Apa yang sedang dikembangkan Cina telah menarik perhatian dunia: sebuah teknologi revolusioner yang dikenal sebagai Quantum Radar. Sistem radar ini menggunakan prinsip-prinsip fisika kuantum yang canggih, seperti belitan kuantum dan deteksi foton tunggal, untuk mengatasi keterbatasan radar konvensional. Klaim utamanya adalah kemampuannya untuk mendeteksi dan melacak pesawat tempur siluman (stealth fighters), seperti F-22 dan F-35 AS, yang selama ini dianggap tak terlihat. Inovasi ini menandai pergeseran signifikan dalam teknologi pertahanan udara modern.
Meski telah mampu memproduksi pesawat tanker Xian YY-20 (sebelumnya dikenal oleh pengamat militer sebagai Y-20U atau YU-20), Cina dikabarkan telah memesan pembelian 20 unit pesawat tanker Ilyushin Il-78MK-90A baru dari Rusia. Berita ini cukup mengejutkan dan menciptakan spekulasi bila Cina tidak puas dengan kemampuan YY-20. (more…)
Sebagai salah satu upaya untuk terus mengejar modernisasi militer yang dipercepat dengan target menjadi kekuatan militer “kelas dunia” pada tahun 2049, Cina ‘ogah ngerem’. Belakangan, Cina baru saja memperkenalkan tank tempur utama generasi baru yang sangat canggih, Type 100.
Dari atas ke bawah – F-35, Chengdu J-20 dan Sukhoi Su-57.
Layaknya sayur dan garam, kekuatan militer sebuah negara tidak bisa dipisahkan dengan kepemilikan jet tempur. Hadirnya si burung besi ini jelas menambah daya gempur pada saat gencatan senjata – atau mungkin hanya sekadar misi spionase. Pertanyaan mulai muncul: Siapa negara yang memiliki pesawat tempur paling banyak di dunia? Apakah dengan banyaknya pesawat tempur yang dimiliki suatu negara akan serta merta meningkatkan ‘daya dobrak’ mereka ketika sedang perang?
Rupanya konsep hit and run bukan hanya diadopsi oleh Satuan Kapal Cepat TNI AL, meski punya armada laut yang cukup kuat, Cina tidak melupakan kehadiran KCR (Kapal Cepat Rudal). Dan selain heboh atas akuisisi jet tempur Chengdu J-10, kini bergulir kabar Indonesia yang tengah melirik KCR berlambung katamaran dari Cina.
Meski wajar dari sudut pandang strategis pertahanan Indonesia, keputusan akuisisi jet tempur buatan Cina, Chengdu J-10C kontroversial dari sudut pandang geopolitik. Kontroversi bukan karena Indonesia membeli senjata, melainkan karena ‘pencampuran’ teknologi Barat dan Cina, serta pesan bahwa Indonesia serius menjaga keseimbangan kekuatan, yang tidak akan sepenuhnya terikat dalam orbit Barat. (more…)
Spekulasi tentang akuisisi 42 unit jet tempur Chengdu J-10 Vigorous Dragon terasa kian menguat, khususnya setelah Menteri Pertahanan (Menhan) Sjafrie Sjamsoeddin mengakui, TNI AU melalui Kemenhan akan membeli jet tempur Chengdu J-10 dari Cina. Bahkan, Sjafrie membenarkan, jet tempur generasi 4,5 tidak lama lagi tiba di Jakarta. (more…)
Bersama Uni Emirat Arab (UEA), Arab Saudi adalah launch customer ekspor drone tempur (UCAV) Wing Loong II. Dan di tangan kedua negara kaya minyak, Wing Loong II sudah kenyang dalam pelibatan operasi militer dengan intensitas di atas standar. Menandai hal tersebut, tercermin dari pencapaian ribuan jam terbang Wing Loong II atas operasional yang tinggi. (more…)
Dalam skenario invasi, setelah operasi amfibi berhasil dilakukan dengan dukungan kekuatan laut dan udara, maka tahap lanjutan adalah pengiriman bekal logistik. Meski tidak ada yang tahu kapan persisnya Cina akan melancarkan invasi ke Taiwan, namun skenario penyediaan dan pengiriman logistik dalam jumlah besar dari laut telah ‘terbaca’ lewat keberadaan tongkang pendarat raksasa. (more…)
Mengikuti langkah Israel, Presiden Taiwan, Lai Ching-te, secara resmi mengumumkan dan memperkenalkan nama “T-Dome” dalam pidatonya pada Hari Nasional (Double Ten Day) Taiwan pada tanggal 10 Oktober 2025. (more…)