Runtuhnya ‘Payung Cina’ di Langit Iran: Kegagalan HQ-9B dalam Operasi Epic Fury dan Bayang-Bayang Krisis Taiwan

Kehancuran sistem pertahanan udara (hanud) Iran dalam menghadapi keganasan operasi “Epic Fury” baru-baru ini telah memicu perdebatan sengit di kalangan pengamat militer. Pasca serangan Israel bertajuk Rising Lion pada tahun 2025, Teheran sebenarnya telah berupaya membentengi ruang udaranya dengan mengakuisisi alutsista tercanggih dari Beijing.
Namun, gempuran gabungan Amerika Serikat dan Israel baru-baru ini justru menyingkap kerentanan fatal dari sistem HQ-9B dan radar YLC-8B yang selama ini dipasarkan sebagai “pembunuh pesawat siluman.”
Laporan dari analis pertahanan Andrey Pomdezh menyebutkan bahwa sistem HQ-9B Iran terbukti tidak berdaya melindungi fasilitas kunci dari serangan presisi masif. Padahal, sistem ini digadang-gadang mampu mendeteksi dan mengunci target jarak jauh seperti pembom B-2 dan jet tempur stealth F-35.
Realita di lapangan menunjukkan bahwa satu batalyon HQ-9B di dekat Teheran berhasil dilumpuhkan atau dihancurkan hanya dalam hitungan jam pertama serangan. Radar YLC-8B, yang diklaim tahan terhadap gangguan (jamming), nyatanya gagal memberikan pelacakan target yang konsisten saat berhadapan dengan pesawat peperangan elektronik EA-18G Growler.
Iran Diduga Telah Menerima Batch Perdana Sistem Rudal Hanud S-400 dari Rusia
Kegagalan ini menjadi tamparan keras bagi reputasi ekspor militer Cina. Dalam operasi tersebut, AS dan Israel menggunakan kombinasi mematikan antara pembom siluman B-2, jet F-35, dan rudal jelajah Tomahawk. Meskipun Beijing mengklaim sistem mereka memiliki ketahanan tinggi, versi ekspor HQ-9B terbukti masih inferior dibandingkan dengan sistem penetrasi pertahanan udara milik Barat yang mengintegrasikan senjata presisi dengan peperangan elektronik tingkat tinggi.
Bagi Beijing, insiden ini bukan sekadar kerugian citra sebagai pemasok senjata, tetapi juga sinyal peringatan dini. Operasi di Iran secara tidak langsung menjadi medan uji coba bagi metode AS dalam melumpuhkan teknologi pertahanan Cina. Mengingat Cina menargetkan kesiapan militer terkait skenario Taiwan pada tahun 2027, data mengenai bagaimana teknologi mereka disingkap dan ditekan di dunia nyata menjadi temuan yang sangat mengkhawatirkan bagi Beijing.
Perisai Baru Iran: Radar YLC-8B Cina Kini Bisa Deteksi B-2 Spirit di Jarak 700 Km
Di tengah reruntuhan pertahanan udara ini, terungkap fakta pada pertengahan tahun 2025, Presiden Rusia Vladimir Putin secara terbuka menyatakan bahwa Rusia telah menawarkan proyek kerja sama sistem pertahanan udara kepada Iran. Namun, secara mengejutkan, Teheran menunjukkan ketertarikan yang sangat minim. Putin menegaskan bahwa kesepakatan kemitraan strategis mereka tidak memuat pasal pertahanan karena pihak Iran tidak memintanya.
“Rekan-rekan kami tidak menunjukkan minat yang besar saat itu,” ungkap Putin dalam pertemuan dengan TASS. Keengganan Iran untuk mengadopsi sistem Rusia—seperti S-400 yang lebih teruji—dan justru lebih memilih “payung” dari Cina kini dipandang sebagai salah langkah strategis yang fatal. Meskipun Iran juga mengoperasikan sistem lokal seperti Bavar-373 dan Khordad-15, serta sisa-sisa S-300 Rusia, integrasi sistem buatan Cina yang gagal tetap menjadi titik lemah utama yang dieksploitasi oleh lawan.
Hancurkan Jet Tempur Lawan dari Jarak 300 Km, Iran Punya Sistem Hanud Bavar-373 dengan Rudal Sayyad
Kegagalan total HQ-9B dan radar YLC-8B memberikan pelajaran berharga sekaligus pahit bagi Beijing. Jika Cina ingin menghindari skenario serupa terjadi di pantainya sendiri, mereka harus segera memperkuat arsitektur pertahanan mereka, mendesain ulang lini ekspor HQ-9 dan HQ-22, serta mengembangkan sistem yang lebih tangguh terhadap peperangan elektronik.
Operasi Epic Fury telah membuktikan bahwa dalam perang modern, keberadaan senjata canggih di atas kertas tidak menjamin keamanan jika tidak mampu beradaptasi dengan taktik penetrasi udara yang kian kompleks. (Bayu Pamungkas)
Inilah “9-Dey” – Sistem Rudal Hanud Jarak Dekat Produksi Iran yang Dipasang pada Platform Ransus 6×6



Growler memang canggih. Seharusnya kita beli Growler daripada F-15. Satu skuadron saja. Yang penting punya.
Baru mau ngomong. Kalo EA 18G Growler secanggih itu (apalagi yang block 3 ya ynag infonya punya fitur peperangan elektronik terbaru) dan limited, kenapa hanya RAAF yang dapet ijin beli ya?
Russia setau saya punya pod peeprangan elektronik KNIRTI yang embuh nasibnya bagaimana. Kayanya useless. Entah salah strategi atau emang salah barang?
Gagalnya Radar+Hanud Russia,RRC di Venezuela sudah jelas karena Konspirasi✓
Gagal di IRAN…sudah jelas-jelas barang KW/Export RRC = RONGSOKAN!
Kasihan Iran seperti tidak punya Payung Udara sama sekali😭
dijunjung pakistan dijatuhkan negara lain
Perlu di catat : radar secanggih apapun terutama radar pertahanan udara walaupun pakai teknologi eccm (elektronik counter counter measures ) dan anti jamming bakal jadi sasaran perang elektronik seperti pesawat peperangan elektronik dan rudal anti radiasi.
Maka nya ada doktrin nyalakan radar buat memindai dalam waktu singkat lalu matikan kemudian pindah tempat.
Tapi jika sinyal radar udah di copy paste oleh musuh (musuh sudah tau karakteristik) , ya udah end game, pakai taktik apapun juga gak guna karena radar akan di banjiri dengan sinyal pantulan copy paste tadi dari pesawat peperangan elektronik musuh.
Catatan : sangat sedikit negara punya kemampuan pesawat peperangan elektronik canggih, rusia kalo punya kemampuan setara Amerika, udah dari lama pertahanan udara nato di jebol lalu Sukhoi sama mig rusia menari nari melepaskan telur di udara ukraina 🤭🤣
Yang jadi pertanyaan udah secanggih apa ketahanan sistem pertahanan udara rusia + China menghadapi pesawat peperangan elektronik AS? Terutama China yang juga punya armada jet tempur peperangan elektronik 🤔
Yang cukup menarik armada jet tempur ea 18 glowler itu sama kaya f22 raptor (limited Edision) gak di ekspor, tapi menarik nya Australia bisa mendapatkan ea 18 glowler kalo ga salah
Tapi Yang di takut kan dari China bukan soal kecanggihan alutsista nya, tapi negara ini lebih modern soal militer dibandingkan Iran + rudal rudal China itu yang lebih menakutkan + produksi drone terbesar saat ini ya China🤣