Indonesia dan Australia – Negara Bertetangga dengan Kekuatan Rudal Balistik Jarak Pendek Modern

Meski tak ‘seangker’ postur militer negara-negara di Timur Tengah, namun, adopsi rudal balistik jarak pendek (Short Range Ballistic Missile/ SRBM) sudah dikenal secara terbatas di Asia Tenggara, seperti Vietnam yang mengoperasikan rudal Scud (Soviet era) dan varian Korea Utara seperti Hwasong-6, dengan jangkauan antara 300–500 km. Nah, belakangan Indonesia dan negara tetangga di selatan (Australia) ikut bergabung meramaikan pasar pengguna SRBM di kawasan ini.
Baca juga: Tingkatkan Fire Power, Armed AD Australia Akan Diperkuat 20 Unit M142 HIMARS
Meski tidak ada indikasi provokasi di antara kedua negara, tapi akuisisi Australia atas rudal balistik M57 ATACMS (Army Tactical Missile System) dan Indonesia yang mengakuisisi rudal balistik Khan buatan Roketsan (Turki), menjadi menarik untuk dicermati, terlebih kedua jenis rudal dapat memberikan efek deteren dengan nilai strategis, khususnya bila hubungan Indonesia – Australia memanas.
ATACMS yang bagian dari sistem senjata M142 HIMARS (High Mobility Artillery Rocket System), potensial ditempatkan di Pulau Christmast atau Darwin, yang selain disiapkan untuk sistem pertahanan pantai, dapat menjangkau wilayah pesisir Indonesia.
Secara umum, ATACMS dan Khan berada di kelas yang sama — yaitu rudal balistik jarak pendek (SRBM) yang diluncurkan dari peluncur darat — tapi ada perbedaan penting dalam jangkauan, akurasi, platform peluncur, dan sejarah penggunaannya.
Persamaan ATACMS dan Khan, dapat diluncurkan dari sistem peluncur roket darat (HIMARS atau M270 untuk ATACMS, dan peluncur BORA/Khan). Kedua rudal menggunakan pemandu inersia dan GPS untuk meningkatkan akurasi (CEP relatif kecil). Kedua rudal menargetkan infrastruktur strategis, pusat komando, landasan udara, dan konsentrasi pasukan.
Dari lembar spesifikasi, Khan sedikit lebih unggul di akurasi (≤10 m CEP) karena sistem navigasinya lebih modern dari generasi awal ATACMS. Namun jangkauan keduanya hampir setara (280 km vs. 300 km), ATACMS varian awal punya jangkauan lebih pendek.

Dalam aspek pengalaman tempur, ATACMS sudah teruji di banyak konflik (Perang Teluk, Irak, Ukraina), sedangkan Khan masih relatif baru di lapangan. ATACMS bisa ditembakkan dari HIMARS atau M270 yang multirole, sedangkan rudal Khan biasanya pakai peluncur khusus buatan Roketsan.
Pada Mei 2022, Australia menyetujui pembelian 20 peluncur M142 HIMARS beserta 10 roket unitary M57 ATACMS, dalam nilai kontrak sekitar Aus$545 juta (sekitar US$385 juta). M57 adalah salah satu varian dalam keluarga MGM-140, tapi menggunakan hulu ledak unitary tunggal (bukan cluster).
Talisman Sabre 2025 – Australia Untuk Pertama Kalinya Lakukan Uji Penembakan M142 HIMARS
M57 ATACMS punya jangkauan sekitar 300 km, dan dilengkapi hulu ledak: 500 lb (sekitar 227 kg) unitary high-explosive WDU-18/B (mirip Mk 142). Tujuan: serangan tepat terhadap target strategis seperti bunker, markas komando, jembatan, dan landasan udara tanpa risiko penyebaran submunisi. M57 sering disebut juga ATACMS Block IA Unitary.
Total HIMARS yang dipesan Australia kemudian bertambah melalui batch kedua disetujui pada Agustus 2023, sehingga jumlah peluncur menjadi 42 unit, dan mencakup berbagai jenis amunisi termasuk ATACMS, GMLRS (Guided Multiple Launch Rocket System – Extended Range, dan PrSM (Precision Strike Missile). Namun jumlah ATACMS secara spesifik disebut awalnya 10 unit.
HIMARS pertama (2 unit dari total 42) telah tiba di Australia pada Maret 2025, menjelang Avalon International Airshow.Seluruh 42 HIMARS dijadwalkan tiba sepenuhnya sebelum akhir tahun 2027.
Sementara, rudal Khan buatan Turki (varian ekspor dari Bora / ITBM-600) memang sudah tiba dan ditempatkan di Indonesia, yaitu di Kalimantan Timur. Pada 1 Agustus 2025, platform kendaraan peluncur rudal Khan terlihat di Markas Batalyon Artileri Medan ke-18 (Yonarmed 18/Buritkang), di Raipur A, Kalimantan Timur.
Turkey’s KHAN ballistic missile systems have arrived in Indonesia under a 2022 deal. First units spotted in East Kalimantan.
KHAN, built by Roketsan, has a 280 km range—suitable for defense, not offense. Unlike Typhon systems in the Philippines, these missiles can’t reach China.… pic.twitter.com/57NuNj4jPc
— Rybar Pacific (@rybar_pacific) August 3, 2025
Foto-foto penempatan ini dilaporkan oleh akun media pertahanan Sahabat Keris dan dikonfirmasi oleh beberapa media pertahanan. Pabrikan asal Turki, Roketsan, sendiri menyebut bahwa Indonesia adalah pengguna ekspor pertama dari sistem Khan ini. (Gilang Perdana)
Dijadwalkan Tiba Tahun 2025, Inilah Kendaraan Peluncur Rudal Khan yang Disebut Pesanan Indonesia



Walaupun first export customer, setidaknya harus dapet ilmunya untuk pengembangan swadesi
Coba test dong.wkkkkwkk
Dipasang di dek heli kapal LPD kayaknya ampuh juga ya. Tinggal nyari kapal selam peluncur rudal balistik dan uji peluncuran rudal balistik via pesawat tempur. Udah jadi rudal hipersonik itu.
Mulai terlihat benang merahnya kenapa borong pespur Kaan & mudahnya dapet ote2 rudal & drone dari Turkiye, mantaf lah dapat ilmu rudalnya, tinggal pake jurus mak eros buat gedein nya, masuk club negara produksi rudal kayak Korut👍💪😁