Shahed Drone SeriesKlik di Atas

Disebut Setara S-400, Mesir Telah Operasikan Sistem Rudal Hanud Jarak Jauh HQ-9B Buatan Cina

Punya ancaman berperang dengan militer terkuat di Timur Tengah, ditambah pelajaran dari apa yang dialami Iran ketika hanudnya dibuat tak berdaya saat menghadapi serangan udara dari Israel, maka Mesir untuk perlu meracik komposisi sistem rudal pertahanan udara (hanud) yang berbeda, dan setidaknya dapat membuat Tel Aviv segan.

Baca juga: Israel Serang Rafah, Mesir Siagakan Rudal Hanud “Tayir as Sabah” ke Wilayah Perbatasan

Setelah rumornya terendus sejak tahun 2017, maka baru pada tahun ini, muncul keterangan bahwa sistem hanud Mesir telah mengoperasikan HQ-9B long-range surface to air missile system buatan Cina, yang digadang-gadang punya kemampuan setara S-400 buatan Rusia.

Sebagaimana dilaporkan oleh Military Africa pada tanggal 2 Juli 2025, Mesir telah mengakui pengerahan sistem rudal hanud jarak jauh HQ-9B sejak bulan April 2025. Pengumuman tersebut disampaikan oleh Mayor Jenderal Purnawirawan Samir Farag selama wawancara di Sada El-Balad TV, di mana ia menyatakan bahwa jaringan pertahanan udara Mesir mencakup sistem modern seperti HQ-9B, yang digambarkan sebanding dengan S-400 Rusia.

Hal tersebut mengikuti laporan sebelumnya bahwa Mesir mengoperasikan sistem tersebut, termasuk lewat pengamatan pergerakan logistik yang melibatkan pesawat Il-76MF Mesir yang kembali dari Cina melalui Pakistan pada bulan Juli 2025. HQ-9B kini secara resmi diakui sebagai komponen sistem pertahanan udara berlapis milik Mesir, yang mencakup produk buatan Rusia, Barat, dan kini Cina.

HQ-9B adalah sistem rudal hanud jarak jauh yang dikembangkan oleh China Precision Machinery Import and Export Corporation (CPMIEC). CPMIEC merupakan bagian dari China Aerospace Science and Industry Corporation (CASIC) — konglomerat pertahanan milik negara yang memproduksi berbagai sistem rudal.

Sistem HQ-9B memiliki kemampuan untuk mendeteksi dan menghancurkan berbagai ancaman udara, termasuk pesawat tempur, rudal jelajah, rudal balistik taktis, dan drone.

Tandingi THAAD, Cina Tampilkan Sistem Pertahanan Udara Anti Rudal Balistik HQ-19 untuk Pasar Ekspor

Dengan jangkauan hingga 260 km dan ketinggian intersepsi lebih dari 27 km, HQ-9B dilengkapi dengan dukungan radar phased-array 3D HT-233 yang mampu melacak hingga 100 target dan menyerang 6 hingga 8 target secara simultan.

HQ-9B adalah versi upgrade dari HQ-9A, dengan peningkatan pada radar, jangkauan, dan kemampuan anti-rudal balistik. Ini adalah sistem multi-peran yang mampu menghadapi berbagai ancaman.

Dikutip dari Armyrecognition, Mesir telah mengakuisisi empat baterai (kompi) sistem pertahanan udara jarak jauh HQ-9B. Yang mana setiap baterai terdiri dari 6 hingga 8 peluncur (transporter erector launcher/TEL), sehingga totalnya mencapai sekitar 24 hingga 32 peluncur.

Sistem rudal hanud HQ-9

Sedangkan satu kompi sistem HQ-9B, terdiri dari 1 unit kendaraan radar kontrol tembak HT-233 (phased array radar), 1 kendaraan radar akuisisi target jarak jauh (seperti radar TWS-312), 1 kendaraan kendali komando, 4–6 peluncur transporter-erector-launcher (TEL) dan Kendaraan dukungan logistik dan pasokan rudal.

Meskipun jumlah pasti rudal yang dibeli tidak diumumkan secara resmi, laporan dari forum pertahanan menyebutkan bahwa Mesir memperoleh dua batalion HQ-9BE, dengan total 1.152 rudal (576 rudal per batalion). Namun, informasi ini belum dikonfirmasi oleh sumber resmi dan perlu diverifikasi lebih lanjut. HQ-9BE adalah varian eskpor dengan estimasi jangkauan 220–250 km.

HQ-9B punya kecepatan Mach 4,2 hingga Mach 4,5. Dengan kecepatan tersebut, rudal HQ-9B mampu mencegat target yang bermanuver tinggi, termasuk rudal balistik jarak pendek dan pesawat tempur generasi keempat atau kelima.

Sistem hanud rudal HQ-9B memang sering disebut berasal dari hasil reverse engineering sistem S-300PMU buatan Rusia, khususnya varian S-300V dan S-300PMU1, meskipun tanpa lisensi resmi. Namun, HQ-9B juga mengintegrasikan teknologi lokal dan elemen dari sistem Barat, terutama dari rudal Patriot yang diperoleh secara tidak langsung dari Timur Tengah (melalui observasi dan kemungkinan akuisisi teknologi melalui ekspor). (Gilang Perdana)

Ibarat Bisul Mulai Pecah, Rusia Keluhkan ‘Pencurian’ Karya Cipta Alutsista oleh Cina

One Comment