hahahaha
itulah anda, selalu diputar putar ngak karuan
yang di sipri itu INFO Jual-Beli, bukan PENDAPAT / OPINI orang
sama juga Spesifikasi dari pabrik
anda memang suka debat kusir. apa saja dipengang secara ngawur
jangan suka kecanduan ngerpek opini orang bro, LOGIKA anda jadi PENDEK
memang Rawan bro……..
maka dari itu Inggris,Korea Selatan, dan negara maju lain mati matian ingin mendapatkan SOURCE CODE barang Impor mereka.
Kuncinya hanya MANDIRI
Jelas Laku bro, karena mereka tetap butuh karena mereka yang impor ngak mampu untuk memproduksi sendiri (anak SD pun tahu itu bro)
Baca lagi pepatah dibawah ini :
“we know, there are known knowns; there are things we know we know. We also know there are known unknowns”
Mumpung masih suasana Lebaran, saya Doakan anda Sadar bahwa NGERPEK / COPAS adalah perbuatan tidak baik
Percayalah pada diri sendiri, MANDIRI itu baik buat kesehatan bro
Amin……………
mohon semuanya tak usahlah dilanjutkan, saya tau kok pasti hasilnya kayak begini…hi…ngeriiii…setuju….
orang aneh.
orang lain ada komentar – ada sanggahan. eeeeee. ini malah minta referensi jangn ditanggapi aja
😀
contoh admin beri info jangkauan tembak c-705 kisaran 75-80 km dan beri rujukan agar infonya lebih jelas
itu gunanya
apa bedanya di luar koar2 punya su-35, kilo dkk, minta bukti atau referensinya sampe skrg gk ada dan itu namanya hoax
itu sekedar contoh sj 🙂
Orang sinting
rujukannya punya admin sendiri
emang benar, you raja debat ngawur
misal koe jadi guru mana bisa koe bisa ngukur kecerdasan murid kalau murid tsb nyontek
bangga dapat nilai C tapi hasil sendiri daripada dapat A tapi nyontek, bangga dikatakan dangkal tapi hasil pikiran sendiri, daripada nyontek dari pemikiran orang tanpa ada usaha mikir sendiri
Min kalau rudal c-705 di tambahkan roket booster bisa di tambah seberapa jauh jangkauannya?
C-705 mempunyai jangkauan tembak antara 75-80 Km tanpa roket booster, sedangkan bila ditambahkan roket booster jangkauan bisa terdongkrak hingga 170 Km. Info lengkapnya bisa dilihat di http://www.indomiliter.com/c-705-rudal-pamungkas-andalan-kapal-cepat-tni-al/
Sebaiknya joint sama swedia aja. Sepertinya mereka mau ToT RBS nya
Vote RBS-15 untuk R.E. Martadinata class.
Untuk Pak Menhan, mohon agar program pengadaan alutsistra strategis seperti rudal anti kapal C-705 di hold dulu, soal traditional fishing zone harus clear dulu sebelum beli2 senjata dari Cina. Tentu rakyat tidak ingin alutsista yang dibeli mahal2 jadi mangkrak saat adanya konflik dengan negara penjual. Akan lebih baik jangan mempercayakan pengembangan alutsista strategis ke negara yang berpotensi konflik terbuka dengan Indonesia. Masih mending ambil produk Israel dalam hal ini. Terima kasih
Skandinavia lebih aman. Prancis juga ok. 😀
Mau ditambah in anggarannya buat tahun depan, jadi bisa beli 100 buah C-750, syukur syukur cuma beli dikit bisa ToT banyak. 100 missile jumlah yang sangat banyak. Latihan tiap tahun aja paling kepake nggak sampe 5 buah.
Sorry, C-705 maksudnya
liat judulnya diatas bung
Seharusnya pemerintah dan TNI belanja alut sista Hanud tdk hanya berkutat di Shorad seolah tak ada kemajuan, seperti tank/panser yg hanya dklengkapi dengan canon cockrill 90 LP yg firepowernya rendah,p padahal ada yg 90MP
Minimal Natuna dilengkapi Hanud BUK M3 dan Rudal antikapal Bastion/Yakhont versi pantai (coastal ) yg tentunya punya efek daya gentar, jika cuma sebatas pertahanan terbatas tentu musuh tak ragu utk merebut lahan kita yg tercinta.
“Maksud hati ingin memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai”
Lupakan saja Buk M3. Pilihan untuk medium range SAM kini antara NASSAMS vs trio Cina (HQ-16, HQ-12 & Skydragon 50)
TNI AL sdh memutuskan tdk bakalan make Yakhnot atopun platform land based yaitu Bastion. Mubazir & buang2 duit. Radar OTHT & midcourse guidance yg trpasang pd CN-235 MPA & heli Phanter bikinan Thales tdk kompatibel sama Yakhnot. Ujung2nx tdk memcapai target alias nyemplung duluan. Kl mau opsi terbaik & kompatibel dgn yang dmiliki TNI AL saat ini tdk lain adalah RBS-15
apakah AIM-120 pada NASSAMS bisa langsung dipakai pada pesawat tempur bung @jago ?
kalau ya, saya jagokan NASSAMS, karena bisa share dengan pesawat tempur,
RBS-15 saya suka ToT nya, bahkan cukup Propelan dan Maintenace saja saya senang, mengingat kita beli pasti ngak banyak
Justru salah besar menurut saya jika berinvestasi secara gak proporsional dgn alutsista di pulau natuna. Menurut artikel di atas, yg tumpang tindih tuh ZEE kita dgn traditional fishing zone mereka. Lagian kalau andaikata terjadi peristiwa yg benar2 memicu perang (jgn sampai) antar kedua negara, apa iya natuna jadi prioritas serangan? Berinvestasi pd kapal permukaan dan kapsel lebih bijak menurut saya.
Sisanya saya setuju bung dgn pendapat anda, akuisi shorad dan leopard adalah hal paling menggelikan menuraitkan dgn militarmy requirement dlm merespon situasi kawasan saat ini.
Mohon maklum, ngetik sambil ngobrol dgn kembang desa. Hehehe
buatan Rusia pun demikian.
China sudah hafal betul produk/teknologi Rusia
Rusia merupakan RUJUKAN teknologi China
agak Konyol bila untuk menghadapi China menggunakan made-in Rusia
China sudah punya Su-35, tentunya sudah dibongkar dan dipelajari
China tidak perlu menjamming rudal produksinya sendiri, tapi cukup kirim kode tertentu melalui radio, maka rudal C705 akan meleset.
jadi China tidak perlu mengirim kapal tempurnya, cukup kapal CCG saja untuk menghadapi kapal TNI-AL yang memakai rudal buatannya.
Senjata makan tuan. .
Itu dia yang menjadi tanda tanya besar untuk alutsista kita. Bisa dilihat sendiri untuk air defence baik AA gun, CIWS, dan V/SHORAD kebanyakan dari China sedangkan tanpa air defence buatan China progress pengadaan alutsista kita seolah tanpa kemajuan. Semoga saja untuk Medium range SAM bukan dari China (Lagi).